PART 42
Part B
POV SUAMI
Saya pun segera menjalankan mesin dan keluar dari parkiran mengikuti mobil si Tirta. Jalanan cukup padat terutama di sekitaran mall. Saya lihat langit gelap, sepertinya mau turun hujan.
Saya:”Mendung ya Lun?
Luna:”Ia mas, kayaknya mau hujan ya, enak nich”
Saya:”Enak gimana, kalau hujan malah gak nyaman perjalanan, macet lagi”
Luna:”Enak, kan dingin, dingin-dingin itu paling enak kalau ngewe hihi”
Saya:”Hehe, ya mudah-mudah pas di rumah nanti tetap hujan ya"
Luna:”Amiin hihi”
Saya:”Pelan banget mereka ya?
Luna:”Kan lumayan macet mas”
Saya:”Tapi gak kayak gini juga” Saya lihat Tirta begitu pelan menjalankan mobilnya.
Luna:”Mas Kenapa? Khawatir ya istrinya diapa-apain? Hehe, kan udah ada perjanjian dan dibayar hihi”
Saya:”Tetap aza, gimana ya Lun”
Luna:”Itu artinya kamu tetap sayang dan cinta sama istrimu mas, udah yang penting istrimu menikmati juga”
Saya:”Kalau begitu biar aku menikmatin kamu juga hehe”
Luna:”Yiah, ke situ, tapi aku ready koq hehe” ucap Luna sambil tersenyum genit.
Saya pun segera membuka celana resleting saya. Tangan Luna segera merogoh ke dalam dan mengeluarkan kontol saya dari dalam cd.
Luna:” udah ngaceng mas, panjang dan besar” ucap Luna yg lalu menyingsingkan hijabnya dan lalu mencaplok kontol saya.
Sluruuup…slurruuuup
Luna mulai menjilati kontol saya dan perlahan naik ke kepala kontol saya, saluran kencing saya pun dijilatinya.
Saya:” aaaahhh , enak Lun”
Luna:”Ini kanjut yang tadi siang udah ngobrak-ngabrik momok aku,hihi” ucap Luna tentu untuk menaikan birahi saya.
Luna:”Kepalanya unggu seperti jamur hehe, tadi siang udah menodai momok aku dan merampas kehormatan aku, bikin memek aku perih hihi” ucapLuna sambil lidahnya menggelitik liang kencingku.
Saya:”Aaah enak sayang uuuhh geli uuuh”
Luna:”Konsen nyetirnya mas hehe, aku mau mimic es cream dulu” ucapnya sambil mencaplok kepala kontol saya lalu mulai memaju mundurkan di mulutnya.
Luna menatap saya dengan tatapan nakal dan binal. Luna pun berusaha memasukan seluruh kontol saya ke dalam mulutnya, walaupun tidak bisa masuk semua masih tersisa sebagian meski dia sampai mengeluarkan air mata.
Luna pun kemudian menjilati buah zakar saya dan bahkan dicaplok hingga masuk semua ke dalam mulutnya.
Saya:”Aaaakh, terus Lun, uughh, enak uuuh isep lagi sayang” ucap saya sambil terus konsen untuk nyetir, saya pun semakin perlahan menjalankan mobil saya. Kaca Mobil yang cukup gelap sampai lebih dari 50% membuat saya leluasa.
Luna pun kembali memasukan kontol saya ke dalam mulutnya. Saya pun menekan kepalanya supaya kontol saya masuk semakin dalam…
Luna:”Mmmopppppm….aaaaah”
Saya:”Oh Enak Lun aku bisa keluar ini”
Luna:”Mmmmpz” sambil menganggukan kepalanya, mungkin memberi tahu untuk keluarkan saja.
Luna pun semakin mempercepat gerakan memaju mundurkan kepalanya. Hingga saya pun tak tahan lagi dan saya pun memegang kepala Luna dan saya tembakan sprema saya di dalam mulutnya. Luna tampak melotot saya tak mengerti maksudnya dan mendorong saya. Saya pun segera menarik kontol saya keluar dari mulutnya.
Tampak Luna terengah-engah dan terbatuk-batuk beberapa kali.
Luna:”Mas, koq main tembakan aza di mulut Luna sich?
Saya:”Hehe maaf kirain tadi kamu kasih kode sambil mengangguk.
Luna:”Ia maksudnya keluarin tapi gak di mulut juga kali”
Saya:”Sorry kamu marahkah, terus gimana?
Luna:”Gak gimana-gimana udah aku telen juga mas, nah habis kan” ucap Luna sambil membuka mulutnya.
Saya:”Ia maaf, habis gimana mau 100% paham”
Luna:”Ia, gpp, aku gak terbiasa nelen peju”
Saya:”Jadi baru kali ini?
Luna:”Gak juga,tapi jarang, dulu waktu kuliah seiring hehe”
Saya:”Hah, peju suami atau orang lain?
Luna:”Peju Toni ia, peju orang ia juga”
Saya:”Tapi yang merawani kamu Toni kan?
Luna:”Ia, kalau ngentot Cuma baru sama Toni aza, kecuali sekarang sama kamu juga”
Saya:”Dulu kamu paling nakal ya dibanding kakak-kakak kamu” ucap saya sambil memasukan kontol saya kembali dalam celana.
Luna pun sudah duduk seperti biasa kembali di jokmobil.
Luna:”Hehe ia, tapi sekarang kak dewi, istrimu yang paling nakal dan binal, gak nyangka aku juga bisa gitu”
Saya:”Ia lost control jadinya, susah aku juga mengendalikannya”
Luna:”Mas, biar kak Dewi kakak aku, tapi aku gak suka dia terlalu ngatur kamu mas, kamu kepala keluarga yang harus bisa kendalikan dia”
Saya:”Ia Lun, tapi kadang aku gak tega mau keras sama dia” Ucap Saya. Rasanya memang agak berat.
Luna:”Mulai sekarang kamu harus tegas sama dia mas, jangan mau diatur-atur, kamu yang yang atur Kak Dewi, sesuai keinginan kamu”
Saya pun manggut-manggut, mudah diucapkan tapi sulit untuk diaplikasikan.
Saya lihat Mobil Tirta masih saja melaju dengan lambat.
Saya:”Koq masih lambat mobil si Tirta ini, apa mereka lagi ngentot ya?
Luna:”Gak mungkin kalau istrimu lagi dientot sama Om Tirta, dia kan nyetir, kecuali Bi Lestari yang nyetir, secara bi Lestari duduk di belakang”
Saya:”Ia juga sich”
Luna:”Paling kalau istrimu gak nyepong kontol Om Tirta, istrimu lagi digrepe-grepe Om Tirta”
Saya:”Ia Juga ya…” ucap saya sambil tangan saya mulai meraba paha Luna.
Luna:”Kamu ini mas, langsung terinspirasi ya”
Saya:”ia dong, gak mau kalah aku” ucap saya, tangan saya kini sudah naik ke dekat pangkal paha, Luna pun connect dan membuka lebar pahanya. Tangan saya segera masuk ke dalam celana kulotnya dan masuk ke dalam celana dalamnya.
Tangan saya mulai merabai memeknya Luna. Bulunya tak terlalu lebat membuat tangan saya bisa langsung menyentuk belahan memeknya.
Luna:”Aaah Mas, enak, mainin di itilnya mas” ucap Luna sambil memegang telapak tangan saya dan mengarahkan ke posisi yang diinginkan.
Luna:”Aaah, mas enak” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya ke arah saya dan merem melek, tentu konsentrasi saya sedikit terganggu, saya pun semakin memelankan laju kendaraan.
Luna:”Aaah, basah memek aku mas, bentar aku turunin celana sama cangcut aku” ucap Luna dan menjauhkan tangan saya. Luna segera menurunkan celana kulot panjangnya dan celana dalamnya sampai lutut..
Tangan saya kembali meraba memek Luna yang sudah sangat basah. Kini saya masukan dua jari saya ke dalam memeknya. Saya pun mulai mengeluar masukan jari saya ke dalam memeknya. Luna pun mengerang kenikmatan, saya pun menyetel music lumayan kencang untuk meredam suara Luna walaupun tanpa music tentu tak akan terdenganr dari luar.
Luna:”Aaah terus aku gak kuat mas” ucap Luna yang lalu mengejang sambil menggenggam tangan saya. Terasa semprotan dari memek Luna ke tangan saya membuat jari dan telapak tangan belepotan cairan Luna.
Saya pun menarik tangan saya dan membersihkan dengan tissue dan konsentrasi menyetir kembali. Luna pun segera mengambil tissue dan mengelap memeknya menaikan celananya dan memakainya kembali. Hujan sudah reda dan kami sudah memasuki daerah antapa*i. Sekitar 15 menitan kami pun sampai di rumah. Saya pun memarkir mobil kami tepat di depan teras rumah karena parkiran sudah penuh.
Saya dan Luna pun segera turun dari mobil. Saya segera mengeluarkan barang dari dalam bagasi. Istri saya tampak belum turun juga. Kami pun menunggu di teras rumah. Akhirnya semua orang di dalam mobil Tirta keluar . Luna segera menghampiri Lestari untuk mengambil Bobo. Semntara saya mengikuti Tirta yang sedang membukan bagasi mobil. Saya pun segera membantu Tirta membawakan barang kami dan masuk ke dalam rumah. Sekilas aku memperhatikan selangkangan istri saya sepertinya basah.
Aku pun memperhatikan selangkangan Luna, sedikit basah juga tapi bercaknya tak begitu terlihat seperti istri saya.
Wife:”Anak-anak tidurkan di kamar kita aza ya Pah?
Saya:”Nanti mamah mau pakai kamar yang mana?
Wife:”Mamah nanti ngelayanin Om Tirta pakai kamar kita Pah,kan ranjangnya ada dua, satunya bisa buat anak-anak”
Saya:”Ya udah Lun, Bobo bawa ke kamar” Luna pun segera menggendong Bobo begitu juga Lestari yang menggendong Revan segera pergi ke kamar saya.
Saya dan Tirta pun menaruh belanjaan ke dalam di dekat tv, kecuali untuk makanan saya taruh di dapur. Sementara Tirta langsung duduk di sofa depan TV di ruang keluarga.
Istri saya pun duduk di sampingnya sementara Intan duduk di lantai sambil membongkar belanjaan mainan boneka Barbie yang dibeli dari mall.
Saya pun kemudian duduk di sebelah istri saya sambil senderan di kedua lengan saya.
Wife:”Om, mau mandi dulu biar seger, saya masih mau beres-beres”
Tirta:”Boleh Dewi, di mana?
Wife:”Pah, cek kan di kamar ada yang mandi? Lestari dan Luna belum keluar juga dari kamar”
Saya:”Bentar Mah” saya pun berdiri dan masuk ke kamar.
Saat saya masuk pas Luna dan Lestari mau keluar kamar.
Lestari:”Kenapa den?
Saya:”Tuch si Tirta mau pakai kamar mandi, mau mandi katanya”
Lestari:”Oh, yau dah suruh pakai aza, Lun kalau kamu mau mandi di kamarku aza”
Saya:”Ia Lun , biar kopernya aku pindahin ke kamar Lestari”
Luna:”Ia mas, aku juga gak nyaman, lengket mau mandi”
Lestari:”HUjan tadi, ac mobil, koq lengket?
Luna:”Momok aku yang lengket Bi, abis diobok-obok” ucap Luna vulgar.
Lestari:”Teu uyahan, ya udah, ayo ke kamarku, aku mau istirahat bentar”
Kami pun segera keluar dari kamar. Saya pun memberi kode ke istri saya bahwa kamar mandi sudah bisa di pakai. Kami semua masuk ke kamar Lestari. Segera setelah menaruh koper Luna saya pun keluar dari kamar.
Ketika saya kembali ke ruang tengah tak nampak Tirta, mungkin sudah pergi ke kamar mandi.
Saya lihat istri saya sedang memeriksa beberapa barang belanjaan kami. Sambil masih duduk di tempat semula. Saya pun duduk di samping dia.
Saya:”Mah, koq basah?
Wife:”Apa yang basah Pah? Ucap istri saya pura-pura tidak mengerti.
Saya pun segera meraba selangkangan istri saya.
Wife:”Aaah, nakal, ia basah hehe”
Saya:”Bukan pipis di celana kan?
Wife:”haha, bukan lah pah, ini akibat heunceut aku dikobel-kobel Om Tirta” uca[ istri saya, sambil berbisik, saya sich sudah menduganya juga, tapi pengen denger langsung dari mulut dia.
Wife:”Udah Pah, malah dimainin heunceut mamah awww” saya tidak perduli, tangan saya sekarang masuk ke dalam celana legging istri saya dan masuk ke dalam cdnya. Saya sekarang bersentuhan langsung dengan memeknya. Tangan saya pun mulai bermain di itilnya menggunakan jempol dan dua jari saya masuk ke dalam memeknya.
Tiba-tiba Intan berkomentar.
Intan:”Gak si Om, gakPapih suka banget ih mainin memeknya mamah, dan mamahnya keenakan memeknya digituin” ucap Intan sambil melihat ke arah kami.
Istri saya pun tersenyum.
Wife:”Papah sich”
Saya:”jadi memek mamah dikobel-kobel si Tirta depan Intan?
Wife:”Ia Pah, Om Tirta ngobok-ngobok heunceut mamah di depan anak kita Intan”
Istri saya pun merem melek.
Wife:”Pah udah malu, entar yang lain ke sini” ucap istri saya. Tapi tidak menghalangi tangan saya yang tetap mengobel memeknya.
Saya:”Dikobel heunceutnya depan anaknya gak malu”
Wife:”Hehe, ampun habis malah cepet basah heunceut mamah Pah, dikobel-kobel depan Saya:”kamu benar-benar binal Mah” ucap saya sambil tetap mengocok memeknya.
Wife:”Aaagh ampun Pah aaah gak kuat aaaah, itil aku uuh enak” ucap istri saya dan tiba-tiba Tirta sudah datang lagi dan duduk di karpet bersama Intan yang sekarang focus nonton tv.
Saya pun cuek saja sementara istri saya menjadi salah tingkah.
Wife:”Aaah Pah, malu ada om Tirta, udah ngocok heunceut mamahnya” ucap istri saya tapi tak mencegah tangan saya, malah kepalanya nyender di sofa sambil memejamkan matanya.
Saya pun tetap mengocok memeknya hingga memek Dewi banjir oleh cairannya sendiri, bulu jembutnya terasa lengket.
Wife:”Oooh ampun gak kuat itil mamah, teken di situ aku gak kuat oooooohhhhhhhhuzzzss” Istri saya pun merapatkan kedua pahanya dan mengejang menggapai orgasmenya. Tangan saya masih di dalam memeknya.
Lalu tiba-tiba pintu kamar Lestari terdengar di buka dan Luna pun keluar dari kamar. Saya pun segera menarik tangan saya dari memek Dewi.
Luna terlihat begitu cantik, postur tubuhnya sedang, paling kecil dibanding Dewi dan Mega dan badannya masih langsing. Luna memakai jilbab putih dan sweater warna abu-abu dan rok panjang warna hitam dan lebar, tidak ketat terlihat begitu anggun.
Luna pun segera duduk di samping saya. Luna pun melihat istri saya yang masih terpejam dan senderan di sofa.
Luna:”Kenapa kak?
Wife:”Lemes Lun, Tadi di mobil heunceut kakak diobok-obok Om Tirta sampai keluar, barusan giliran suami aku yang ngobok-ngobok heunceut aku”
Luna:”Hihi, enak dong”
Wife:”Banget”
Istri saya lalu berdiri.
Wife:”Om aku mandi dulu ya, Pah, mamah mandi dulu, gak enak ini heunceut mamah basah dan lengket”
Saya:”Papah juga mau mandi”
Wife:”Ya udah mandi bareng yuk ,Om aku mandi dulu ya”
Tirta:”Ia, biar Om nemenin Intan, Om sabar menanti Dewi”
Wife:”Om, kalau pas mandi aku pengen ngentot sama suami aku boleh gak?
Tirta:”Boleh, santai aza, malam masih panjang buat kita”
Wife:”Lun, temenin Om Tirta ya, by the way mana bi Lestar?
Luna:”Aku mau nyusuin Bobo dulu kak, kasihan, Bi lestari lagi mandi”
Tiba-tiba pintu kamar Lestari terbuka, dan Lestari keluar dengan hanya memakai baju daster warna kuning sedikit transparan, lengan pendek dan panjangnya juga mungkin satu jengkal di atas lutut dan ada belahanya kiri kanan. Tampak bhnya yang berwana hijau membayang dari balik baju dasternya, begitu juga celanadalamnya yang warna hijau yang aku ingat dibelinya tadi yang berbahan satin.
Kepalanya sich pakai jilbab putih tapi penampilan pakaiannyabikin aku ngaceng, tentu Tirta juga.
Wife:”Cie..cie..daster barunya langsung dipakai” ucap Dewi.
Berarti daster ini pun baru dan sengaja dibeli di mall tadi sore.
Lestari:”Hehe ia dong, gimana Den, aku gak kalah sama yang muda kan?
Saya:”Mantap Les” ucap saya sambil mengelus-elus kontol saya dari balik celana.
Wife:”Ih papah, ayo mandi, Bi kamu temenin Om Tirta ya”
Lestari:”Ia, aku mau sekalian nyiapin buat makan malam dan manasin lauknya”
Wife:”Siip, aku tinggal ya” ucap istri saya dan menarik saya masuk ke dalam kamar.
Luna pun mengikuti kita dan masuk ke dalam kamar untuk menyusui Bobo.
Sementara kami segera masuk ke dalam kamar mandi.
Saya:”Mah, papah mau ngomong..” ucap saya sambil melepas pakaian saya.
Wife:”ngomong apa pah, penting ya? Ucap Dewi yang juga sedang melepas pakaiannya.
Saya:”Ia penting banget”
Wife:”Pah,tolong, lepasin dulu kait kutang mamah” ucap Dewi sambil segera membelakangi saya.
Saya pun segera melepas kait bra istri saya. Lalu memasukan ke mesin cuci, segera saya memeluk dia dari belakang sambil meremas-remas susunya. Beberapa hari dia tak mau melayani saya rasanya kangen juga.
Wife:”Aah pah, mamah layanin papah ngentot ya, tapi jangan kasih cupangan”
Saya:”Ia mah”
Wife:”Eh tadi papah mau ngomong apa sich?
Saya:”Papah mau memek perawan mah”
Wife:”Hah? Dia tampak kaget dan menolehkan kepalanya.
Saya:”Setelah merasakan sempitnya memek Luna, papah jadi pengen memek perawan, Papah pengen ngerasain memek perawan lagi setelah memek mamah dulu papah perawanin”
Wife:”Bukan gak boleh Pah, tapi pasti harus bayar mahal, mana ada yang mau memeknya diperawanin gratis”
Saya:”Hempz, ya gpp mamah”
Wife:”Kalau mamah melacur kan dapat duit pah, kalau papah malah harus keluar duit”
Saya:”Ya sudah gpp kalau gak boleh, tapi ini malam terakhir kamu jadi pelacur mah, kalau mamah mau jadi pelacur lagi harus kasih memek perawan buat Papah”
Istri saya menoleh kembali kepada saya lalu melumat bibir saya, kami pun berciuman.
Istri saya kemudian melepaskan ciuman kami.
Wife:”Ia, nanti mamah carikan memek perawan buat papah”
Yes, akhirnya kena juga dia. Aku gak rugi-rugi amat.
Wife:”Tapi kalau orang desa gpp Pah?
Saya:”Gpp Mah, asalkan perawan dan harus cantik”
Wife:”Cantik sudah pasti, di kota mah susah nyari yang belum bolong zaman sekarang”
Saya:”Mamah carikan dech, gimana caranya”
Wife:”Siap Pah, asal mamah boleh tetap melacur”
Saya:”Kenapa mamah pengen tetap melacur sich”
Wife:”Gak tahu, ketagihan Pah”
Istri saya pun menuntun saya menuju shower dan segera menghidupkannya. Air segera membasahi tubuh kami.
Wife:”Pah, lepasin cangcut mamah dong”ucapnya manja
Saya pun segera menurunkan celana dalam istri saya, satu-satunya kain yang masih menempel di badannya.
Celana dalam yang terbuat dari satin yang katanya Retro prancis gak ngerti dech segera saya lempar ke mesin cuci.
Istri saya segera menarik badan saya agar berdiri, lalu dia mengambil sabun dan mulai menyabuni badan saya dari mulai kaki dan naik ke selangkangan.
Istri saya kemudian menyabuni kontol saya yang sudah ngaceng kembali walau tadi keluar di mulut Luna.
Wife:”Pah, kamu punya obat kuat, kalau ada minum aza, jangan lewatkan kesempatan untuk ngewein si Luna sebanyak mungkin hihi” ucapnya berbisik di telinga saya.
Saya:”Ia Mah, sudah papah siapkan hehe”
Istri saya pun sudah selesai menyabuni seluruh badan saya .
Wife:”Giliran Papah sabunin mamah ya”
Saya pun segera menyabuni seluruh badan istri saya. Mulai dari kaki sampai ke bokong dan memeknya.
Wife:”Aaah jangan dicolok-lok gitu heunceut mamah aaah nanti saja” Saya pun lebih serius lagi menyabuni istri saya sampai ke susunya.
Saya:”Mah, lama mamah gak mau ngelayanin Papah, koq sekarang mau papah entot?
Wife:”Gak tahu pah, seneng aza bikin panas si Tirta”
Saya:”Bagus mah, jadi papah duluan yang bakal buang peju di memek mamah”
Wife:”Ia Pah”
Kami pun segera membersihkan badan kami dari busa sabun.
Setelah bersih kamu pun pindah tempat. Sambil berciuman dan saya peluk lalu saya gendong istri saya mendekati bak mandi.
Saya remas-remas pantatnya yang semakin membesar, Sementara kontol saya sudah menggesek-gesek mulut memek Dewi.
Wife:” Masukan Pah, sejak di mobil sama Tirta mamah udah pengen Ewean” ucap Dewi.
Saya pun mendudukkan istri saya di atas bak. Lalu saya buka kedua kakinya lebar-lebar dan saya arahkan kontol saya ke memeknya.
Bleesek… kontol saya segera menembus memek Dewi. Saya pun segera menggenjot istri saya.
Wife:” aaagh enak Pah aaah, ewe yg kenceng sayang”
Saya pun mempercepat genjotan saya.
Sambil ngewe memeknya Dewi segera saya mencaplok susunya. Saya pun segera menghisap asi yg keluar dari susunya.
Terasa hangat dan membuat kontol saya semakin keras di memek Dewi.
Wife:” isep putingnya saya aaah enak Ewean Jero aaagh”
Saya:” uuuh enak sayang” ucap saya lalu kembali menghisap susu istri saya.
Wife:” aaah jangaaan, awww kenapa nenen mamah dicupangin pah? Saya memang baru saja memberi sebuah cupangan di dekat pentil susu Dewi.
Wife:”papah jahat”
Saya tak perduli, saya semakn mempercepat genjotan kontol saya.
Wife:” aaahgg anjing gak kuat Gusti uiigh, sodokan yang kenceng kontolnya sayang”
Saya:” papah mau keluar mah”
Wife:” dibucatin di heunceut aku pah, mamah juga bentar lagi aaah”
Sodokan kontol saya pun semakin cepat lalu saya cengkram buah pantat Dewi dan saya pun menembakan sprema saya.
Wife:” aaah…agghhh…agggh”
Saya peluk Dewi dan kami pun berciuman.
Wife:” udah pah, gak enak sama Om Tirta, dia udah bayar mahal mamah”
Saya pun mencabut kontol saya.
Wife:” mandi lagi kita pah”
Saya pun segera mandi lebih dahulu. Istri saya pun kemudian mandi menyusul saya. Tapi sepertinya dia bakal lama jadi saya segera menyelesaikan mandi saya.
Saya pun keluar dari kamar mandi dan Luna sudah tak ada di ranjang. Segera saya memakai baju dan keluar dari kamar.
Tampak Tirta sedang duduk di sofa bersama Lestari yang kulihat tak lagi mengenakan jilbab, makin nakal juga dia, duduk berhimpitan dengan Tirta.
Saya:” Luna mana Mbak?
Lestari:” Lagi nyiapin makan malam, mana Dewi?
Saya:”masih mandi”
Lestari:” ya udah kamu tunggu di meja makan”
Saya pun pergi ke dapur dan tampak Luna sedang menyiapkan piring di meja makan.
Saya:”aku bantuin ya”
Luna:” ia mas, boleh banget”.
Segera semuanya pun siap.
Kami berdua pun duduk menunggu yg lain.
Luna:” aku panggil Bi Lestari ya”
Saya:” ia, aku dah laper nich”
Luna:” gimana gak laper kalau habis ngentot hehe” ucapnya sambil berlalu masuk ke dalam.
Tak lama Luna sudah kembali lagi diikuti Tirta dan Lestari yg saling bergandengan tangan.
Mereka pun lalu duduk berdampingan.
Luna:” tinggal nunggu kak Dewi, lama amat sich”
Saya:” ia, apa perlu aku susulin?
Lestari:” biar aza Den, mungkin masih dandan”
Saya pun baru menyadari koq Lestari terlihat sedikit kusut, rambutnya agak acak-acakan, padahal tadi masih rapi, memakai jilbab dan baru habis mandi.
Tapi saya tidak terlalu menghiraukan lagi karena keburu Dewi datang.
Dewi tampak sudah begitu rapi. Mengenakan jilbab warna cream senada dengan baju ibu hamil yg panjangnya sampai pinggang warna cream juga sedikit transparan sehingga bh warna merah yg istri saya kenakan terlihat membayang. Sedang bawahannya mengenakan rok panjang juga warna cream dari jenis kain yg lembut dan licin,yang cukup ketat menempel di paha juga mencetak pinggulnya. Sepertinya baru dibeli tadi karena aku baru pertama melihatnya.
Luna:” nah artisnya datang juga”
Istri saya segera duduk di sebelah Tirta, sehingga sekarang Tirta diapit oleh Lestari dan Dewi.
Wife:” Intan mana?
Lestari:” sdh tidur di kamarku”
Wife:” yah, belum mandi belum makan juga”
Lestari:” biar, kasihan kecapean”
Tirta:” cantik banget Wi dan benar-benar menggairahkan, jadi gak sabar”
Wife:” makasih Om,ayo kita makan dulu Om, biar staminanya kuat hehe”
Lestari:” ia Mas, biar kuat”
Kami pun segera menyantap makanan yg sudah tersedia di meja makan. Ada gulai kambing juga, seperti memang sudah diplaningkan.
Akhirnya kami pun selesai makan.
Wife:” Pah Donatus datang gak ya, tadi kita pulang belum kelihatan”
Saya belum jawab sudah dipotong oleh Lestari.
Lestari:” udah datang”
Tirta:” siapa si Donatus itu?
Wife:” satpam kami”
Tirta:” oooh…”
Wife:” makanan masih banyak banget, biar tak kasihkan dia sebagian”
Lestari:” ia, setuju, biar bibi yg anterin”
Wife:” bibi gak malu nganterin pakai pakaian begitu, eh koq ada cupangan lagi di leher bibi?
Lestari:” ulah mas Tirta”
Wife:” mantap…., Eh apa mamah aza yg antar?
Saya:” biar papah aza dech”
Wife:” ya udah kita ke ruang tengah aza, sambil nonton tv, mau ngamar belum terlalu malam juga”
Tirta:” santai gak usah buru-buru, lagian om masih capek” ucap Tirta.
Wife:” yeee, pasti pas aku mandi enjot-enjotan ya om sama Bi Lestari”
Tirta:” hehehe”
Kami pun segera berdiri meninggalkan meja makan.
POV Lestari
Aku pun segera pergi ke dapur diikuti pandangan Tirta. Dewi keponakanku telah mengubah diriku, aku baru kali ini tampil sexy begini setelah pertama mengenakan hijab. Penampilanku terasa aneh, aku memakai daster pendek di atas lutut dan lengan pendek pula tapi masih memakai jilbab. Aku sudah bisa melupakan masalahku dengan Juna, bahkan ketika aku bertemu dia tadi aku sudah berbeda.
Sampai di dapur aku segera menghangatkan makanan sambil menyiapkan keperluan lainnya untuk makan malam.
Akhirnya aku selesai juga, Cuma menghangatkan saja. Tepat setelah aku mematikan kompor seseorang memelukku dari belakang sambil meremas bokongku.
Sontak membuatku sedkit kaget.
Saya:”Aaagh, Dendi, eh..” Aku berpikir itu Dendi ternyata Tirta.
Tirta pun menaikan jilbabku dan mulai menciumi leher saya. Tangannya tak berhenti meremasi bokong saya.
Tirta:”Aku Tirta Tari, bukan Dendi”
Saya:”Emmmmz ia Mas, aku pikir bukan kamu uuughh”
Tirta:”Dendi sering nakal sama kamu ya?
Saya:”ia mas..eeeggh”
Tirta berbisik di telingaku.
Tirta:”Dewi katanya akan ngentot sama suaminya sambil mandi, aku dah gak tahan, boleh aku minta ngentot sama kamu Tari”
Saya:”Uuugh ia mas kebetulan aku juga udah selesai ini”
Tangan Tirta sekarang pindah naik ke payudaraku dan meremas-remas susuku.
Saya:”Aaagh mas, kita pindah ke kamar saja” Ucap saya.
Tirta:”Di sini aza, aku sudah tak tahan” ucap Tirta yang lalu kembali menjilati leher saya. Saya pun berinisiatif melepas jilbab saya dan saya lempar ke kursi.
Saya:”Aaah mas, cupang leher aku ya..” Tirta memmang sepertinya memberi beberapa cupangan di leherku, terasa sedotanya sangat dalam.
Saya melihat ke bawah, tampak Tirta sedang melepas celananya sambil tetap memelukku.
Dengan sebelah tangan dia pun menurunkan celana sempaknya.
Kontolnya sudah ngaceng dan sepertinya keras, cukup hitam, kontras dengan kulitnya yang putih. Cukup Panjang dan terbilang gede juga, sepertinya sedikit lebih gede dari Juna dan Dendi.
Sambil mendorong saya agar lebih menunduk. Tirta mengarahkan saya untuk menuju tembok. Saya pun segera berpegangan di tembok sambil sedikit nungging.
Tirta kembali berbisik di telinga saya.
Tirta:”Kamu sexy sekali Tari, begitu menggoda birahi kelelakian saya. Baju tidurnya sangat menggoda, aku bisa melihat warna cangcut kamu, pantat kamu juga padat berisi” Sambil lidahnya menggelitik belakang telinga saya.
Tangan Tirta kemudian menaikan ujung bawah daster saya sampai perut. Tangannya kembali meremas-remas pantat saya. Kemudian saya merasakan dia menggeser celana dalam saya dan kontolnya tersa mulai mendesak untuk masuk.
Tirta:”Kata Dewi kamu ibu rumah tangga dan seorang mamah yang baik untuk anak-anakmu, katakan sudah berapa kontol yang memasuki memekmu? Ucap Tirta sambil menekan kontolnya yang kepalanya sudah mulai masuk.
Saya:”Tiga Mas, uugugh , punya suami saya, Dendi dan satu lagi aku gak tau, perampok, aku diperkosa”
Tirta:”Hah, kamu pernah diperkosa?
Saya:”Ia Mas, uuh”
Tirta:”Berarti kontol saya yang keempat”
Saya:”Iaaaah, ah mas Juna, Tari dizinahi orang lagi” ucap saya tanpa sadar.
Kontol Tirta kini sudah sepenuhnya masuk ke memekku. Kontolnya terasa penuh. Tirta pun mulai memaju mundurkan pantatnya.
Tirta:”Juna, suami kamu yang ketemu di mall?
Saya:”Aaaah ia maaas..”
Tirta:”Lupakan dia sementara waktu, malam ini aku yang akan menjadi suami kamu, memek kamu Cuma buat kontolku”
Saya:”Aaah aaah ia Mas, kamu pejantanku malam iniii, aaaah ewe aku mas uuh zinahi aku”
Ploook..plook..plook Paha Tirta menghantam pantat saya begitu kencang, Tirta menyodokan kontolnya begitu dalam.
Saya:”Aaah, mas dalam banget kontol kamu masuknya uuuh sampai ke rahim Tari uuuh”
Tirta:”Memekmu sempit tari, jarang diewe, heunceut kamu bisa ngempot juga aaah”
Saya:”Aaah ia pejantanku, zinahiii tari aaah, mas Juna dan aku lebih banyak berantemnya dari pada ngentotnya”
Suara saya sudah tak terkontrol, mudah-mudahan tak terdengar sampai ke luar rumah.
Tiba-tiba kami merasa ada yang datang, sepontan kita berdua melihat ke belakang. Tampak keponakanku Luna yang masuk dapur.
Luna pun beradu mata dengan kami.
Luna:”Udah lanjutin aza bi enjot-enjotannya, tadinya aku mau bantu nyiapin makan malam, nanti aza dech takut ganggu Om hehe” Ucap Luna yang langsung balik masuk ke dalam, belum sempat kami menjawab.
Kami pun terdiam beberapa saat.
Saya:”Mas, ayo entot aku lagi”
Tirta pun tersenyum dan segera memaju mundurkan pantatnya. Tangannya kin berpindah berpegangan di buah dada saya sambil meremas-remasnya.
Saya:”Aaaah, mas enak banget uuuh diewe sambil diremas tetek aku”
Tirta pun memasukan tangannya ke dalam bajuku dan masuk ke dalam kutangku.
Tirta:”aaagh susu kamu masih kenceng benget Les, kamu pinter merawat badan”
Saya:”Aaaah aku rajin seeeenam mas uuugh sodokkan kontolnya lebh kencang mas, aku mau dapet”
Tirta:”Barengan ya sayang..” ucapnya berbisik di telinga saya dan kembali menjilati leher saya.
Plook..ploook..plook
Saya:”Aaagh mas, aku gak kuat uuuhggg”
Tirta:”Aku juga Tari uuuugggh heunceut kamu enak dan nikmat aaah keluarin di mana?
Saya:”Di dalam saja mas, Dendi juga suka buang di dalem”
Tirta:”UUh gak kuat, kalau hamil gimanaaa?
Saya:”Biar, aku memang mau hamil dari hasil zinah aaah, biar si Juna ceraiin aku”
Tirta:”aaah aku keluar, aku buntingin kamu tari” ucap Tirta sambil menekan kontolnya dalam-dalam dan crooot..crooot..crooot peju Tirta membasahi memekku bersamaan dengan itu aku pun mendapat orgasme yang hebat.
Hampir saja aku tersungkur namun segera ditahan oleh Tirta dan diberdirikan. Kontol Tirta masih terbenam di memekku.
Beberapa saat kami terdiam. Tirta menarik kepalaku dan mendaratkan ciuman di bibir saya. Segera saya lumat bibir Tirta. Kalau masih muda Tirta pasti ganteng banget, sekarang pun masih tersisa kegantengannya. Kulitnya putih bersih, mungkin karena orang kaya dia merawat diri juga.
Tirta membalik badan saya sehingga menghadap dia. Kami berciuman cukup lama. Lalu saya melepaskan ciuman kami.
Saya:”mas, udah dulu ya, nanti yang lain pada selesai mandi”
Tirta mengangguk lalu melepaskan badan saya dan mengambil celananya yang tergolek di lantai. Aku sendiri membenahi celana dalamku yang terasa lembab dan juga gaunku, Jilbab tak lagi ku kenakan dan ku masukan sementara ke lemari dapur.
Kami segera menuju ke ruang tengah dan duduk di sofa. Tak nampak Intan hanya Luna yang sedang duduk di karpet nonton tv sambil melihat-lihat belanjaanya tadi.
Saya:”Mana Intan Lun?
Luna:”Tidur, aku tidurkan di kamar bibi, udahan kawinnya, ngentotnya maksudnya, aku ke dapur ya siapin buat makan malam”
Saya:”udah Lun, aku lemes habis dientot Mas Tirta, kamu sendiri yang siapkan ya, lauknya udah aku hangatin”
Luna menganggukan kepalanya dan segera menuju ke dapur.
Sepeninggal Luna kami pun duduk sambil menyenderkan kepala ke sofa.
Saya:”mas, bawa obat kuat gak? Jangan sampai loyo lho, kan Dewi belum kamu garap memeknya?
Tirta:”Sudah minum dari hotel, tapi kayaknya kurang, sekarang udah lemes aku”
Saya:”Ya, malam masih panjang mas, sepanjang kontolmu hehe, nanti aku mintakan ke Dendi”
POV Suami
Saya pun segera membawakan makanan untuk Donatus, dia pun tampak senang. Saya segera masuk kembali ke rumah dan bergabung dengan yang lain yang sedang duduk di karpet semua.
Saya pun duduk di samping Luna.Sementara Istri saya dan Lestari mengapit Tirta.
Saya:”Kita mau ngapain nich?
Wife:”Bingung juga Pah, apa kita pergi tidur aza dulu, soalnya para pejantan kecapean juga hihi, tapi baru mau jam Sembilan ini”
Lestari:”Den, kamu udah minum obat kuat, hihi, kasih juga Om Tirta dong”
Saya:”Kebetulan belum, ada aku sudah beli, ada tit*n Gel juga, mau bos? Saya mencoba mengakrabkan diri dengan Tirta.
Tirta:”Boleh tuch Pak”
Saya pun segera berdiri dan masuk kamar mengambil barang yang dimaksud.
Setelah dapat saya pun segera kembali dan duduk kembali di samping Luna.
Saya:”Ini banyak, kalau kurang kita bisa minta Donatus untuk belikan”
Tirta:”Ini saja cukup koq Pak”
Wife:”Ya uda cepetan di minum, aku ambilkan air dulu” ucap istri saya dan segera pergi ke dapur.
Tak lama Dewi pun kembali dan membawa Poci air dan gelas dalam nampan.
Dewi pun duduk di samping saya tidak lagi di tempat semula di samping Tirta.
Saya:”Koq banyak banget gelasnya? Ku lihat istri saya membawa lima gelas.
Wife:”Yah buat kita nanti kita juga haus, Lun bisa ambilkan cemilan yang udah kita beli tadi sore di lemari dapur”
Luna:”OK kak” Luna pun segera meninggalkan kita, tak lama dia pun kembali membawa beberapa toples dan beberapa makanan ringan.
Luna pun duduk di samping saya.
Wife:”Ayo diminum dulu obatnya Pah, Om, biar kanjutnya cepet ngaceng lagi” ucap istri saya sambil menyodorkan gelas berisi air kepada saya dan Tirta.
Saya dan Tirta pun segera meminum obat penambah stamina.
Wife:”Kita yang bermemek perlu minum obat perangsang gak?
Lestari:”kamu punya Wi, boleh biar sange terus hihi”
Wife:”Bentar, aku ada beberapa” ucap Dewi sambil masuk dalam kamar, aku pun tak pernah tahu Dewi punya obat begitu.
Tak lama istri saya pun kembali dan kali ini duduk dekat Tirta lagi, dia pun memberikan obat perangsang ke Luna dan Lestari. Mereka pun segera meminum obat tersebut.
Tirta tampak berbisik kepada istri saya.
Wife:”Pah, Om Tirta bawa minuman, boleh dibuka?
Saya:”Ya udah mah, buka saja, terserah siapa yang mau minum nanti”
Istri saya pun kembali berdiri dan meninggalkan kami. Lalu dia kembali membawa plastic putih berukuran cukup besar.
Dia pun duduk lagi di samping Tirta. Tirta pun mengeluarkan botol dari dalam plastic, ada 4 botol minuman branded ditaruh di tengah-tengah.
Tirta:”Seperti kata Pak Dendi, yang mau silahkan, atau mau nyoba yang belum pernah boleh”
Wife:”Nyoba sich udah tapi jarang, mau ngapain ini kita begadang aza, kapan ngentotnya? Hihi”
Tirta:”Gimana kalau kita maen game, maen gaplek gitu?
Wife:”Gak asyik, kayak orang ngeronda aza om”
Tirta:”ya kita bikin seru, gimana kalau yang kalah harus buka bajunya satu persatu, aturannya fleksibel bisa diubah-ubah lah setiap putarannya terserah kalian”
Wife:”Wah, kalau gitu boleh tuch, seru juga, tapi jumlah kita ganjilkan?
Tirta:”Ya satu orang gak usah ikut atau gantian, tapi ini saran kalau ada permainan yang lebih seru, atau mau langsung ngamar juga boleh?
Wife:”Memang Om udah kuat lagi?
Tirta:”Belum On sich”
Wife:”Makanya di sini dulu dech, biar kita bikin om sange hehe, aku setuju, gimana yang lain main gapleh mau?
Lestari:”Aku aza yang gak ikut, gak ngerti”
Luna:”Aku ngerti aza dan pernah main tapi kalah mulu, hihi”
Saya:”Papah ikut aza”
Wife:”Berapa putaran nanti, gimana kalau yang sudah habis pakaiannya, maksudnya sudah bugil?
Tirta:”Kalau yang sudah bugil gimana kalau kita beri hukuman, nanti terserah yang menang hukumannya”
Wife:”Setuju, gitu aza dech, jadi siapa saja yang main?
Lestari:”aku gak ikut”
Luna:”Terpaksa aku ikut, tapi kartunya ada nggak?
Wife:”Ada, punya si Jaka”
Tirta:”Jaka siapa?
Wife:”Itu anak pembantu saya, tapi lagi tak suruh pulang, kalau gak salah dia simpan di dapur”
Istri saya pun segera ke dapur dan tak lama balik lagi.
Wife:”ada nich, kita mulai aza ya” sambil duduk dan duduk di samping Tirta.
Saya:”Ok, ayo”
Istri saya pun mulai membagikan kartu dan kita pun memulai permainan domino, saya pun sudah lama tidak memainkann permainan ini.
Putaran Pertama saya yang menang. Sepertinya istri saya memaksakan diri, diapun seperti Luna bisa main tapi tak lihai.
Akhirnya yang kalah terpaksa melepas satu pakaiannya.
Tirta segera melepas ikat pinggangnya sementara Luna dan Dewi malah saling pandang.
Istri saya tampak berdiri dan melepaskan sesuatu, ternyata stocking, sementara Luna tampak masih bingung.
Luna:”wah curang, pakai stocking segala”
Saya:”Kayaknya ada yang kurang, percuma menang gak dapat apa-apa harusnya kan ada advantage untuk yang menang?
Wife:”Huh, ya terus gimana?
Tirta:” jadi peraturannya gini kan kalau sudah ada yang bugil tadi harus dihukum, hukuman ditentukan pemenang, nah sekarang bagaimana kalau pemenang boleh menyita barang yang kalah gimana?
Saya:”Kira-kira kalian ok gak kalau nanti menang, Cuma boleh menyita barang yang kalah?
Luna:”aku gak masalah, pasti kalah terus hihi”
Wife:”Terus maunya gimana?
Saya:”Setuju lah biar cepet bugil kalian hehe”
Tirta:”ya udah ini, dikumpulkan, jadi misal yang punya barang sitaan kalah boleh mengganti menggunakan barang sitaanya tak perlu lepas pakaian, tapi yang dikembalikan khusus hanya biasa pakaian milik orang yang menang, ok”
Kami pun semua setuju.
Wife:”Ya udah aku bagi lagi ya?
Tirta:”Bentar Luna belum lepas apapun?
Luna:”Hehe”
Tiba-tiba lestari memotong pembicaraan
Lestari:”Aku mandi dulu ya semuanya”
Wife:”Kenapa tadi habis mandi?
Lestari:”Gak nyaman basah cangcut aku”
Wife:”Haha, ya udah sana”
Lestari pun segera berdiri dan masuk ke kamarnya.
Luna:”Ya udah lepas jilbab dech” ucap Luna sambil memberikan jilbabnya kepada saya. Mereka pun memberikan barang yang mereka lepas kepada saya.
Putaran kedua Tirta yang menang. Aku pun memberikan kembali ikat pinggang dia, sedang Luna melepas ciputnya dan memberikan kepada Tirta. Istri saya pun melepas jilbanya yang warna cream dan memberikan kepada Tirta.
Putaran ketiga Tirta menang lagi, sementara yang perempuan belum ada yang menang. Aku pun terpaksa melepas baju saya dan saya berikan sama Tirta. Sementara Luna melepas sweaternya dan memberikan kepada Tirta dan istri saya memberikan ciput kepalanya kepada Tirta. Putaran ke empat Tirta lagi-lagi menang, jago juga orang seperti dia maen beginian. Saya pun terpaksa melepas celana pendek saya hingga saya yang paling parah sekarang tinggal memakai celana dalam saja.
Luna pun terpaksa melepas baju kaosnya dan menyerahkan kepada Tirta. Istri saya pun terpaksa melepas baju tidur creamnya dan menyerahkan kepada Tirta. Tirta tampak mupeng melihat istri saya dan Luna yang sekarang bagian atasnya hanya tertutup beha saja.
Wife:”Papah ternyata paling parah, padahal tadi menang sekali, siap-siap dikerjain hihi”
Saya:”Yak, maklum pakaian papah Cuma terdiri dari tiga”
Putaran kelima pun di mulai, saya mencoba lebih berkosentrasi sekarang.
Saat sedang main Lestari keluar dari kamar. Memakai baju panjang warna hitam dan jilbab putih serta memakai kaca mata, beda sekali dengan penampilan sebelumnya. Lestari pun segera duduk di depan Luna sambil cekikikan melihat kami yang sudah banyak kehilangan pakaian kami. Dasar sial, lagi-lagi si Tirta menang, tapi kali ini perlawan lebih ketat, para perempuan sudah bisa memberikan perlawan.
Wife:”Om mulu yang menang, ih, udah mau bugil kita Lun”
Lestari:”senasib kalian kakak beradik”
Istri saya pun berdiri dan melepaskan rok panjangnya dan menyisakan celana dalam serta beha saja yang keduanya berwarna merah, sedang Luna juga keadaanya sama tinggal mengenakan beha dan celana dalam saja yang keduanya berwarna putih. Yang paling parah saya harus melepas cd saya.
Wife:”si Papah sudah mulai ngaceng nich hihi”
Saya tidak berkomentar dan segera bersila. Kali ini saya harus menang. Putaran ke enam pun di mulai, para ibu tampaknya sudah mengerti permainan ini, mereka sudah lebih paham dan permainan lebih seru, tapi akhirnya kali in saya yang menang. Tirta pun mengembalikan cd saya. Saya pun segera mengenakan cd saya. Istri saya dan Luna pun melepas bh mereka dan memberikan kepada saya.
Tirta pun menatap nanar payudara istri saya yang pentilnya tampak cukup besar biar belum ngacung sempurna begitu juga pentilnya Luna. Putaran berikutnya di mulai kali ini Luna yang menang. Istri saya pun harus melepaskan celana dalamnya dan memberikannya kepada Luna.
Tirta ternyata cukup pintar dia hanya mengembalikan ciput Luna sehingga susu Luna tetap terbuka.
Istri saya yang perutnya sudah membuncit pun harus bugil begitu juga saya.
Istri saya pun duduk bersila berusaha menyembunyikan memeknya yang penuh bulu.
Kali ini kondisi makin parah bagi saya dan Dewi yang sudah tidak memakai apa-apa jika kalah akan terkena hukuman.
Putaran berikutnya dimulai, dan sialnya si Tirta kembali menang.
Luna segera memberikan ciputnya kembali sementara saya dan Dewi sudah tidak punya apa-apa lagi.
Tirta:”Hehe, saya menang, karena dua orang sudah tak ada pakainya lagi maka hukuman berlaku hehe”
Wife:”Cepet Om apa sich hukumannya?
Tirta:”Pak Dendi dulu ya” ucapnya sambil tersenyum licik penuh kemenangan.
Tirta lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ternyata dia mengambil sebuah plastik dan mengeluarkan isinya yang ternyata celana dalam warna putih yang aku ingat itu celana dalam istri saya.
Tirta:”Ini cangcutnya istri bapak, hukuman pak Dendi ciumin lima kali ya, cangcut ini” sambil memberikan kepada saya.
Tirta:”Harus nempel muka ya, setiap nempelnya minimal 30 detik”
Saya pun menerima celana dalam Dewi istri saya yang kata istri saya sempat terkencingin.
Wife:”Hihi kasihan si papah”
Saya pun mulai mengendusnya dari jauh, benar ada sedikit bau kencing.
Tirta:”Aya pak, biar Dewi segera mendapat giliran dihukum”
Saya pun menempelkan cd istri saya ke hidung lima kali. Tirta pun menggunakan ponselnya untuk menghitung waktu. Akhirnya hukuman saya selesai juga.
Berikutnya giliran Dewi yang harus menerima hukuman.
Tirta:”Sekarang Dewi ya?
Wife:”Ia om, apa sich hukumannya, apa mencium cangcut aku sendiri?
Tirta:”no..no…, sekarang Dewi mengangkang dong” Saya sudah menduga hukumannya pasti berbau esek-esek.
Istri saya pun duduk dan membuka lebar kedua pahanya. Memeknya yang penuh bulu pun kini terbuka lebar.
Tirta pun segera berjongkok di hadapan istri saya. Tangannya segera meraba memek istri saya.
Wife:”Aaah bakal diobok-obok lagi nich memek mamah pah sama Om Tirta. Om kan tadi udah nyolok-nyolok heunceut Dewi pakai jari, masa sama lagi”
Tirta:”Ya enggak dong, sekarang saya bisa lihat dengan jelas heuncuet kamu lonte, sekarang Om mau jilatin heunceut kamu di depan suami kamu ya” ucap Tirta yang langsung dirinya terlentang lalu menulurkan lidahnya menelusuri bibir memek istri saya.
Wife:”Aaah, uuuh Om, langsung kena itil aku”
Dengan sedikit memiringkan badannya Tirta lalu membuka memek istri saya dengan kedua tangannya dan mulai memasukan lidahnya ke memek istri saya.
Wife:”Aaah, ampun lidah Om Tirta kena itil mamah Pah aaaah”
Saya yang tengah bersila pun mulai merasakan kontol saya ngaceng. Lalu tiba-tiba Luna sudah menggenggam kontol saya dan memasukan ke dalam mulutnya.
Saya lihat lestari pun tak mau kalah, dia segera menarik turun celana Tirta beserta cdnya. Tangannya segera mengocok-ngocok kontol Tirta.
Lestari:”Mas, aku kasih Tit*n Gel ya”
Saya:”Itu sebenarnya harus rutin Mbak, bukan sekali pakai langsung bereaksi”
Lestari:”Biarin, aku coba aza ya”
Tirta tidak menjawab hanya menganggukan kepalanya saja. Lestari pun segera mengeluarkan gel di telapak tangannya dan mulai membalurkan ke kontol Tirta dan mulai meratakan dan mengocok kontol Tirta.
Tirta saya lihat mengambil satu Botol minuman dan membukanya masih dengan posisi badan di karpet tanpa bangun. Setelah tutup botol terbuka Tirta tanpa permisi menyiramkan setengah isi minuman beralkohol tersebut ke memek Dewi. Sontak istri saya sedikit terkejut. Memeknya langsung basah begitu juga karpet di bawahnya.
Wife:”Aaah Om, Pah, heunceut mamah disiram air haram, banyu jahat aaah enak, jilat terus Om, itilnya aaah” ucap istri saya karena Tirta sudah kembali menjilati memeknya.
Wife:”Aaah om, isep itilnya uuh enak aaah” ucapnya sambil lebih melebarkan kakinya.
Sementara Luna berbisik di telinga saya.
Luna:”Mas, pindah ke kamar Bi Lestari yuk, udah selesai main gapleknya, pada mau ewean”
Saya pun menjauhkan kepala Luna dari kontol saya dan segera saya mengangkat Luna yang Cuma memakai cd saja. Saya pun membawa Luna ke dalam kamar lestari yang masih terbuka pintunya. Tanpa menutup Pintu saya segera membopong Luna ke ranjang dan merebahkannya di kasur.
POV WIFE
Saya lihat suami saya menggendong Luna masuk ke dalam kamar Lestari.
Saya:”Om, kita pindah ke kamar juga yuk, berantakan di sini”
Tirta pun mengangguk dan lalu berdiri begitu juga Lestari. Saya pun berjalan lebih dulu bersama lestari dengan tanpa memakai sehelai benangpun. Tirta tampak mengambil satu botol minuman yang masih utuh dan mengambil jilbab saya. Kami pun segera masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu kembali.
Tirta pun sambil jalan beberapa kali menampar pantat saya.
Saya:”aaaw, nakal banget Om”
Tirta:”Ibu rumah tangga yang jadi Lonte kayak kamu harus dinakalin” Plaaak ucapnya kembali menampar pantat saya.
Tirta:”Dewi, pakai lagi jilbabnya ya” Saya pun segera memakai jilbab saya kembali walaupun tidak rapi.
Tirta meminta saya segera rebahan di atas kasur. Lalu dia membuka botol minuman dan menyirmakan ke wajah saya lalu ke badan saya. Kasur saya pun menjadi basah.
Lestari masih berdiri melihat aksi Tirta. Saya pun tidak bisa protes karena dia telah membayar mahal tubuh saya.
Tirta pun tersenyum dan segera melepas pakaian tersisa yang masih menempel di badannya.
Tirta pun naik ke ranjang dan segera tiduran menyamping di sisi saya. Lestari pun naik ke atas kasur dibelakang pantat Tirta. Tangan Lestari kembali mengocok kontol Tirta.
Sementara Tirta mulai menciumi saya yang basah oleh minuman keras. Kami pun berciuman dan saling melumat dan bergantian menghisap lidah .
Tirta:”Uuuuh cantik sekali kamu Dewi, istri binal yang jadi pelacur” ucapnya merendahkan saya dan segera melumat leher saya. Leher saya pun segera menjadi bulan-bulanan. Cupangan demi cupangan mendarat di leher saya.
Saya:”Uughh Om, banyak banget nyupangnya”
Tirta:”Kenang-kenangan buat suami kamu, bahwa istrinya pernah Om gagahi”
Saya:”Om nakal aaddduh aaah”
Lalu Tirta membentangkan tangan kiri saya, dia pun melihat bulu ketiak saya yang lebat. Tirta pun tersenyum . Lalu dia mengendus ketiak saya.
Saya:”Aaakh Om malu, ketiak aku bulunya lebat”
Tirta:”Kenapa mesti malu, perek kayak kamu harusnya tak punya malu haha” ucap Tirta.
Tirta pun menyiramkan minuman ke ketiak saya. Terasa dingin belum lagi pengaruh ac.
Tirta pun mulai menjulurkan lidahnya menjilati ketiak saya.
Saya:”Aaaah ampun Om geli hihih” Lidah Tirta menari-nari di ketiak saya.
Tirta kemudian berpindah menjilati ketiak saya yang sebelah kanan. Sperti tadi saya pun sangat kegelian.
Tirta pun kini mulai turun dan menjilati dada saya kemudian bibirnya mendarat di puting susu saya.
Tirta:”Ada asinya, mantap kamu lonte,mimik cucu campur miras mantap” ucap Tirta kembali menjilati susu saya dan menghisap putingnya.
Saya:”Aaaah Om…nenen aku om cupangin juga” Tirta memang sudah memberi sekitar dua cupangan di susu saya.
Tirta:”Ini ada satu bekas cupangan siapa?
Saya:”Tadi waktu aku dientot suami aku om, dia cupangin nenen aku juga”
Tirta:”Sekarang nenen kamu bakal aku beri lebih banyak cupangan” ucapnya Lalu keambli menghisap puting susu saya dan satu tangan meremas susu satunya sampai asi saya muncrat muncrat.
Tirta:”Mantap, banyak air susu kamu lonte”
Saya:”uuuh ia Om, padahal udah pernah berhenti sebentar, eh ada lagi, om suka mimic cucunya Dewi?
Tirta:”Suka banget lonte berjilbab” ucapnya lalu menjilati susu saya yang muncrat-muncrat tercecer di dada dan perut saya.
Tirta:”Lagi hamil kamu masih ngelonte ya Dewi?
Saya:”uuh ia Om, kebutuhan ekonomi”
Tirta:”Kebutuhan ekonomi atau heunceut kamu yang seneng disumpal kontol”
Saya:”Ia, itu yang utama Om”
Lestari:”mas udah celegeung pisan kontolnya”
Tirta pun mengangguk lalu melebarkan kedua kaki saya dan berpindah ke tengah-tengahnya. Saya baru ingat dia baru pakai Tit*n Gel.
Saya:”Bi, kontol si Om tadi kamu kasih gel kan?
Lestari:”Ia Wi, kenapa?
Saya:”Om cuci dulu ya?
Tirta tampak menarik nafas panjang, mungkin dia sudah gak tahan.
Tirta:”Tari ambilkan botol minuman yang masih sisa setengah tadi dong sayang”
Lestari:”Ia mas” ucapnya lalu mereka berciuman. Lestari pun keluar dari kamar untuk mengambil minuman.
Saya:”Om, sekalian kamu kawinin aza bibi aku ya?
Tirta:”Kan tadi juga sudah aku kawinin bibi kamu” pura-pura tidak paham
Saya:”Maksudnya nikahin dia, biar kita lebih sering ketemu dan bisa sering ewean, hehe”
Tirta:”Ow, gratis ya?
Saya:”Ya bayar dong, masak heunceut aku gratis”
Tirta:”haha, dasar lonte kirain” saat sedang ngobrol Lestari pun datang membawa botol minuman yang tinggal setengah. Lestari pun memberikan kepada Tirta.
Tirta lalu turun dari ranjang dan mencuci kontolnya dengan air tersebut.
Saya:”Gila kamu Om”
Tirta:”Biar, sebentar lagi aku akan merasakan heunceut kotormu lonte, biar sekalian aku kotorin pakai minuman haram” ucapnya melecehkan saya, tampaknya itu membuat dia lebih bergairah.
Saya pun hanya senyum-senyum saja.
Tirta kembali keposisi semula. Dia pun mengangkat kedua kaki saya ke pundaknya. Lalu mulai mengarahkan kontolnya yang basah oleh minuman tadi ke memek saya.
Lestari:”Mas, biar Tari yang masukin kontol kamu ke memek keponakan aku”
Lalu lestari segera memegang kontol Tirta dan mengarahkan ke lubang memek saya. Bleees…lestari mendorong kontol Tirta menembus memek saya. Tirta pun kemudian menekan kontolnya hingga akhirnya semua kontolnya masuk ke memek saya.
Tirta:”aaaaah, akirnya kontol aku masuk ke heunceut kamu Dewi”
Saya:”Ia Om, panjang dan gede kontol Om uuuh enak Om digoyang” Terasa memek saya penuh, sepertinya kontolnya sedikit lebih besar dari Dendi.
Tirta pun mulai menyodok memek saya dengan memaju mundurkan pantatnya. Saya lihat Lestari hanya berdiri menyaksikan keponakannya digagahi oleh Tirta.
Saya:”Bi lepas baju bibi sekarang ya, aku pengen isep susu Bibi”
Lestari seperti kerbau yang dicocok hidungnya atau memang sudah sange segera membuka baju panjangnya sehingga tersisa cangcut dan kutang saja, keduanya warna putih yang aku ingat dibeli tadi sore di mall.
Saya melambaikan tangan ke bibi saya. Lestari segera mendekat ke samping kepala saya.
Saya:”Bi, aku leoas kutangnya ya” tanpa menunggu jawaban aku arahkan tanganku ke punggung lestari yang tanggap membelakangi saya. Segera saya tarik kutangnya dan saya lempar ke lantai.
Saya tarik lestari agar jongkok lalu saya lumat bibirnya.lestari tampak kaget dan berusaha menghidar tapi saya pegang dan saya masukan lidah saya ke mulutnya. Sementara Tirta terus menggenjot memek saya.
Lestari segera menjauhkan mulutnya dari mulut saya.
Lestari:”Gila kamu lesbi Wi?
Saya:”Nggak Bi, aku normal, aku Cuma gak mau kamu diem aza sementara aku diewe om Tirta, Cuma berbagi kenikmatan”
Lestari:”Bener?
Saya:”Sumpah, sini biar susu Bi Lestari aku isep”
Lestari pun mendekati saya lagi dan langsung saya caplok susunya. Astaga masih kenceng susu bibi aku ini, pasti dia juga bakal laku ini jadi pelacur. Lumayan pemasukan buat saya hehe.
Lestari:”aaah Wi enak”
Tirta:”Kamu benar-benar istri binal Lonte” ucapnya ngos-ngosan sambil tetap menggenjot memek saya.
Melihat Lestari sudah keenakan, saya minta dia berdiri.
Saya:”lepas cangcutnya bi”
Lestari pun segera melepas cangcutnya. Tangan saya segera meraba-raba memeknya yang ternyata mulai basah. Sambil digagahi Tirta saya pun segera mengerjai memek lestari. Saya colokan dua jari saya ke memeknya.
Saya:”uuuh Om, kencengin sodokannya om ahh, henuceut dewi udah terasa enak banget ini uuuuh”
Tirta pun semakin mempercepat sodokan kontolnya.
Saya:”Terus Om, oooh gagahi Dewi, zinahi Dewi Om, enak uuuh”
Plooook..ploook…ploook, genjotan Tirta pun semakin cepat. Saya kini sudah tidak lagi mengerjai Lestari. Saya berkonsentrasi menikmati sodokan kontol Tirta.
Sementara Lestari kini naik ke ranjang dan mengarahkan memeknya ke muka Tirta.
Tirta pun segera menjilati memek bibiku itu.
Saya:”Aaah Om,enak banget kontol Om besar aaah, ewean jero nikmat anjiiiing “ ucap saya sambil menggoyang pantat saya mengimbangi sodokan Tirta.
Tirta pun semakin mempercepat genjotannya.
Sambil menjilati memek Lestari, Tirta pun meremasi kedua susu saya dan membuat asi saya muncrat-muncrat.
Saya:”aaah ooom, Dewi gak kuat enak banget ewean jeroooo aakh” Saya merasakan kenikmatan luar biasa, padahal kontol Tirta tak jauh beda sama besarnya dengan punya Dendi tak beda jauh, apa ini efek obat perangsang yang saya minum.
Saya pun mengejang menggapai oragasme sementara saya rasa si Tirta pun menjejalkan kontolnya dalam-dalam dan saya merasakan memek saya disemprot cairan yang saya yakin itu sprema.
Saya:”aaah Om aku keluar” ucap saya yang langsung terkulai lemas. Tirta pun terdiam dan melepaskan jilatanya dari memek Lestari. Lestari pun segera berebah di samping saya sambil mengangkang. Lestari belum tahu Tirta sudah bucat di memek saya.
Tirta pun kemudian menarik kontolnya yang tampak mengkilat karena cairan kami.
Tirta:”Tari tunggu bentar ya, aku udah bucat di heunceut keponakanmu”
Lestari pun bangun sambil tersenyum.
Lestari:”Gpp mas, sini aku isep” ucapnya sambil menunduk lalu memasukan kontol Tirta yang mulai melemas.
Aku tak menyangka Lestari mau menghisap kontol Tirta yang baru keluar dari memek aku.
Saya:”Bi, kamu udah cocok jadi perek, kamu gak jijik isep kontol Om Tirta, kan abis bucat di heunceut aku”
Lestari hanya melirik dengan ujung matanya sambil tersenyum. Dia pun mengeluarkan kontol Tirta yang sudah bersih.
Saya pun bangkit dari ranjang dan segera turun.
Tirta:”Mau kemana kamu Wi?
Saya:”Pipis dulu Om” ucap saya sambil segera masuk ke kamar mandi. Ternyata Tirta mengikuti saya. Saya pun segera berjongkok dan kencing di depan Tirta. Tirta pun memperhatikan saya sambil tersenyum. Saya pun segera cebok dan berdiri.
Tirta:”Pegangin kontol aku lonte, aku mau pipis”
Saya:”Nakal banget kamu Om, aku pegangin ya” Tirta pun segera kencing dan saya pun mencuci kontolnya.
Saya:”Om mau bobo dulu, biar nanti shubuh aku bangunin, pasti stamina Om bangkit lagi, kita ewean lagi”
Tirta:”Ia ayo” kami pun segera keluar dari kamar. Aku terkejut karena ternyata ada Luna yang sedang menyusui Bobo. Dia hanya memakai bh dan celana dalam saja.
Untung mereka tidur nyenyak tidak terganggu oleh kami yang sedang ngentot.
Saya:”Lun”
Luna:”eh, kak, sorry aku nyusuin Bobo”
Saya:”Nyusuin suami aku sudah?
Luna:”Uda terkapar habis buang peju di memek aku hihi”
Saya:”nakal kamu Dek, aku mau nyusuin revan juga” ucap saya segera naik ke ranjang dan saling membelakangi dengan Luna saya pun menyusui Revan. Sementara tadi kulihat Tirta sudah naik ke ranjang yang sperainya tampak sudah diganti Bi Lestari karena tadi basah oleh minuman keras yang dituang Tirta ke badan saya.
Luna:”Kak, udah eweannya?
Saya:”udah, pejantannya lemes, baru aku aza yang diewe, bi Lestari belum”
Luna:”hehe, gak ngaruh obat kuat ya”
Saya:”Ia, tapi untuk seumuran dia, udah kuat banget, gak kalah dari Dendi”
Luna:”Kontolnya gede?
Saya:”Kan udah liat tadi, memang mau nyobain gak?
Luna:”Ih, nggak ah, cukup aku zinah sama suami kakak saja” ucapnya sambil berdiri.
Luna:”aku ke kamar sebelah lagi ya kak, kasihan nanti suami kamu nyariiin aku hihhi”
Saya:”Titip suami aku ya Lun, istrinya lagi jadi pelacur dulu hihi”
Luna:”Dasar kakak” ucapnya lalu keluar dari kamar saya.
Saya pun selesai menyusui Revan. Saya lihat Tirta sudah tertidur sambil berpelukan dengan Lestari dengan sama-sama telanjang. Lestari sudah melepas jilbabnya juga.
Saya pun segera mengambil baju tidur dari lemari beserta kutang dan cangcutnya. Setelah mengenakan semuanya saya pun segera naik ke ranjang dengan posisi di belakang Tirta. Saya pun memejamkan mata dan tidur.
POV SUAMI
Setelah merebahkan Luna. Saya pun segera naik ke ranjang dan menindihnya. Bibirnya segera saya lumat. Kami pun berciuman dengan sangat panas. Saling bertukar lidah dan saling menyedot lidah satu sama lain. Sementara tangan saya meremas-remas kedua payudaranya.
Luna:”mmpz berat mas uuh” Saya pun segera berguling ke samping Luna. Giliran Luna yang naik ke atas badan saya. Tapi dia sekarang menyodorkan susunya ke mulut saya.
Saya pun segera mencaplok susu Luna. Mulut saya segera menyedot puting susu Luna yang sudah membengkak. Air susunya segera keluar dan saya hisap dengan lahap. Terasa hangat di dalam mulut.
Luna:”Aaaah mas isep yang kuat uuuh, tapi jangan habisin sisain asi aku buat Bobo”
Saya tidak memperdulikan ucapan Luna. Saya terus menghisap pentil susu Luna. Kemudian berpindah ke payudara satunya lagi.
Luna:”Aaaah mas, jangan dicupang nenen aku” aku kembali lupa memberi cupangan di susunya Luna.
Saya:”Aduh, mas lupa”
Luna pun bangkit dan tampak cemberut. Dia melihat susunya sebelah kiri, ada cupangan besar merah sebesar uang koin seratus zaman orba.
Luna:”mas nakal, gede banget lagi nyupangnya”
Luna tampak membuka celana dalamnya dan melempar ke lantai kemudian naik ke muka saya dan kini memberikan memeknya.
Luna:”Nich, memek aku mas, mala mini Cuma buat kamuuuuu” ucapnya dengan naa berat. Sepertinya si Luna ini juga sudah sanget berat.
Saya pun segera menjulurkan lidah saya dan mulai menjilati memek Luna.
Luna:”aaah mas, masuk lidahnya ke memek aku, uuh nakal, kamu rusak kehormatan aku, momokku punya mas Toni uuh, kamu obok-obok aaaah”
Sambil tangan saya meremasi pantatnya yang sedikit tenggeng saya semakin membenamkan wajah saya di memek Luna. Lidah saya menari-nari didalam memeknya.
Luna:Aaanjiiir nikmat mas, lidahnya kenain itil aku uuh ampun” Ucap Luna sambil pantat bergoyang-goyang.
Mendengar ucapan Luna tersebut saya pun semakin bersemangat. Saya berusaha memasukan lidah saya sedalam mungkin.
Luna:”Aaagggh mas,stop uuh enak banget uuuh” ucap Luna lalu segera meminta saya melepaskan pegangan saya di pantatnya.
Luna segera menaikin kedua paha saya dan menggenggam kontol saya.
Luna kemudian berjongkok dan menjilati kontol saya sebentar lalu memasukan ke dalam mulutnya. Tapi tak lama paling sekitar tiga menitan. Dia pun jongkok kembali.
Luna:”Udah keras banget kontolnya mas, kontol yang tadi siang sudah mengobrak abrik kehormatan aku, udah merampas kehormatan aku sebagai seorang ibu dan istri hihi”
Saya:”Masukan lagi Lun, biar aku obrak-abrik lagi kehormatan kamu hehe”
Luna:”Siap Mas” Luna pun mulai menurunkan pantatnya.
Kontol saya pun mulai membelah memeknya dan perlahan memasuki lubang hangat tersebut.
Luna:”Aaaah masuk mas, uugh aku istri mas Toni tapi kamu gagahi uuuuggh” ucap Luna sambil menekan pantatnya dan amblaslah seluruh kontol saya. Luna pun segera memaju mundurkan pantatnya sambil naik turun.
Saya:”Sempit banget memekmu Lun, uugh nikmat banget”
Luna:”uuuh kontol kamu juga enak mas uuuh panjang dan besaaar”
Saya pun memegang pantat Luna dan menaik turunkan pantatnya sambil dari bawah saya pun menyodokan kontol saya membuat kepala Luna terdongkak ke atas.
Luna:”Aaaanjir nikmat banget mas uuuh, basah momok aku”
Cploook..cploook..cploook bunyinya terdengar nyaring di tengah malam yang sunyi. Dari sebelah biar tidak terlalu jelas kami pun mendengar hal yang kurang lebih sama.
Luna:”aaah, mas, pasti istrimu juga lagi ewean sama Om Tirta”
Saya:”Belum tentu bisa lestari uuh”
Luna:”Bi Lestari kan tadi udah dikentot duluan di dapur sama Om Tirta” Ucap Luna sambil mempercepat gerakan naik turunnya dan juga maju mundur.
Luna:”aaakkh nikmat banget zinah maaas, pantes dilarang uuuhh”
Saya:”Ia say uuuh gila memek tersempit yang pernah aku ewe belakangan ini uuh”
Sambil mengentot Luna dari bawah tangan saya kini meremas-remas susunya luna yang ada bekas cupangan baik kiri maupun kanan. Begitu saya pencet air susu dari pentil Luna pun muncrat-muncrat dan segera saya membuka mulut menyambut asi Luna.
Luna:”Enak Mas, ngewe sambil mimi cucu”
Saya:”Enak banget, gak hanya memek kamu yang hangat, cucunya juga anget”
Luna:”Uggh aku gak kuat mas, cepetan entotnya”
Saya pun mempercepat kentotan saya. Luna terlihat mulai kepayahan.
Luna:”aaaaah anjiiir aku gak kuat uuugh” Luna pun terdiam da terasa memeknya berkedut.
Saya biarkan beberapa detik lalu saya genjot lagi, kebetulan sprema saya pun sudah diujung.
Tak lama saya pun segera menghujamkan kontol saya dalam-dalam dan crooot..croooot..crooot sprema saya kembali mengisi memeknya Luna. Luna langsung menelungkup di atas badan saya. Dia pun segera melumat bibir saya.
Luna:”Mas, lagi dan lagi dimuncratin di dalam momok aku”
Saya:”abis enak banget Lun, udah gak tahan”
Luna:”Koq masih keras ya mas, ngeganjel di momok aku hihi”
Saya merasa kontol saya memang masih sedikit keras, tapi sudah tidak sekeras sebelum keluar.
Saya:”Ia gak tahu, mungkin betah di memek kamu say”
Luna:”Ia mas, masih keras ih, nanti gancet hihi” ucap Luna sambil bangkit kembali.
Saya:”Hehe, ya jangan sampai gancet”
Luna pun kemudian berdiri dan kontol saya pun terlepas.
Luna:”Aku mau nyusuin Bobo sebentar ya mas”
Saya:”Ok Lun” Luna pun segera turun dari ranjang dan memakai celana dalamnya. Dia pun kemudian keluar dari kamar. Saya lihat Luna memungut behanya sebelum masuk ke kamar yang ditempati Dewi dan Tirta.
POV WIFE
Saya pun terbangun, saya lihat jam dinding sudah pukul 4 pagi. Ku lihat Lestari dan Tirta masih terlelap tidur.Aku pun menepuk-nepuk pantat Lestari agar dia terbangun, tak lama dia membuka mata dan tampak matanya begitu merah.
Lestari:”Apa Wi?
Saya:”Bibi, jam 3 pagi, bibi gak mau maen lagi kah, sama Tirta?
Lestari:”Aku ngantuk, capek banget, kamu saja sama Mas Tirta, bilangin aku nanti pagi aza” ucap Lestari sambil melepaskan diri dari pelukan Tirta lalu mengadap tembok membelakangi kami. Sepertinnya dia kecapean.
Saya pun berniat membangunkan Tirta,tadinya saya mau menepuk-nepuk badannya, tapi saya urungkan.
Perlahan saya tarik Tirta hingga terlentang. Kontolnya tampak masih layu. Perlahan saya genggam kontolnya dan saya koncok-kocok. Lama kelamaan semakin mengembang.
Tirta:”Uuuh Enak Dewi, pakai mulut kamu dong pelacur” Ternyata Tirta sudah terbangun.
Saya:”Kirain Om masih tidur, hehe”
Tirta kemudian menoleh ke arah Lestari.
Tirta:”Bibi kamu gak dibangunin?
Saya:”Udah Om, tapi katanya ngantuk banget, mungkin dia capek, katanya besok pagi dia layanin Om”
Tirta:”Oh, ya udah, gak masalah, saya pun kerepotan kalau harus langsung dua orang hehe, kalian ganas-ganas”
Saya:”Om juga harus ganas dong,eh malah ngobrol, aku isep ya?
Tirta:”kita pindah saja Wi, nanti anak-anak atau Lestari keganggu”
Saya:”Jadi kita mau ewean di mana?
Tirta:”Di sofa saja yuk, depan tv”
Saya:”Ya udah, kita pindah ke sana” Ucap saya hendak turun dari ranjang,tapi tangan saya di tahan oleh Tirta.
Tirta:”Aku punya permintaan Wi”
Saya:”Permintaan gimana Om?
Tirta:”Aku ingin menyetubuhi kamu dengan penampilan kamu seperti menemui aku, bisa?
Saya:”Bisa Om, kalau gitu kita mandi saja dulu, om, kita mandi bareng”
Tirta:”Kamu saja yang mandi ya, aku tunggu di sofa, aku kalau mandi bareng takut kelepasan aku ngentotin kamu”
Saya:”Ya sudah biar saya mandi dulu”
Tirta:”dandan yang cantik ya, aku tunggu” ucap Tirta.
Saya:”Pasti Om” ucap saya lalu turun dari ranjang. Plaak…Tirta menepok pantat saya.
Saya:Aaaw, sabar ya Om, aku mandi dulu”
Saya pun segera pergi ke kamar mandi. Saya pun membersihkan diri, terutama di bagian-bagian sensitive. Setelah bersih dan wangi saya pun keluar dari kamar mandi. Tampak pintu kamar tak lagi terbuka tapi sudah tertutup rapat.
Tak nampak Tirta,sepertinya dia sudah keluar kamar. Saya pun segera berdandan. Saya kenakan jilbab baru lagi, saya pilih jilbab warna putih, saya ambil atasannya baju lengan panjang berwarna merah muda,yang saya anggap baju say yang paling bagus. Baju saya panjangnya sampai pinggang, memiliki kancing di depan seperti kemeja.
Roknya saya ambil warna putih yang cukup tipis, atasnya polos, kecuali di bagian kaki ada motif bunga-bunga pas di mata kaki, Baju dan rok yang saya kenakan begitu ngepress karena kekecilan. Bulatan pantat dan payudara tercetak jelas. Untuk baju tidak terlalu nyeplak, tapi untuk rok cangcut saya sangat nyeplak, Saya kenakan cangcut warna putih.
Saya pun memakai stocking dan make up pun sayabuat tebal, dengan alis pun saya buat tebal seperti waktu saya menemui dia. Cukup lama, ku lihat sudah jam 4 pagi. Saya pun segera keluar dari kamar.
Tampak Tirta sedang duduk di sofa. Hanya memakai kaos dan sempak saja. Dia tampak sedang minum dari sisa botol yang masih tersisa, ada dua botol, terilhat satu botol masih utuh.
Saya pun segera duduk di samping dia.
Tirta:”Luar biasa, kamu cantik sekali Dewi, saya berntung sekali bisa meniduri pelacur berjilbab secantik kamu” Ucapnya sambil tangannya merabai dada sayayang menonjol karena gaun yang saya pakai sangat ngepress.
Saya:”Aaaah, Om main cabak(raba) susu aku aza” ucap saya sambil mendesah dan bersender di sofa.
Tirta pun menaruh 2 botol minuman yang tadi di sofa ke bawah samping sofa.
Tercium bau minuman begitu menyengat dari mulutnya.
Tirta pun memegang kepala saya dan langsung melumat bibir saya. Lidah kami saling bertautan dan bergantian kami saling menyedot lidah, kami berciuman dengan sangat panas. Aku sempat mencuri pandang ke kamar lestari. Tak nampak aktivitas, sepertinya Luna dan suami saya masih tertidur.
Tirta pun sepertinya mengetahui yang saya lakukan. Dia pun melepaskan bibir saya.
Tirta:”Suami kamu sepertinya masih tidur”
Saya:”Ia Om” ucap saya dengan suara lemah.
Tirta:”Kamu mau minum?
Saya:”Boleh Om, dikit aza” ucap saya.
Tirta segera bangkit dari sofa dan mengambil gelas dari nampan yang ada di bawah.
Tirta pun menuangkan minuman beralkohol tersebut ke dalam gelas, hanya seperempat saja.
Tirta pun menyodorkan kepada saya. Saya pun perlahan meminumnya. Akhirnya habis juga.
Tirta tampak tersenyum puas.
Tirta:”Bagus Dewi” ucapnya sambil merapatkan badannya ke badan saya. Saya pun menaruh gelas ke bawah sofa.
Tirta menarik badan saya agar lebih mendekat kepadanya. Kemudian dia membuka beberapa kancing baju saya. Sepertinya dia sengaja tidak ingin melepas semua baju saya.
Bh saya yang warna cream pun terlihat, ini ada bh lama, dansudah kekecilan, susu saya pun begitu menggembung. Perlahan Tirta menjulurkan lidahnya dan mejilati permukaan susu saya.
Tak lama dia melepas semua kacing baju saya hanya menyisakan satu kancing yang di atas. Tangannya segera menarik cup bh saya ke atas. Susu saya pun segera terbuka. Tirta pun mendorong saya hingga terlentang di sofa. Kini lidahnya menelusuri pinggiran puting susu saya, membuat saya menggenlinajang.
Kemudian lidahnya mulai menjilati pentil susu saya, dia tak nampak terburu-buru. Sebelah tangannya meremas-remas susu satunya, cairan susu saya pun keluar membuat payudara saya basah. Kemudian Tirta mulai menghisap puting susu saya.
Saya:”Aaah Om nikmat uuuh isep nenen aku Om” Tirta pun menyedot asi yang keluar dari susu saya.
Tirta kemudian bergantian menghisap pentil susu saya dan melahap asi yang keluar.
Kemudian setelah puas Tirta kembali mencium bibir saya dan berbisik di telinga saya.
Tirta:”Kita main bareng yuk sama suami kamu”
Saya:”Maksudnya Om?
Tirta:”Barengan, tapi gak tukeran, aku tetap sama kamu, suami kamu sama Luna, biar lebih bergairah saja”
Saya:”Om mau suami aku lihat waktu om gagahin aku gitu?
Tirta:”kayaknya pasti lebih menggairahkan”
Saya:”Ya udah aku bilang ke suami aku dulu ya”
Tirta pun segera minggir dan saya pun bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar di mana suami saya dan Luna berada tanpa membenahi pakaian saya.
Saya lihat mereka masih tertidur sambil berpelukan di dalam selimut.
Saya pun mengguncang-guncang tubuh suami saya. Suami saya pun menggeliat dan melihat saya. Dia cukup terkejut melihat penampilan saya.
Saya:”Pah, Om Tirta pengen maen di sini, dilihatin Papah dan Luna, boleh?
Suami:”Hah, kamu ?
Saya:”Ia Pah, tadi aku dan dia di sofa”
Suami:”Lestari?
Saya:”Bi Lestari gak mau bangun, capek katanya, aku bawa Om Tirta ke sini ya”
Suami:”Aku Tanya Luna dulu” suami saya pun mengguncang-guncang tubuh Luna, Luna pun segera bangun, dan suami saya menceritakan yang saya omongin barusan.
Luna:”Kenapa harus sama kita sich?
Saya:”Dia mau gagah-gagahan, dia mau gagahi aku di depan Mas Dendi, itu bikin dia lebih bergairah”
Luna:”Oh, mungkin juga, soalnya pasti semua merasa puas kalau bisa menyetubuhi istri orang depan suaminya hehe, aku gak keberatan, lumayan nonton bokep, mas Dendi?
Suami:”Aku dah biasa lihat Dewi ditidurin orang depan aku, jadi gak masalah, kalau sange kan ada kamu”
Saya:”Thanks Pah, aku mau Om Tirta Puas” ucap saya lalu keluar dari kamar. Saya pun melambaikan tangan kepada Tirta.
Tirta pun segera masuk ke dalam kamar mengikuti saya. Saya terkejut karena ternyata suami saya dan Luna sudah duduk di tepi ranjang dan mengkosongkan ranjang, suami saya telanjang tidak menggunakan kain sehelai pun sedang Luna masih menggunakan beha dan cangcut.
Luna:”Silahkan Om, pelacurnya di bawa naik ke kasur, hihih”
Saya:”Awas ya Lun…hihi” Ucap Saya sama-sama merasa lucu.
Saya pun segera naik ke ranjang dan duduk dan segera diikuti oleh Tirta. Kami kemudian diam beberapa saat.
Luna:”Udah, main aza, malah pada diam”
SUami saya tidak berkomentar hanya focus melihat kepada kami berdua.
Saya pun menatap Tirta dan menganggukan kepala saya agar Tirta memulai kembali.
Tirta pun kemudian memeluk saya dan kepalanya kembali mencaplok payudara saya.
Saya:”Aaaah isep Om puting susuku uuwh” ucap saya dengan merem melek sambil menatap suami saya dan saya tersenyum kepadanya.
Suami saya tampak mengambil kursi dari meja rias dan duduk di sana lalu terlihat memberi kode sama Luna agar duduk dipangkuannya. Luna pun kemudian duduk dipangkuan Dendi, entah kenapa hati saya koq sedikit panas melihat mereka begitu mesra. Luna terlihat sengaja memanasi saya. Tangannya di kalungkan di leher Dendi sambil membelakangi saya. Mereka tampak berciuman.
Saya pun tak mau kalah, segera saya panasin suami saya.
Saya:”aaakh, Pah, nenenmamah dicupang sama Om Tirta” ucap Saya, memang Tirta baru mendaratkan satu lagi cupangan di dekat pentil susu saya yang sebelah kiri.
Luna kini sudah berbalik dan melihat ke saya dan Tirta. Sementara tangan suami saya berada di dalam kutang Luna, meremas-remas susunya Luna.
Sementara Tirta kin membuka kancing terakhir baju saya dan melepaskan baju saya. Tirta kemudian merebahkan badan saya dengan kepala saya mengarah ke tepi ranjang ke arah suami saya dan Luna.
Tirta merentangkan tangan kanan saya dan segera menjilati ketiak saya yang berbulu lebat.
Saya:”Aaaah geli Pah, tolong, ketiak mamah dijilati Om Tirta aduuuuh” saya pun menggeliat karena memang geli. Saya agak sulit melihat ke suami saya dan Luna karena posisi kepala saya.
Tirta kemudian berpindah menjilati ketiak saya yang sebelah kiri, hingga ketiak saya basah oleh air liur Tirta.
Kemudian Tirta meminta saya bangun. Dia menurunkan sempaknya sendiri. Tampak Kontolnya langsung mencuat ke atas.
Tirta:”Wi jepit pakai susu kamu ya”
Saya:”Ia Om, Pah aku jepit kontolnya Om Tirta pakai toked aku ya” ucap Saya sambil melihat suami saya dengan memasang muka nakal.
Suami saya tampak berbisik ke pada Luna.
Luna pun langsung menghampiri saya.
Luna:”Kak Dewi, aku lepasin kutang kakak ya, biar kakak leluasa kasih tits fuck” ucap Luna yang segera memuka kait kutang saya yang ada dipunggung. Lalu Luna pun menarik kutang saya hingga terlepas dan membawanya kepada suami saya. Lalu dia mengalungkan kutang saya yang berwarna cream tersebut di Leher Dendi dan duduk kembali dipangkuan suami saya sambil melihat kami.
Setelah itu saya segera menaruh kontol Tirta di tetek saya dan saya jepit lalu saya pun memaju mundurkan badan saya.
Tirta:”Aaah enak banget Dewi, terus pelacurku yang berjilbab, enak banget” ucap Tirta.
Kontol Tirta pun semakin mengeras. Tirta menarik kontolnya dan kini mengarahan ke mulut saya. Saya pun segera memasukan kontol Tirta ke mulut saya. Kepala saya pun segera maju mundur. Kontol Tirta pun semakin keras saja.
Tirta:”Enak banget sepongan istri Pak Dendi ini, istri pak Dendi memang pelacur professional” ucap Tirta melecehkan saya dan suami saya.
Saya pun melirik suami saya, tampak dia sedang menjilati leher Luna yang sekarang sudah tak lagi mengenakan kutang.
Tirta kemudian meminta saya rebahan. Saya pun segera rebahan dan posisi saya sekarang menyamping dari posisi suami saya dan Luna. Tirta tampak menarik turun rok saya hingga terlepas. Tinggalah cangcut dan jilbab yang masih menempel di badan saya.
Tirta pun segera melepas kaosnya dan melemparnya ke lantai, tangan Tirta hendak menurunkan cangcut saya.
Tirta:”Pak Dendi, saya lepas cangcut istri bapak ya, saya pengen jilatin heunceutnya” ucap Tirta
Tapi segera dicegah oleh Luna.
Luna:”Biar Luna yang bukain Om” Ucap Luna dan segera turun dari pangkuan suami saya dan naik ke ranjang. Luna pun segera memegang karet cangcut saya dan menariknya turun. Saya pun mengangkat pantat saya agar memudahkan Luna menarik cangcut saya.
Cangcut saya warna putihpun segera terlepas.
Luna pun segera turun dari ranjang dan plaaak…
Luna:”Awww, Om nakal tepok pantat Luna” ucap Luna memasang muka cemberut karena pantat nonggengnya baru saja ditepok oleh Tirta.
Saya:”Hehe “ saya pun tertawa.
Luna segera berlari membawa cangcut saya dan menaruh di kontol suami saya yang sudah ngaceng. Luna pun duduk di bawah kursi sambil mengurut-ngurut kontol suami saya menggunakan cangcut saya.
Sementara Tirta segera melebarkan kedua kaki saya hingga mengangkang lebar.
Tirta:”Pak Dendi, saya jilatin ya henceut istrimu yang pelacur ini” ucapnya.
Lalu dia menunduk dan menjulurkan lidahnya menelusuri memek saya.
Tirta:”Lebat banget jembut kamu Dewi”
Saya:”Uuuh Om, suami aku yang gak ngebolehin aku nyukurin baok heunceut aku om” ucap saya sambil menatap sayu suami saya.
Saya:”Aaah, Pah, lidah Om tirta masuk ini ke hencuet mamah uuh enak Om” ucap saya dan menekan kepala Tirta agar terbenam di memek saya.
Tirta pun segera mengerjai memek saya.
Saya:”Aaaah, kenain di itilnya Dewi Om, ia disitu uuuh enak Om, itil mamah enak Pah, kena lidah om Tirta” ucap Saya. Tampak Luna kini sedang memaju mundurkan kepalanya di mana kontol suami saya berada di mulutnya.
Lidah Tirta masuk semakin dalam di memek saya, sebentar saja memek saya pun basah, apalagi memek saya dijilati sambil di lihat suami saya membuat saya cepat basah.
Tirta menghentikan jilatannya dan kemudian memeberi intruksi aga saya menungging dan menghadap Luna dan suami saya.
Saya pun segera menungging sesuai permintaan Tirta. Kini Tirta sudah ada dibelakang saya sambil meremas-remas pantat saya.
Tirta:”Pak Dendi izin ya, saya mau entot istri bapak” ucapnya.
Suami:”Entot saja pak, biar dia kapok”
Saya:”Papah jangan marah ya, kan Om Tirta udah bayar biar bisa ngewe heunceut mamah” ucap saya dan Bleeeesek. Tirta tiba-tiba memasukan kontolnya ke memek saya.
Karena sudah basah kontol Tirta pun dengan mudah memasuki memek saya.
Ploook..ploook…ploook Tirta pun mulai menyetubihi saya. Ujung hijab saya menjadi pegangan dia.
Saya:”aaaahkkk Pah enak banget, kontol Om Tirta besar dan panjang seperti punya pah aaaah, kontooool” ucap saya. Kepala saya beberapa kali terdongkak oleh hantaman Tirta.
Saya lihat Luna masih menjilati kontol suami saya, sepertinya mereka belum akan ngentot tapi lebih suka menonton saya disetubuhi Tirta.
Tirta kini ikut menungging dan tangannya memegang susu saya lalu dia kembali mengentot memek saya.
Tirta:”Pak Den, Heunceut istri bapak enak banget, rasanya memijat kontol saya dari dalam” ucap Tirta memanasi suami saya.
Plook…ploook…plook benturan pantat saya dan paha Tirta terdengar nyaring.
Saya:”Sodok heunceut Dewi yang dalem Om, ooooh nikmaaat Papah, ewean jero sama Om Tirta” saya mulai kelojotan. Dikentot depan suami sendiri membuat saya merasa excited.
Tirta:”Gila, bini Pak Dendi memang binal, saya suka banget”
Saya:”Om Suka, Om puas”
Tirta:”Ia Dewi, uuh nikmat heunceut kamu, Dewi Om Puas, kamu binal uuh, sesuai denga tato di pantat kamu, cewek berjilbab yang binal”
Tirta pun semakin mempercepat sodokan kontolnya. Memek saya pun semakin basah. Cploook…cploook..cppploook..
Saya:”Om suka gagahin aku depan suami aku”
Tirta:”Om suka banget Dewi uuuh”
Saya:”Pah, Om Tirta suka banget gagahin mamah depan Papah uuh, terus Om, zinahi aku, sampai kontol dan heunceut kitaganceeeet”
Tirta:”Kamu binal banget Dewi, Om gak kuat”
Saya:”Aaakh barengan Om Dewi pun mau keluar”
Tiba-tiba Tirta mencabut kontolnya dan langusng rebahan.
Saya pun segera menaiki paha Tirta.
Saya menoleh kepada suami saya yang masih disepong oleh Luna.
Saya:”Pah, mamah masukan lagi ya, kontol Om Tirta ke heunceut mamah” ucap saya sambil menurunkan pantat saya.
Bleeees… kontol Tirta pun segera tertelan memek saya yang sudah sangat basah. Saya pun segera naik turun. Sementara si Tirta meremasi susu saya sambil merem melek. Asi saya pun muncrat-muncrat mengenai dada Tirta.
Tirta:”Mantap Pak Dendi, air susu istri bapak sampai muncrat-muncrat”
Saya:”Uugh ia om,susu aku makin gede, dulu aku cuman pakai kutang ukuran 36 sekarang no kutang Dewi sudah 40 om”
Tirta:”Selain kamu bunting, karena terlalu banyak yang remas susu kamu Dewi, puting susu kamu juga sampai panjang”
Saya:”Aaaakh Om, tusuk yang dalem henceut Dewi dari bawah aaaaah, Dewi udah gak kuat”
Tirta:”Aaah bentar lagi barengan lonte, pelacur seperti kamu memang harus diewe depan suami kamu eeegh dan aku pejuhin”
Saya:”Gak kuat Om, ia, pejuin heunceut akuuuuu”
Tirta:”Om Juga gak kuat, barengan ya lonte”
Saya:”Aaakh pah, mamah ini lonte, uuuhggg mamah keluar” ucap saya sambil mengejang dan Tirta pun memegang pantat saya sambil mengengkat pantatnya ke atas menjejalkan kontolnya sedalam mungkin.
Crooot..crooot..crooot sprema Tirta terasa banyak lebih banyak dari tadi malam mengisi memek saya.
Saya:”Aaah…aaaaah..aaaah…aaaah” setiap semprotan sperma Tirta membuat saya mendesah nikmat.
Saya:”Pah, dinding heunceut mamah disemprot peju Om Tirta” ucap Saya sambil menioleh ke suami saya yang kini lagi menjilati susu Luna yang sudah duduk dipangkuannya lagi saling berhadapan.
Saya kemudian tersungkur dan Tirta segera menarik kepala saya, kami pun segera berciuman. Mata saya menatap suami saya sambil lidah saya disedot-sedot Tirta.
Lalu kemudian saya berguling ke samping tubuh Tirta. Bada saya terasa lemas dan dilolosi. Tirta lebih gagah dari tadi malam, mungkin pengaruh obat baru bereaksi.
Saya pun mengangkang dan lelehan sprema membasahi paha saya keluar dari memek saya.
Sementara Tirta segera bangkit dan pamit.
Tirta:”Bu Dewi, pak Dendi, Luna saya duluan ya, Pak Dendi monggo dilanjut entot Mbak Luna” ucapnya dan segera keluar dari kamar.
Saya:”Pah, ayo ewe Luna, mamah mau nonton”
Suami saya tampak menggendong Luna menuju saya yang terbaring di kasur.
Lalu dia menjatuhkan Luna disamping saya.
Suami:”Kamu binal banget mah, gila”
Luna:”ia kak, aku baru lihat langsung kakak diewe, binal banget, kakak memang istri yang binal”
Saya:”Ayo Lun,biar sesuai dengan lagunya”
Luna:”Maksudnya gimana kak?
Suami pun sepertinya tak mengerti maksud saya. Kini dia sdh menggesek-gesek kontolnya di bibir memeknya Luna.
Saya:”Itu Lun, Pah, kalau lagu sunda kan gini, cadas panger*n baheula hujan cimata, nah kalau lagu kita, Antapan* kiwari banjir ci mani”
Luna:”haha bisa saja, masukin kontolnya mas”
Saya:”Sini biar aku pegang” ucap saya sambil bangun dan memegang kontol suami saya lalu saya arahkan dan saya masukan ke memeknya si Luna.
Luna:”Aaaakh, enak Kak, ayo mas kentot Luna”
Dendi pun mulai memaju mundurkan pantatnya dan menyetubuhi adikku Luna.
Saya:”Gimana Pah, sempit kan memeknya adikku?
Suami:”Sempit banget mah”
Saya:”Kecil banget memek kamu Lun” ucap saya sambil memaikan tangan saya di itilnya Luna
Luna:”aaah kak enak banget uuh itilnya Luna uugh”
Sementara saya lihat suami saya mengewe Luna sambil tangannya meremas-remas susu adik saya.
Ploook…plooook…ploook
Luna:”aaah maaaas, enak banget, sodok yang dalam kontolnya mas” ucap Luna semakin merintih keenakan.
Saya:”Enak Lun, Enak mana sama dientot Toni”
Luna:”sama enaknya kak uuuhhhh,ewe yang dalem mas” ranjang pun bergoyang seiring gerakan maju mundur suami saya.
Saya:”masa sich? Yang bener?
Luna:”uug ia, tapi besaran dan panjangan kontol mas Dendi uugh” Suami saya kini mendekap tubuh Luna dan semakin cepat mengewe memeknya Luna.
Luna pun semakin tak karuan, tangannya meremas seprai.
Luna:”Aaaagh, aku gak kuat mas, cium aku sayang”
Suami ku pun melumat bibirnya Luna di bawah tatapan mata saya yang duduk menyaksikan mereka ewean, tadi mereka yang menyaksikan aku diewe Tirta.
Luna:”Aaakh Mas gak kuat, Luna keluar”ucap Luna yang lalu mengejang, tangannya meremas kain seprai.
Suami saya pun semakin mempercepat genjotannya.
Saya:”Mau keluar Pah, keluar dimemeknya Pah, bikin dia bunting” ucap saya sambil menepuk-nepuk pantatnya Dendi.
Suami:”Aaaakh Aku keluar” ucapnya sambil menekan kontolnya dalam-dalam.
Luna nampak sedikit berontak.
Luna:”aaaakh kamu keluarin lagi di dalam momok aku mas”
Saya:”Kenapa memang Lun”
Luna:”suami teteh itu, dari kemaren keluarnya di momok aku mulu, padahal aku lagi subur”
Saya:”Hahah, bagus biar kamu beneran bunting”
Luna:”amit-amit ,aku bunting dari hasil zinah dong kak?
Saya:”Ia lah,sama kayak aku” ucapku berbisik pelan di telinga Luna.
Luna:”Mas Dendi berat, udah cabut kanjutnya”
Suami saya pun berguling ke samping Luna. Tampak Memek Luna merekah, lubangnya belum nutup da nada cairan putih yang keluar meleleh.
Saya:”Ya udah, kalian istirahat dulu ya, aku mau mandi” ucap saya tanpa menunggu jawaban saya pun pergi dari kamar Bi Lestari. Baju saya , saya biarkan berantakan di lantai.
Saya pun kembali ke kamar, ternyata sudah hampir jam 6 pagi. Saya tidak melihat Lestari maupun Tirta. Saat mau masuk kamar mandi, ternyata kamar mandi di kunci dari dalam.
POV Lestari
Aku masih tertidur dalam keadaan telanjang sampai seseorang menepok nepok pantatku.
Tirta:”Tari, bangun, temenin aku mandi”
Aku pun terkejut dan lantas berbalik badan, tampak Tirta yang tak memakai pakaian apa-apa juga, dan kontolnya menggantung loyo.
Saya:”Kamu udah eweannya sama Dewi?
Tirta:”Udah, temenin mandi yuk”
Saya pun masih dengan sedikit malas akhirnya bangun, tangan saya di tuntun Tirta masuk ke dalam kamar mandi. Tirta lalu mengunci pintu dan memeluk saya lalu mencium bibir saya, tangan meremas-remas pantat saya.
Saya:”Kamu masih kuat mas?
Tirta:”Aku baru keluar Tari, kamu harus buat kontol aku bangun lagi” Ucap Tirta yang lantas menggendong saya dan menuju shower.
Tirta segera menurunkan saya dan menghidupkan shower, airnya segera menyirami saya, begitu terasa dingin mungkin efek saya tidur tanpa busana dan ac tetap menyala.
Tapi lama kelamaan air semakin hangat. Saya dan Tirta pun segera berada dalam guyuran air hangat. Saya pun segera mengambil sabun dan mulai menyabuni Tirta mulai dari ujung kaki sampai pangkal paha. Kontolnya menjadi perhatian saya dan langsung saya cuci dan sabunin. Saya berlama-lama menyabuni kontol Tirta tapi hanya sedikit mengeras. Saya pun segera membersihkan bagian bawah tubuh Tirta dari mulai pangkal paha sampai kaki.
Segera dengan masih dalam guyuran air saya memasukan kontol Tirta yang sudah saya bersihkan ke mulut saya, masih ada sedikit bau sabun. Tirta pun memaju mundurkan kontolnya dan menyodok mulut saya, ajaib perlahan kontolnya kembali mengeras.
Saya pun menaruh kontol Tirta di belahan payudara saya dan mulai maju mundur. Saya pun tersenyum, setidaknya usaha saya berhasil perlahan kontol Tirta semakin mengeras. Tirta pun menarik saya untuk berdiri.
Tirta:”Kamu peluk aku Tari”
Aku pun segera memeluk Tirta dengan mengalungkan kedua tangan di lehernya. Tirta pun kemudian melebarkan kaki saya dan mengarahkan kontolnya ke memek saya. Perlahan dia mendorong kontolnya dan bleeeess…
Kontolnya pun tertelan memek saya. Tirta pun segera mengangkat badan saya dan mulai mengenjot memek saya dengan posisi saya digendong oleh dia.
Saya:”aaaah, mas, enak banget uuuh” ucap saya dan air hangat terus menyirami tubuh kami. Tirta mulai menaik turunkan badan saya.
Tirta:”Aaakh enak memekmu Tari, kamu harusnya tadi lihat bagaimana aku menggagahi si dewi pelacur depan suaminya”
Saya:”Aaakh mas hebat banget, harusnya mas menggagahi aku depan suami aku si Juna”
Tirta:”Kita akan mewujudkannya Tari” ucap Tirta sambil menurunkan badan saya, sepertinya dia kelelahan mengangkat badan saya.
Saya:”Mas, Dendi punya kamera, boleh kita rekam, aku nanti mau kirim video aku diewe sama kamu ke si Juna”
Tirta:”Kata Dewi tak boleh ada kamera atau rekaman?
Saya:”Ini kan antara kita, gak ada Dewi”
Tirta:”Ok, kamu ambil Tari”
Saya pun segera keluar dari kamar mandi dengan tubuh basah. Saya pun mengambil kamera dari laci yang ada di kamar, saya tahu karena Dendi pernah merekam persetubuhan kami.
Saya pun segera kembali ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi. Saya menaruh kamera yang sudah saya nyalakan dengan mode rekaman di atas bak mandi, saya beruntung karena baterainya penuh.
Tirta menyuruh saya menungging dan berpegangan di tembok kamar mandi. Segera saya melakukan yang diminta Tirta. Sementara Tirta segera berada di belakang saya dan mulai mengarahkan kontolnya ke memek saya.
Bleeeees….kontol Tirta pun kembali bersarang di memek saya.
Saya:”aaah mas enak banget kontolnya uuugh Juna kamu harus lihat binimu diewe orang uuuh enak kontolna badag”
Ploook…ploook…ploook sambil memegang pantat saya Tirta pun memaju mundurkan kontolnya.
Tirta:”Juna, heuncuet istrimu nikmat, dia bakal gue kawinin dan gue jadikan bini,uuugh heunceut enak gini kamu sia-siakan”
Saya:”Aaah sodok yang dalam sayang aaaah, remes susu aku” ucap saya sambil mengarahkan tangan Tirta agar meremasi susu saya.
Tangan Tirta pun segera meremasi susu saya sambil kontolnya keluar masuk dengan cepat di memek saya.
Saya:”aaakh nikmat banget mas, pasti tadi Dewi keenakan juga ya sayang”
Tirta:”ia, kamu harusnya aku liat bagaimana aku kontolin si Dewi dan bikin dia menggelepar di depan suaminya” ucap Tirta penuh semangat. Tangannya tak berhenti meremasi susu saya. Leher saya pun terus dia cupangin.
Saya:”Uuugh nikmat mas, kontolnya masuk dalem banget uuuhhh, memek aku basah”
Tirta:”Heunceut kamu hangat sayang uugh nikmat meremas kontol aku”
Ploook..plooook…ploook Tirta pun semakin cepat ngentotin memek saya.
Saya:”Aaaah, tari gak kuat lagi mas, nikmat banget iiih, ngeweeee”
Tirta:”Aaaakh aku juga gak kuat Tari, kita barengan”
Saya:”Buntingin aku mas, Juna lihat kontol gede Tirta bakal buntingin memek aku uuuh”
Tirta:”Heunceut binimu bakal aku bikin bunting uuuuh”
Saya:”Aaaaah, Tari gak kuat mas, tusuk yang dalem aaaaaah”
Tirta:”Aku juga Tari uuuhhh” croot…crooot…crooot
Pejuh Tirta pun membasahi memek saya, walau tak banyak cukup membuat saya melayang.
Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sia orgasme kami.
Saya:”Udah mas”
Tirta:”sudah saya, kamu mau jadi istri aku?
Saya:”Kamu serius?
Tirta:”Ia aku serius, asal kamu mau nerima aku apa adanya, kehidupan kita, seks kita”
Saya:”Ia mas makasih, kalau mas serius aku akan pikirkan, aku harus bisa cerai dulu dari Juna”
Tirta:”Kalau kamu perlu bantuan aku bilang saja, aku bisa sewa pengacara”
Saya:”Ia mas, udah ayo kita mandi”
Kami pun kemudian mandi lagi dan saling menyabuni. Selesai mandi kami pun segera keluar kamar. Saya pun membuka gorden dan tampak sudah terang, ternyata sudah setengah tujuh. Saya pun segera memakai handuk dan keluar dari dalam kamar, sementara Tirta sedang memakai baju.
Saya pun segera keluar kamar, tampak Dewi yang sudah rapi memakai baju panjang tanpa jilbab dan Luna yang memakai jilbab putih dan kaos belang-belang lengan panjang dan celana jeans biru ketat sedang membereskan ruang tengah yang di mana pakaian mereka berantakan di sana sini.
Dewi:”Ih, tadi ewean ya, pakai dikunci segala”
Saya:”Jorok banget kamu Wi, ia, ampe pegel memek bibi”
Dewi:”Ya udah pakai baju sana, entar Deni lihat bibi begitu malah dikentot”
Saya pun tersenyum dan segera masuk ke dalam kamar.
BERSAMBUNG…..
Part B
POV SUAMI
Saya pun segera menjalankan mesin dan keluar dari parkiran mengikuti mobil si Tirta. Jalanan cukup padat terutama di sekitaran mall. Saya lihat langit gelap, sepertinya mau turun hujan.
Saya:”Mendung ya Lun?
Luna:”Ia mas, kayaknya mau hujan ya, enak nich”
Saya:”Enak gimana, kalau hujan malah gak nyaman perjalanan, macet lagi”
Luna:”Enak, kan dingin, dingin-dingin itu paling enak kalau ngewe hihi”
Saya:”Hehe, ya mudah-mudah pas di rumah nanti tetap hujan ya"
Luna:”Amiin hihi”
Saya:”Pelan banget mereka ya?
Luna:”Kan lumayan macet mas”
Saya:”Tapi gak kayak gini juga” Saya lihat Tirta begitu pelan menjalankan mobilnya.
Luna:”Mas Kenapa? Khawatir ya istrinya diapa-apain? Hehe, kan udah ada perjanjian dan dibayar hihi”
Saya:”Tetap aza, gimana ya Lun”
Luna:”Itu artinya kamu tetap sayang dan cinta sama istrimu mas, udah yang penting istrimu menikmati juga”
Saya:”Kalau begitu biar aku menikmatin kamu juga hehe”
Luna:”Yiah, ke situ, tapi aku ready koq hehe” ucap Luna sambil tersenyum genit.
Saya pun segera membuka celana resleting saya. Tangan Luna segera merogoh ke dalam dan mengeluarkan kontol saya dari dalam cd.
Luna:” udah ngaceng mas, panjang dan besar” ucap Luna yg lalu menyingsingkan hijabnya dan lalu mencaplok kontol saya.
Sluruuup…slurruuuup
Luna mulai menjilati kontol saya dan perlahan naik ke kepala kontol saya, saluran kencing saya pun dijilatinya.
Saya:” aaaahhh , enak Lun”
Luna:”Ini kanjut yang tadi siang udah ngobrak-ngabrik momok aku,hihi” ucap Luna tentu untuk menaikan birahi saya.
Luna:”Kepalanya unggu seperti jamur hehe, tadi siang udah menodai momok aku dan merampas kehormatan aku, bikin memek aku perih hihi” ucapLuna sambil lidahnya menggelitik liang kencingku.
Saya:”Aaah enak sayang uuuhh geli uuuh”
Luna:”Konsen nyetirnya mas hehe, aku mau mimic es cream dulu” ucapnya sambil mencaplok kepala kontol saya lalu mulai memaju mundurkan di mulutnya.
Luna menatap saya dengan tatapan nakal dan binal. Luna pun berusaha memasukan seluruh kontol saya ke dalam mulutnya, walaupun tidak bisa masuk semua masih tersisa sebagian meski dia sampai mengeluarkan air mata.
Luna pun kemudian menjilati buah zakar saya dan bahkan dicaplok hingga masuk semua ke dalam mulutnya.
Saya:”Aaaakh, terus Lun, uughh, enak uuuh isep lagi sayang” ucap saya sambil terus konsen untuk nyetir, saya pun semakin perlahan menjalankan mobil saya. Kaca Mobil yang cukup gelap sampai lebih dari 50% membuat saya leluasa.
Luna pun kembali memasukan kontol saya ke dalam mulutnya. Saya pun menekan kepalanya supaya kontol saya masuk semakin dalam…
Luna:”Mmmopppppm….aaaaah”
Saya:”Oh Enak Lun aku bisa keluar ini”
Luna:”Mmmmpz” sambil menganggukan kepalanya, mungkin memberi tahu untuk keluarkan saja.
Luna pun semakin mempercepat gerakan memaju mundurkan kepalanya. Hingga saya pun tak tahan lagi dan saya pun memegang kepala Luna dan saya tembakan sprema saya di dalam mulutnya. Luna tampak melotot saya tak mengerti maksudnya dan mendorong saya. Saya pun segera menarik kontol saya keluar dari mulutnya.
Tampak Luna terengah-engah dan terbatuk-batuk beberapa kali.
Luna:”Mas, koq main tembakan aza di mulut Luna sich?
Saya:”Hehe maaf kirain tadi kamu kasih kode sambil mengangguk.
Luna:”Ia maksudnya keluarin tapi gak di mulut juga kali”
Saya:”Sorry kamu marahkah, terus gimana?
Luna:”Gak gimana-gimana udah aku telen juga mas, nah habis kan” ucap Luna sambil membuka mulutnya.
Saya:”Ia maaf, habis gimana mau 100% paham”
Luna:”Ia, gpp, aku gak terbiasa nelen peju”
Saya:”Jadi baru kali ini?
Luna:”Gak juga,tapi jarang, dulu waktu kuliah seiring hehe”
Saya:”Hah, peju suami atau orang lain?
Luna:”Peju Toni ia, peju orang ia juga”
Saya:”Tapi yang merawani kamu Toni kan?
Luna:”Ia, kalau ngentot Cuma baru sama Toni aza, kecuali sekarang sama kamu juga”
Saya:”Dulu kamu paling nakal ya dibanding kakak-kakak kamu” ucap saya sambil memasukan kontol saya kembali dalam celana.
Luna pun sudah duduk seperti biasa kembali di jokmobil.
Luna:”Hehe ia, tapi sekarang kak dewi, istrimu yang paling nakal dan binal, gak nyangka aku juga bisa gitu”
Saya:”Ia lost control jadinya, susah aku juga mengendalikannya”
Luna:”Mas, biar kak Dewi kakak aku, tapi aku gak suka dia terlalu ngatur kamu mas, kamu kepala keluarga yang harus bisa kendalikan dia”
Saya:”Ia Lun, tapi kadang aku gak tega mau keras sama dia” Ucap Saya. Rasanya memang agak berat.
Luna:”Mulai sekarang kamu harus tegas sama dia mas, jangan mau diatur-atur, kamu yang yang atur Kak Dewi, sesuai keinginan kamu”
Saya pun manggut-manggut, mudah diucapkan tapi sulit untuk diaplikasikan.
Saya lihat Mobil Tirta masih saja melaju dengan lambat.
Saya:”Koq masih lambat mobil si Tirta ini, apa mereka lagi ngentot ya?
Luna:”Gak mungkin kalau istrimu lagi dientot sama Om Tirta, dia kan nyetir, kecuali Bi Lestari yang nyetir, secara bi Lestari duduk di belakang”
Saya:”Ia juga sich”
Luna:”Paling kalau istrimu gak nyepong kontol Om Tirta, istrimu lagi digrepe-grepe Om Tirta”
Saya:”Ia Juga ya…” ucap saya sambil tangan saya mulai meraba paha Luna.
Luna:”Kamu ini mas, langsung terinspirasi ya”
Saya:”ia dong, gak mau kalah aku” ucap saya, tangan saya kini sudah naik ke dekat pangkal paha, Luna pun connect dan membuka lebar pahanya. Tangan saya segera masuk ke dalam celana kulotnya dan masuk ke dalam celana dalamnya.
Tangan saya mulai merabai memeknya Luna. Bulunya tak terlalu lebat membuat tangan saya bisa langsung menyentuk belahan memeknya.
Luna:”Aaah Mas, enak, mainin di itilnya mas” ucap Luna sambil memegang telapak tangan saya dan mengarahkan ke posisi yang diinginkan.
Luna:”Aaah, mas enak” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya ke arah saya dan merem melek, tentu konsentrasi saya sedikit terganggu, saya pun semakin memelankan laju kendaraan.
Luna:”Aaah, basah memek aku mas, bentar aku turunin celana sama cangcut aku” ucap Luna dan menjauhkan tangan saya. Luna segera menurunkan celana kulot panjangnya dan celana dalamnya sampai lutut..
Tangan saya kembali meraba memek Luna yang sudah sangat basah. Kini saya masukan dua jari saya ke dalam memeknya. Saya pun mulai mengeluar masukan jari saya ke dalam memeknya. Luna pun mengerang kenikmatan, saya pun menyetel music lumayan kencang untuk meredam suara Luna walaupun tanpa music tentu tak akan terdenganr dari luar.
Luna:”Aaah terus aku gak kuat mas” ucap Luna yang lalu mengejang sambil menggenggam tangan saya. Terasa semprotan dari memek Luna ke tangan saya membuat jari dan telapak tangan belepotan cairan Luna.
Saya pun menarik tangan saya dan membersihkan dengan tissue dan konsentrasi menyetir kembali. Luna pun segera mengambil tissue dan mengelap memeknya menaikan celananya dan memakainya kembali. Hujan sudah reda dan kami sudah memasuki daerah antapa*i. Sekitar 15 menitan kami pun sampai di rumah. Saya pun memarkir mobil kami tepat di depan teras rumah karena parkiran sudah penuh.
Saya dan Luna pun segera turun dari mobil. Saya segera mengeluarkan barang dari dalam bagasi. Istri saya tampak belum turun juga. Kami pun menunggu di teras rumah. Akhirnya semua orang di dalam mobil Tirta keluar . Luna segera menghampiri Lestari untuk mengambil Bobo. Semntara saya mengikuti Tirta yang sedang membukan bagasi mobil. Saya pun segera membantu Tirta membawakan barang kami dan masuk ke dalam rumah. Sekilas aku memperhatikan selangkangan istri saya sepertinya basah.
Aku pun memperhatikan selangkangan Luna, sedikit basah juga tapi bercaknya tak begitu terlihat seperti istri saya.
Wife:”Anak-anak tidurkan di kamar kita aza ya Pah?
Saya:”Nanti mamah mau pakai kamar yang mana?
Wife:”Mamah nanti ngelayanin Om Tirta pakai kamar kita Pah,kan ranjangnya ada dua, satunya bisa buat anak-anak”
Saya:”Ya udah Lun, Bobo bawa ke kamar” Luna pun segera menggendong Bobo begitu juga Lestari yang menggendong Revan segera pergi ke kamar saya.
Saya dan Tirta pun menaruh belanjaan ke dalam di dekat tv, kecuali untuk makanan saya taruh di dapur. Sementara Tirta langsung duduk di sofa depan TV di ruang keluarga.
Istri saya pun duduk di sampingnya sementara Intan duduk di lantai sambil membongkar belanjaan mainan boneka Barbie yang dibeli dari mall.
Saya pun kemudian duduk di sebelah istri saya sambil senderan di kedua lengan saya.
Wife:”Om, mau mandi dulu biar seger, saya masih mau beres-beres”
Tirta:”Boleh Dewi, di mana?
Wife:”Pah, cek kan di kamar ada yang mandi? Lestari dan Luna belum keluar juga dari kamar”
Saya:”Bentar Mah” saya pun berdiri dan masuk ke kamar.
Saat saya masuk pas Luna dan Lestari mau keluar kamar.
Lestari:”Kenapa den?
Saya:”Tuch si Tirta mau pakai kamar mandi, mau mandi katanya”
Lestari:”Oh, yau dah suruh pakai aza, Lun kalau kamu mau mandi di kamarku aza”
Saya:”Ia Lun , biar kopernya aku pindahin ke kamar Lestari”
Luna:”Ia mas, aku juga gak nyaman, lengket mau mandi”
Lestari:”HUjan tadi, ac mobil, koq lengket?
Luna:”Momok aku yang lengket Bi, abis diobok-obok” ucap Luna vulgar.
Lestari:”Teu uyahan, ya udah, ayo ke kamarku, aku mau istirahat bentar”
Kami pun segera keluar dari kamar. Saya pun memberi kode ke istri saya bahwa kamar mandi sudah bisa di pakai. Kami semua masuk ke kamar Lestari. Segera setelah menaruh koper Luna saya pun keluar dari kamar.
Ketika saya kembali ke ruang tengah tak nampak Tirta, mungkin sudah pergi ke kamar mandi.
Saya lihat istri saya sedang memeriksa beberapa barang belanjaan kami. Sambil masih duduk di tempat semula. Saya pun duduk di samping dia.
Saya:”Mah, koq basah?
Wife:”Apa yang basah Pah? Ucap istri saya pura-pura tidak mengerti.
Saya pun segera meraba selangkangan istri saya.
Wife:”Aaah, nakal, ia basah hehe”
Saya:”Bukan pipis di celana kan?
Wife:”haha, bukan lah pah, ini akibat heunceut aku dikobel-kobel Om Tirta” uca[ istri saya, sambil berbisik, saya sich sudah menduganya juga, tapi pengen denger langsung dari mulut dia.
Wife:”Udah Pah, malah dimainin heunceut mamah awww” saya tidak perduli, tangan saya sekarang masuk ke dalam celana legging istri saya dan masuk ke dalam cdnya. Saya sekarang bersentuhan langsung dengan memeknya. Tangan saya pun mulai bermain di itilnya menggunakan jempol dan dua jari saya masuk ke dalam memeknya.
Tiba-tiba Intan berkomentar.
Intan:”Gak si Om, gakPapih suka banget ih mainin memeknya mamah, dan mamahnya keenakan memeknya digituin” ucap Intan sambil melihat ke arah kami.
Istri saya pun tersenyum.
Wife:”Papah sich”
Saya:”jadi memek mamah dikobel-kobel si Tirta depan Intan?
Wife:”Ia Pah, Om Tirta ngobok-ngobok heunceut mamah di depan anak kita Intan”
Istri saya pun merem melek.
Wife:”Pah udah malu, entar yang lain ke sini” ucap istri saya. Tapi tidak menghalangi tangan saya yang tetap mengobel memeknya.
Saya:”Dikobel heunceutnya depan anaknya gak malu”
Wife:”Hehe, ampun habis malah cepet basah heunceut mamah Pah, dikobel-kobel depan Saya:”kamu benar-benar binal Mah” ucap saya sambil tetap mengocok memeknya.
Wife:”Aaagh ampun Pah aaah gak kuat aaaah, itil aku uuh enak” ucap istri saya dan tiba-tiba Tirta sudah datang lagi dan duduk di karpet bersama Intan yang sekarang focus nonton tv.
Saya pun cuek saja sementara istri saya menjadi salah tingkah.
Wife:”Aaah Pah, malu ada om Tirta, udah ngocok heunceut mamahnya” ucap istri saya tapi tak mencegah tangan saya, malah kepalanya nyender di sofa sambil memejamkan matanya.
Saya pun tetap mengocok memeknya hingga memek Dewi banjir oleh cairannya sendiri, bulu jembutnya terasa lengket.
Wife:”Oooh ampun gak kuat itil mamah, teken di situ aku gak kuat oooooohhhhhhhhuzzzss” Istri saya pun merapatkan kedua pahanya dan mengejang menggapai orgasmenya. Tangan saya masih di dalam memeknya.
Lalu tiba-tiba pintu kamar Lestari terdengar di buka dan Luna pun keluar dari kamar. Saya pun segera menarik tangan saya dari memek Dewi.
Luna terlihat begitu cantik, postur tubuhnya sedang, paling kecil dibanding Dewi dan Mega dan badannya masih langsing. Luna memakai jilbab putih dan sweater warna abu-abu dan rok panjang warna hitam dan lebar, tidak ketat terlihat begitu anggun.
Luna pun segera duduk di samping saya. Luna pun melihat istri saya yang masih terpejam dan senderan di sofa.
Luna:”Kenapa kak?
Wife:”Lemes Lun, Tadi di mobil heunceut kakak diobok-obok Om Tirta sampai keluar, barusan giliran suami aku yang ngobok-ngobok heunceut aku”
Luna:”Hihi, enak dong”
Wife:”Banget”
Istri saya lalu berdiri.
Wife:”Om aku mandi dulu ya, Pah, mamah mandi dulu, gak enak ini heunceut mamah basah dan lengket”
Saya:”Papah juga mau mandi”
Wife:”Ya udah mandi bareng yuk ,Om aku mandi dulu ya”
Tirta:”Ia, biar Om nemenin Intan, Om sabar menanti Dewi”
Wife:”Om, kalau pas mandi aku pengen ngentot sama suami aku boleh gak?
Tirta:”Boleh, santai aza, malam masih panjang buat kita”
Wife:”Lun, temenin Om Tirta ya, by the way mana bi Lestar?
Luna:”Aku mau nyusuin Bobo dulu kak, kasihan, Bi lestari lagi mandi”
Tiba-tiba pintu kamar Lestari terbuka, dan Lestari keluar dengan hanya memakai baju daster warna kuning sedikit transparan, lengan pendek dan panjangnya juga mungkin satu jengkal di atas lutut dan ada belahanya kiri kanan. Tampak bhnya yang berwana hijau membayang dari balik baju dasternya, begitu juga celanadalamnya yang warna hijau yang aku ingat dibelinya tadi yang berbahan satin.
Kepalanya sich pakai jilbab putih tapi penampilan pakaiannyabikin aku ngaceng, tentu Tirta juga.
Wife:”Cie..cie..daster barunya langsung dipakai” ucap Dewi.
Berarti daster ini pun baru dan sengaja dibeli di mall tadi sore.
Lestari:”Hehe ia dong, gimana Den, aku gak kalah sama yang muda kan?
Saya:”Mantap Les” ucap saya sambil mengelus-elus kontol saya dari balik celana.
Wife:”Ih papah, ayo mandi, Bi kamu temenin Om Tirta ya”
Lestari:”Ia, aku mau sekalian nyiapin buat makan malam dan manasin lauknya”
Wife:”Siip, aku tinggal ya” ucap istri saya dan menarik saya masuk ke dalam kamar.
Luna pun mengikuti kita dan masuk ke dalam kamar untuk menyusui Bobo.
Sementara kami segera masuk ke dalam kamar mandi.
Saya:”Mah, papah mau ngomong..” ucap saya sambil melepas pakaian saya.
Wife:”ngomong apa pah, penting ya? Ucap Dewi yang juga sedang melepas pakaiannya.
Saya:”Ia penting banget”
Wife:”Pah,tolong, lepasin dulu kait kutang mamah” ucap Dewi sambil segera membelakangi saya.
Saya pun segera melepas kait bra istri saya. Lalu memasukan ke mesin cuci, segera saya memeluk dia dari belakang sambil meremas-remas susunya. Beberapa hari dia tak mau melayani saya rasanya kangen juga.
Wife:”Aah pah, mamah layanin papah ngentot ya, tapi jangan kasih cupangan”
Saya:”Ia mah”
Wife:”Eh tadi papah mau ngomong apa sich?
Saya:”Papah mau memek perawan mah”
Wife:”Hah? Dia tampak kaget dan menolehkan kepalanya.
Saya:”Setelah merasakan sempitnya memek Luna, papah jadi pengen memek perawan, Papah pengen ngerasain memek perawan lagi setelah memek mamah dulu papah perawanin”
Wife:”Bukan gak boleh Pah, tapi pasti harus bayar mahal, mana ada yang mau memeknya diperawanin gratis”
Saya:”Hempz, ya gpp mamah”
Wife:”Kalau mamah melacur kan dapat duit pah, kalau papah malah harus keluar duit”
Saya:”Ya sudah gpp kalau gak boleh, tapi ini malam terakhir kamu jadi pelacur mah, kalau mamah mau jadi pelacur lagi harus kasih memek perawan buat Papah”
Istri saya menoleh kembali kepada saya lalu melumat bibir saya, kami pun berciuman.
Istri saya kemudian melepaskan ciuman kami.
Wife:”Ia, nanti mamah carikan memek perawan buat papah”
Yes, akhirnya kena juga dia. Aku gak rugi-rugi amat.
Wife:”Tapi kalau orang desa gpp Pah?
Saya:”Gpp Mah, asalkan perawan dan harus cantik”
Wife:”Cantik sudah pasti, di kota mah susah nyari yang belum bolong zaman sekarang”
Saya:”Mamah carikan dech, gimana caranya”
Wife:”Siap Pah, asal mamah boleh tetap melacur”
Saya:”Kenapa mamah pengen tetap melacur sich”
Wife:”Gak tahu, ketagihan Pah”
Istri saya pun menuntun saya menuju shower dan segera menghidupkannya. Air segera membasahi tubuh kami.
Wife:”Pah, lepasin cangcut mamah dong”ucapnya manja
Saya pun segera menurunkan celana dalam istri saya, satu-satunya kain yang masih menempel di badannya.
Celana dalam yang terbuat dari satin yang katanya Retro prancis gak ngerti dech segera saya lempar ke mesin cuci.
Istri saya segera menarik badan saya agar berdiri, lalu dia mengambil sabun dan mulai menyabuni badan saya dari mulai kaki dan naik ke selangkangan.
Istri saya kemudian menyabuni kontol saya yang sudah ngaceng kembali walau tadi keluar di mulut Luna.
Wife:”Pah, kamu punya obat kuat, kalau ada minum aza, jangan lewatkan kesempatan untuk ngewein si Luna sebanyak mungkin hihi” ucapnya berbisik di telinga saya.
Saya:”Ia Mah, sudah papah siapkan hehe”
Istri saya pun sudah selesai menyabuni seluruh badan saya .
Wife:”Giliran Papah sabunin mamah ya”
Saya pun segera menyabuni seluruh badan istri saya. Mulai dari kaki sampai ke bokong dan memeknya.
Wife:”Aaah jangan dicolok-lok gitu heunceut mamah aaah nanti saja” Saya pun lebih serius lagi menyabuni istri saya sampai ke susunya.
Saya:”Mah, lama mamah gak mau ngelayanin Papah, koq sekarang mau papah entot?
Wife:”Gak tahu pah, seneng aza bikin panas si Tirta”
Saya:”Bagus mah, jadi papah duluan yang bakal buang peju di memek mamah”
Wife:”Ia Pah”
Kami pun segera membersihkan badan kami dari busa sabun.
Setelah bersih kamu pun pindah tempat. Sambil berciuman dan saya peluk lalu saya gendong istri saya mendekati bak mandi.
Saya remas-remas pantatnya yang semakin membesar, Sementara kontol saya sudah menggesek-gesek mulut memek Dewi.
Wife:” Masukan Pah, sejak di mobil sama Tirta mamah udah pengen Ewean” ucap Dewi.
Saya pun mendudukkan istri saya di atas bak. Lalu saya buka kedua kakinya lebar-lebar dan saya arahkan kontol saya ke memeknya.
Bleesek… kontol saya segera menembus memek Dewi. Saya pun segera menggenjot istri saya.
Wife:” aaagh enak Pah aaah, ewe yg kenceng sayang”
Saya pun mempercepat genjotan saya.
Sambil ngewe memeknya Dewi segera saya mencaplok susunya. Saya pun segera menghisap asi yg keluar dari susunya.
Terasa hangat dan membuat kontol saya semakin keras di memek Dewi.
Wife:” isep putingnya saya aaah enak Ewean Jero aaagh”
Saya:” uuuh enak sayang” ucap saya lalu kembali menghisap susu istri saya.
Wife:” aaah jangaaan, awww kenapa nenen mamah dicupangin pah? Saya memang baru saja memberi sebuah cupangan di dekat pentil susu Dewi.
Wife:”papah jahat”
Saya tak perduli, saya semakn mempercepat genjotan kontol saya.
Wife:” aaahgg anjing gak kuat Gusti uiigh, sodokan yang kenceng kontolnya sayang”
Saya:” papah mau keluar mah”
Wife:” dibucatin di heunceut aku pah, mamah juga bentar lagi aaah”
Sodokan kontol saya pun semakin cepat lalu saya cengkram buah pantat Dewi dan saya pun menembakan sprema saya.
Wife:” aaah…agghhh…agggh”
Saya peluk Dewi dan kami pun berciuman.
Wife:” udah pah, gak enak sama Om Tirta, dia udah bayar mahal mamah”
Saya pun mencabut kontol saya.
Wife:” mandi lagi kita pah”
Saya pun segera mandi lebih dahulu. Istri saya pun kemudian mandi menyusul saya. Tapi sepertinya dia bakal lama jadi saya segera menyelesaikan mandi saya.
Saya pun keluar dari kamar mandi dan Luna sudah tak ada di ranjang. Segera saya memakai baju dan keluar dari kamar.
Tampak Tirta sedang duduk di sofa bersama Lestari yang kulihat tak lagi mengenakan jilbab, makin nakal juga dia, duduk berhimpitan dengan Tirta.
Saya:” Luna mana Mbak?
Lestari:” Lagi nyiapin makan malam, mana Dewi?
Saya:”masih mandi”
Lestari:” ya udah kamu tunggu di meja makan”
Saya pun pergi ke dapur dan tampak Luna sedang menyiapkan piring di meja makan.
Saya:”aku bantuin ya”
Luna:” ia mas, boleh banget”.
Segera semuanya pun siap.
Kami berdua pun duduk menunggu yg lain.
Luna:” aku panggil Bi Lestari ya”
Saya:” ia, aku dah laper nich”
Luna:” gimana gak laper kalau habis ngentot hehe” ucapnya sambil berlalu masuk ke dalam.
Tak lama Luna sudah kembali lagi diikuti Tirta dan Lestari yg saling bergandengan tangan.
Mereka pun lalu duduk berdampingan.
Luna:” tinggal nunggu kak Dewi, lama amat sich”
Saya:” ia, apa perlu aku susulin?
Lestari:” biar aza Den, mungkin masih dandan”
Saya pun baru menyadari koq Lestari terlihat sedikit kusut, rambutnya agak acak-acakan, padahal tadi masih rapi, memakai jilbab dan baru habis mandi.
Tapi saya tidak terlalu menghiraukan lagi karena keburu Dewi datang.
Dewi tampak sudah begitu rapi. Mengenakan jilbab warna cream senada dengan baju ibu hamil yg panjangnya sampai pinggang warna cream juga sedikit transparan sehingga bh warna merah yg istri saya kenakan terlihat membayang. Sedang bawahannya mengenakan rok panjang juga warna cream dari jenis kain yg lembut dan licin,yang cukup ketat menempel di paha juga mencetak pinggulnya. Sepertinya baru dibeli tadi karena aku baru pertama melihatnya.
Luna:” nah artisnya datang juga”
Istri saya segera duduk di sebelah Tirta, sehingga sekarang Tirta diapit oleh Lestari dan Dewi.
Wife:” Intan mana?
Lestari:” sdh tidur di kamarku”
Wife:” yah, belum mandi belum makan juga”
Lestari:” biar, kasihan kecapean”
Tirta:” cantik banget Wi dan benar-benar menggairahkan, jadi gak sabar”
Wife:” makasih Om,ayo kita makan dulu Om, biar staminanya kuat hehe”
Lestari:” ia Mas, biar kuat”
Kami pun segera menyantap makanan yg sudah tersedia di meja makan. Ada gulai kambing juga, seperti memang sudah diplaningkan.
Akhirnya kami pun selesai makan.
Wife:” Pah Donatus datang gak ya, tadi kita pulang belum kelihatan”
Saya belum jawab sudah dipotong oleh Lestari.
Lestari:” udah datang”
Tirta:” siapa si Donatus itu?
Wife:” satpam kami”
Tirta:” oooh…”
Wife:” makanan masih banyak banget, biar tak kasihkan dia sebagian”
Lestari:” ia, setuju, biar bibi yg anterin”
Wife:” bibi gak malu nganterin pakai pakaian begitu, eh koq ada cupangan lagi di leher bibi?
Lestari:” ulah mas Tirta”
Wife:” mantap…., Eh apa mamah aza yg antar?
Saya:” biar papah aza dech”
Wife:” ya udah kita ke ruang tengah aza, sambil nonton tv, mau ngamar belum terlalu malam juga”
Tirta:” santai gak usah buru-buru, lagian om masih capek” ucap Tirta.
Wife:” yeee, pasti pas aku mandi enjot-enjotan ya om sama Bi Lestari”
Tirta:” hehehe”
Kami pun segera berdiri meninggalkan meja makan.
POV Lestari
Aku pun segera pergi ke dapur diikuti pandangan Tirta. Dewi keponakanku telah mengubah diriku, aku baru kali ini tampil sexy begini setelah pertama mengenakan hijab. Penampilanku terasa aneh, aku memakai daster pendek di atas lutut dan lengan pendek pula tapi masih memakai jilbab. Aku sudah bisa melupakan masalahku dengan Juna, bahkan ketika aku bertemu dia tadi aku sudah berbeda.
Sampai di dapur aku segera menghangatkan makanan sambil menyiapkan keperluan lainnya untuk makan malam.
Akhirnya aku selesai juga, Cuma menghangatkan saja. Tepat setelah aku mematikan kompor seseorang memelukku dari belakang sambil meremas bokongku.
Sontak membuatku sedkit kaget.
Saya:”Aaagh, Dendi, eh..” Aku berpikir itu Dendi ternyata Tirta.
Tirta pun menaikan jilbabku dan mulai menciumi leher saya. Tangannya tak berhenti meremasi bokong saya.
Tirta:”Aku Tirta Tari, bukan Dendi”
Saya:”Emmmmz ia Mas, aku pikir bukan kamu uuughh”
Tirta:”Dendi sering nakal sama kamu ya?
Saya:”ia mas..eeeggh”
Tirta berbisik di telingaku.
Tirta:”Dewi katanya akan ngentot sama suaminya sambil mandi, aku dah gak tahan, boleh aku minta ngentot sama kamu Tari”
Saya:”Uuugh ia mas kebetulan aku juga udah selesai ini”
Tangan Tirta sekarang pindah naik ke payudaraku dan meremas-remas susuku.
Saya:”Aaagh mas, kita pindah ke kamar saja” Ucap saya.
Tirta:”Di sini aza, aku sudah tak tahan” ucap Tirta yang lalu kembali menjilati leher saya. Saya pun berinisiatif melepas jilbab saya dan saya lempar ke kursi.
Saya:”Aaah mas, cupang leher aku ya..” Tirta memmang sepertinya memberi beberapa cupangan di leherku, terasa sedotanya sangat dalam.
Saya melihat ke bawah, tampak Tirta sedang melepas celananya sambil tetap memelukku.
Dengan sebelah tangan dia pun menurunkan celana sempaknya.
Kontolnya sudah ngaceng dan sepertinya keras, cukup hitam, kontras dengan kulitnya yang putih. Cukup Panjang dan terbilang gede juga, sepertinya sedikit lebih gede dari Juna dan Dendi.
Sambil mendorong saya agar lebih menunduk. Tirta mengarahkan saya untuk menuju tembok. Saya pun segera berpegangan di tembok sambil sedikit nungging.
Tirta kembali berbisik di telinga saya.
Tirta:”Kamu sexy sekali Tari, begitu menggoda birahi kelelakian saya. Baju tidurnya sangat menggoda, aku bisa melihat warna cangcut kamu, pantat kamu juga padat berisi” Sambil lidahnya menggelitik belakang telinga saya.
Tangan Tirta kemudian menaikan ujung bawah daster saya sampai perut. Tangannya kembali meremas-remas pantat saya. Kemudian saya merasakan dia menggeser celana dalam saya dan kontolnya tersa mulai mendesak untuk masuk.
Tirta:”Kata Dewi kamu ibu rumah tangga dan seorang mamah yang baik untuk anak-anakmu, katakan sudah berapa kontol yang memasuki memekmu? Ucap Tirta sambil menekan kontolnya yang kepalanya sudah mulai masuk.
Saya:”Tiga Mas, uugugh , punya suami saya, Dendi dan satu lagi aku gak tau, perampok, aku diperkosa”
Tirta:”Hah, kamu pernah diperkosa?
Saya:”Ia Mas, uuh”
Tirta:”Berarti kontol saya yang keempat”
Saya:”Iaaaah, ah mas Juna, Tari dizinahi orang lagi” ucap saya tanpa sadar.
Kontol Tirta kini sudah sepenuhnya masuk ke memekku. Kontolnya terasa penuh. Tirta pun mulai memaju mundurkan pantatnya.
Tirta:”Juna, suami kamu yang ketemu di mall?
Saya:”Aaaah ia maaas..”
Tirta:”Lupakan dia sementara waktu, malam ini aku yang akan menjadi suami kamu, memek kamu Cuma buat kontolku”
Saya:”Aaah aaah ia Mas, kamu pejantanku malam iniii, aaaah ewe aku mas uuh zinahi aku”
Ploook..plook..plook Paha Tirta menghantam pantat saya begitu kencang, Tirta menyodokan kontolnya begitu dalam.
Saya:”Aaah, mas dalam banget kontol kamu masuknya uuuh sampai ke rahim Tari uuuh”
Tirta:”Memekmu sempit tari, jarang diewe, heunceut kamu bisa ngempot juga aaah”
Saya:”Aaah ia pejantanku, zinahiii tari aaah, mas Juna dan aku lebih banyak berantemnya dari pada ngentotnya”
Suara saya sudah tak terkontrol, mudah-mudahan tak terdengar sampai ke luar rumah.
Tiba-tiba kami merasa ada yang datang, sepontan kita berdua melihat ke belakang. Tampak keponakanku Luna yang masuk dapur.
Luna pun beradu mata dengan kami.
Luna:”Udah lanjutin aza bi enjot-enjotannya, tadinya aku mau bantu nyiapin makan malam, nanti aza dech takut ganggu Om hehe” Ucap Luna yang langsung balik masuk ke dalam, belum sempat kami menjawab.
Kami pun terdiam beberapa saat.
Saya:”Mas, ayo entot aku lagi”
Tirta pun tersenyum dan segera memaju mundurkan pantatnya. Tangannya kin berpindah berpegangan di buah dada saya sambil meremas-remasnya.
Saya:”Aaaah, mas enak banget uuuh diewe sambil diremas tetek aku”
Tirta pun memasukan tangannya ke dalam bajuku dan masuk ke dalam kutangku.
Tirta:”aaagh susu kamu masih kenceng benget Les, kamu pinter merawat badan”
Saya:”Aaaah aku rajin seeeenam mas uuugh sodokkan kontolnya lebh kencang mas, aku mau dapet”
Tirta:”Barengan ya sayang..” ucapnya berbisik di telinga saya dan kembali menjilati leher saya.
Plook..ploook..plook
Saya:”Aaagh mas, aku gak kuat uuuhggg”
Tirta:”Aku juga Tari uuuugggh heunceut kamu enak dan nikmat aaah keluarin di mana?
Saya:”Di dalam saja mas, Dendi juga suka buang di dalem”
Tirta:”UUh gak kuat, kalau hamil gimanaaa?
Saya:”Biar, aku memang mau hamil dari hasil zinah aaah, biar si Juna ceraiin aku”
Tirta:”aaah aku keluar, aku buntingin kamu tari” ucap Tirta sambil menekan kontolnya dalam-dalam dan crooot..crooot..crooot peju Tirta membasahi memekku bersamaan dengan itu aku pun mendapat orgasme yang hebat.
Hampir saja aku tersungkur namun segera ditahan oleh Tirta dan diberdirikan. Kontol Tirta masih terbenam di memekku.
Beberapa saat kami terdiam. Tirta menarik kepalaku dan mendaratkan ciuman di bibir saya. Segera saya lumat bibir Tirta. Kalau masih muda Tirta pasti ganteng banget, sekarang pun masih tersisa kegantengannya. Kulitnya putih bersih, mungkin karena orang kaya dia merawat diri juga.
Tirta membalik badan saya sehingga menghadap dia. Kami berciuman cukup lama. Lalu saya melepaskan ciuman kami.
Saya:”mas, udah dulu ya, nanti yang lain pada selesai mandi”
Tirta mengangguk lalu melepaskan badan saya dan mengambil celananya yang tergolek di lantai. Aku sendiri membenahi celana dalamku yang terasa lembab dan juga gaunku, Jilbab tak lagi ku kenakan dan ku masukan sementara ke lemari dapur.
Kami segera menuju ke ruang tengah dan duduk di sofa. Tak nampak Intan hanya Luna yang sedang duduk di karpet nonton tv sambil melihat-lihat belanjaanya tadi.
Saya:”Mana Intan Lun?
Luna:”Tidur, aku tidurkan di kamar bibi, udahan kawinnya, ngentotnya maksudnya, aku ke dapur ya siapin buat makan malam”
Saya:”udah Lun, aku lemes habis dientot Mas Tirta, kamu sendiri yang siapkan ya, lauknya udah aku hangatin”
Luna menganggukan kepalanya dan segera menuju ke dapur.
Sepeninggal Luna kami pun duduk sambil menyenderkan kepala ke sofa.
Saya:”mas, bawa obat kuat gak? Jangan sampai loyo lho, kan Dewi belum kamu garap memeknya?
Tirta:”Sudah minum dari hotel, tapi kayaknya kurang, sekarang udah lemes aku”
Saya:”Ya, malam masih panjang mas, sepanjang kontolmu hehe, nanti aku mintakan ke Dendi”
POV Suami
Saya pun segera membawakan makanan untuk Donatus, dia pun tampak senang. Saya segera masuk kembali ke rumah dan bergabung dengan yang lain yang sedang duduk di karpet semua.
Saya pun duduk di samping Luna.Sementara Istri saya dan Lestari mengapit Tirta.
Saya:”Kita mau ngapain nich?
Wife:”Bingung juga Pah, apa kita pergi tidur aza dulu, soalnya para pejantan kecapean juga hihi, tapi baru mau jam Sembilan ini”
Lestari:”Den, kamu udah minum obat kuat, hihi, kasih juga Om Tirta dong”
Saya:”Kebetulan belum, ada aku sudah beli, ada tit*n Gel juga, mau bos? Saya mencoba mengakrabkan diri dengan Tirta.
Tirta:”Boleh tuch Pak”
Saya pun segera berdiri dan masuk kamar mengambil barang yang dimaksud.
Setelah dapat saya pun segera kembali dan duduk kembali di samping Luna.
Saya:”Ini banyak, kalau kurang kita bisa minta Donatus untuk belikan”
Tirta:”Ini saja cukup koq Pak”
Wife:”Ya uda cepetan di minum, aku ambilkan air dulu” ucap istri saya dan segera pergi ke dapur.
Tak lama Dewi pun kembali dan membawa Poci air dan gelas dalam nampan.
Dewi pun duduk di samping saya tidak lagi di tempat semula di samping Tirta.
Saya:”Koq banyak banget gelasnya? Ku lihat istri saya membawa lima gelas.
Wife:”Yah buat kita nanti kita juga haus, Lun bisa ambilkan cemilan yang udah kita beli tadi sore di lemari dapur”
Luna:”OK kak” Luna pun segera meninggalkan kita, tak lama dia pun kembali membawa beberapa toples dan beberapa makanan ringan.
Luna pun duduk di samping saya.
Wife:”Ayo diminum dulu obatnya Pah, Om, biar kanjutnya cepet ngaceng lagi” ucap istri saya sambil menyodorkan gelas berisi air kepada saya dan Tirta.
Saya dan Tirta pun segera meminum obat penambah stamina.
Wife:”Kita yang bermemek perlu minum obat perangsang gak?
Lestari:”kamu punya Wi, boleh biar sange terus hihi”
Wife:”Bentar, aku ada beberapa” ucap Dewi sambil masuk dalam kamar, aku pun tak pernah tahu Dewi punya obat begitu.
Tak lama istri saya pun kembali dan kali ini duduk dekat Tirta lagi, dia pun memberikan obat perangsang ke Luna dan Lestari. Mereka pun segera meminum obat tersebut.
Tirta tampak berbisik kepada istri saya.
Wife:”Pah, Om Tirta bawa minuman, boleh dibuka?
Saya:”Ya udah mah, buka saja, terserah siapa yang mau minum nanti”
Istri saya pun kembali berdiri dan meninggalkan kami. Lalu dia kembali membawa plastic putih berukuran cukup besar.
Dia pun duduk lagi di samping Tirta. Tirta pun mengeluarkan botol dari dalam plastic, ada 4 botol minuman branded ditaruh di tengah-tengah.
Tirta:”Seperti kata Pak Dendi, yang mau silahkan, atau mau nyoba yang belum pernah boleh”
Wife:”Nyoba sich udah tapi jarang, mau ngapain ini kita begadang aza, kapan ngentotnya? Hihi”
Tirta:”Gimana kalau kita maen game, maen gaplek gitu?
Wife:”Gak asyik, kayak orang ngeronda aza om”
Tirta:”ya kita bikin seru, gimana kalau yang kalah harus buka bajunya satu persatu, aturannya fleksibel bisa diubah-ubah lah setiap putarannya terserah kalian”
Wife:”Wah, kalau gitu boleh tuch, seru juga, tapi jumlah kita ganjilkan?
Tirta:”Ya satu orang gak usah ikut atau gantian, tapi ini saran kalau ada permainan yang lebih seru, atau mau langsung ngamar juga boleh?
Wife:”Memang Om udah kuat lagi?
Tirta:”Belum On sich”
Wife:”Makanya di sini dulu dech, biar kita bikin om sange hehe, aku setuju, gimana yang lain main gapleh mau?
Lestari:”Aku aza yang gak ikut, gak ngerti”
Luna:”Aku ngerti aza dan pernah main tapi kalah mulu, hihi”
Saya:”Papah ikut aza”
Wife:”Berapa putaran nanti, gimana kalau yang sudah habis pakaiannya, maksudnya sudah bugil?
Tirta:”Kalau yang sudah bugil gimana kalau kita beri hukuman, nanti terserah yang menang hukumannya”
Wife:”Setuju, gitu aza dech, jadi siapa saja yang main?
Lestari:”aku gak ikut”
Luna:”Terpaksa aku ikut, tapi kartunya ada nggak?
Wife:”Ada, punya si Jaka”
Tirta:”Jaka siapa?
Wife:”Itu anak pembantu saya, tapi lagi tak suruh pulang, kalau gak salah dia simpan di dapur”
Istri saya pun segera ke dapur dan tak lama balik lagi.
Wife:”ada nich, kita mulai aza ya” sambil duduk dan duduk di samping Tirta.
Saya:”Ok, ayo”
Istri saya pun mulai membagikan kartu dan kita pun memulai permainan domino, saya pun sudah lama tidak memainkann permainan ini.
Putaran Pertama saya yang menang. Sepertinya istri saya memaksakan diri, diapun seperti Luna bisa main tapi tak lihai.
Akhirnya yang kalah terpaksa melepas satu pakaiannya.
Tirta segera melepas ikat pinggangnya sementara Luna dan Dewi malah saling pandang.
Istri saya tampak berdiri dan melepaskan sesuatu, ternyata stocking, sementara Luna tampak masih bingung.
Luna:”wah curang, pakai stocking segala”
Saya:”Kayaknya ada yang kurang, percuma menang gak dapat apa-apa harusnya kan ada advantage untuk yang menang?
Wife:”Huh, ya terus gimana?
Tirta:” jadi peraturannya gini kan kalau sudah ada yang bugil tadi harus dihukum, hukuman ditentukan pemenang, nah sekarang bagaimana kalau pemenang boleh menyita barang yang kalah gimana?
Saya:”Kira-kira kalian ok gak kalau nanti menang, Cuma boleh menyita barang yang kalah?
Luna:”aku gak masalah, pasti kalah terus hihi”
Wife:”Terus maunya gimana?
Saya:”Setuju lah biar cepet bugil kalian hehe”
Tirta:”ya udah ini, dikumpulkan, jadi misal yang punya barang sitaan kalah boleh mengganti menggunakan barang sitaanya tak perlu lepas pakaian, tapi yang dikembalikan khusus hanya biasa pakaian milik orang yang menang, ok”
Kami pun semua setuju.
Wife:”Ya udah aku bagi lagi ya?
Tirta:”Bentar Luna belum lepas apapun?
Luna:”Hehe”
Tiba-tiba lestari memotong pembicaraan
Lestari:”Aku mandi dulu ya semuanya”
Wife:”Kenapa tadi habis mandi?
Lestari:”Gak nyaman basah cangcut aku”
Wife:”Haha, ya udah sana”
Lestari pun segera berdiri dan masuk ke kamarnya.
Luna:”Ya udah lepas jilbab dech” ucap Luna sambil memberikan jilbabnya kepada saya. Mereka pun memberikan barang yang mereka lepas kepada saya.
Putaran kedua Tirta yang menang. Aku pun memberikan kembali ikat pinggang dia, sedang Luna melepas ciputnya dan memberikan kepada Tirta. Istri saya pun melepas jilbanya yang warna cream dan memberikan kepada Tirta.
Putaran ketiga Tirta menang lagi, sementara yang perempuan belum ada yang menang. Aku pun terpaksa melepas baju saya dan saya berikan sama Tirta. Sementara Luna melepas sweaternya dan memberikan kepada Tirta dan istri saya memberikan ciput kepalanya kepada Tirta. Putaran ke empat Tirta lagi-lagi menang, jago juga orang seperti dia maen beginian. Saya pun terpaksa melepas celana pendek saya hingga saya yang paling parah sekarang tinggal memakai celana dalam saja.
Luna pun terpaksa melepas baju kaosnya dan menyerahkan kepada Tirta. Istri saya pun terpaksa melepas baju tidur creamnya dan menyerahkan kepada Tirta. Tirta tampak mupeng melihat istri saya dan Luna yang sekarang bagian atasnya hanya tertutup beha saja.
Wife:”Papah ternyata paling parah, padahal tadi menang sekali, siap-siap dikerjain hihi”
Saya:”Yak, maklum pakaian papah Cuma terdiri dari tiga”
Putaran kelima pun di mulai, saya mencoba lebih berkosentrasi sekarang.
Saat sedang main Lestari keluar dari kamar. Memakai baju panjang warna hitam dan jilbab putih serta memakai kaca mata, beda sekali dengan penampilan sebelumnya. Lestari pun segera duduk di depan Luna sambil cekikikan melihat kami yang sudah banyak kehilangan pakaian kami. Dasar sial, lagi-lagi si Tirta menang, tapi kali ini perlawan lebih ketat, para perempuan sudah bisa memberikan perlawan.
Wife:”Om mulu yang menang, ih, udah mau bugil kita Lun”
Lestari:”senasib kalian kakak beradik”
Istri saya pun berdiri dan melepaskan rok panjangnya dan menyisakan celana dalam serta beha saja yang keduanya berwarna merah, sedang Luna juga keadaanya sama tinggal mengenakan beha dan celana dalam saja yang keduanya berwarna putih. Yang paling parah saya harus melepas cd saya.
Wife:”si Papah sudah mulai ngaceng nich hihi”
Saya tidak berkomentar dan segera bersila. Kali ini saya harus menang. Putaran ke enam pun di mulai, para ibu tampaknya sudah mengerti permainan ini, mereka sudah lebih paham dan permainan lebih seru, tapi akhirnya kali in saya yang menang. Tirta pun mengembalikan cd saya. Saya pun segera mengenakan cd saya. Istri saya dan Luna pun melepas bh mereka dan memberikan kepada saya.
Tirta pun menatap nanar payudara istri saya yang pentilnya tampak cukup besar biar belum ngacung sempurna begitu juga pentilnya Luna. Putaran berikutnya di mulai kali ini Luna yang menang. Istri saya pun harus melepaskan celana dalamnya dan memberikannya kepada Luna.
Tirta ternyata cukup pintar dia hanya mengembalikan ciput Luna sehingga susu Luna tetap terbuka.
Istri saya yang perutnya sudah membuncit pun harus bugil begitu juga saya.
Istri saya pun duduk bersila berusaha menyembunyikan memeknya yang penuh bulu.
Kali ini kondisi makin parah bagi saya dan Dewi yang sudah tidak memakai apa-apa jika kalah akan terkena hukuman.
Putaran berikutnya dimulai, dan sialnya si Tirta kembali menang.
Luna segera memberikan ciputnya kembali sementara saya dan Dewi sudah tidak punya apa-apa lagi.
Tirta:”Hehe, saya menang, karena dua orang sudah tak ada pakainya lagi maka hukuman berlaku hehe”
Wife:”Cepet Om apa sich hukumannya?
Tirta:”Pak Dendi dulu ya” ucapnya sambil tersenyum licik penuh kemenangan.
Tirta lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ternyata dia mengambil sebuah plastik dan mengeluarkan isinya yang ternyata celana dalam warna putih yang aku ingat itu celana dalam istri saya.
Tirta:”Ini cangcutnya istri bapak, hukuman pak Dendi ciumin lima kali ya, cangcut ini” sambil memberikan kepada saya.
Tirta:”Harus nempel muka ya, setiap nempelnya minimal 30 detik”
Saya pun menerima celana dalam Dewi istri saya yang kata istri saya sempat terkencingin.
Wife:”Hihi kasihan si papah”
Saya pun mulai mengendusnya dari jauh, benar ada sedikit bau kencing.
Tirta:”Aya pak, biar Dewi segera mendapat giliran dihukum”
Saya pun menempelkan cd istri saya ke hidung lima kali. Tirta pun menggunakan ponselnya untuk menghitung waktu. Akhirnya hukuman saya selesai juga.
Berikutnya giliran Dewi yang harus menerima hukuman.
Tirta:”Sekarang Dewi ya?
Wife:”Ia om, apa sich hukumannya, apa mencium cangcut aku sendiri?
Tirta:”no..no…, sekarang Dewi mengangkang dong” Saya sudah menduga hukumannya pasti berbau esek-esek.
Istri saya pun duduk dan membuka lebar kedua pahanya. Memeknya yang penuh bulu pun kini terbuka lebar.
Tirta pun segera berjongkok di hadapan istri saya. Tangannya segera meraba memek istri saya.
Wife:”Aaah bakal diobok-obok lagi nich memek mamah pah sama Om Tirta. Om kan tadi udah nyolok-nyolok heunceut Dewi pakai jari, masa sama lagi”
Tirta:”Ya enggak dong, sekarang saya bisa lihat dengan jelas heuncuet kamu lonte, sekarang Om mau jilatin heunceut kamu di depan suami kamu ya” ucap Tirta yang langsung dirinya terlentang lalu menulurkan lidahnya menelusuri bibir memek istri saya.
Wife:”Aaah, uuuh Om, langsung kena itil aku”
Dengan sedikit memiringkan badannya Tirta lalu membuka memek istri saya dengan kedua tangannya dan mulai memasukan lidahnya ke memek istri saya.
Wife:”Aaah, ampun lidah Om Tirta kena itil mamah Pah aaaah”
Saya yang tengah bersila pun mulai merasakan kontol saya ngaceng. Lalu tiba-tiba Luna sudah menggenggam kontol saya dan memasukan ke dalam mulutnya.
Saya lihat lestari pun tak mau kalah, dia segera menarik turun celana Tirta beserta cdnya. Tangannya segera mengocok-ngocok kontol Tirta.
Lestari:”Mas, aku kasih Tit*n Gel ya”
Saya:”Itu sebenarnya harus rutin Mbak, bukan sekali pakai langsung bereaksi”
Lestari:”Biarin, aku coba aza ya”
Tirta tidak menjawab hanya menganggukan kepalanya saja. Lestari pun segera mengeluarkan gel di telapak tangannya dan mulai membalurkan ke kontol Tirta dan mulai meratakan dan mengocok kontol Tirta.
Tirta saya lihat mengambil satu Botol minuman dan membukanya masih dengan posisi badan di karpet tanpa bangun. Setelah tutup botol terbuka Tirta tanpa permisi menyiramkan setengah isi minuman beralkohol tersebut ke memek Dewi. Sontak istri saya sedikit terkejut. Memeknya langsung basah begitu juga karpet di bawahnya.
Wife:”Aaah Om, Pah, heunceut mamah disiram air haram, banyu jahat aaah enak, jilat terus Om, itilnya aaah” ucap istri saya karena Tirta sudah kembali menjilati memeknya.
Wife:”Aaah om, isep itilnya uuh enak aaah” ucapnya sambil lebih melebarkan kakinya.
Sementara Luna berbisik di telinga saya.
Luna:”Mas, pindah ke kamar Bi Lestari yuk, udah selesai main gapleknya, pada mau ewean”
Saya pun menjauhkan kepala Luna dari kontol saya dan segera saya mengangkat Luna yang Cuma memakai cd saja. Saya pun membawa Luna ke dalam kamar lestari yang masih terbuka pintunya. Tanpa menutup Pintu saya segera membopong Luna ke ranjang dan merebahkannya di kasur.
POV WIFE
Saya lihat suami saya menggendong Luna masuk ke dalam kamar Lestari.
Saya:”Om, kita pindah ke kamar juga yuk, berantakan di sini”
Tirta pun mengangguk dan lalu berdiri begitu juga Lestari. Saya pun berjalan lebih dulu bersama lestari dengan tanpa memakai sehelai benangpun. Tirta tampak mengambil satu botol minuman yang masih utuh dan mengambil jilbab saya. Kami pun segera masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu kembali.
Tirta pun sambil jalan beberapa kali menampar pantat saya.
Saya:”aaaw, nakal banget Om”
Tirta:”Ibu rumah tangga yang jadi Lonte kayak kamu harus dinakalin” Plaaak ucapnya kembali menampar pantat saya.
Tirta:”Dewi, pakai lagi jilbabnya ya” Saya pun segera memakai jilbab saya kembali walaupun tidak rapi.
Tirta meminta saya segera rebahan di atas kasur. Lalu dia membuka botol minuman dan menyirmakan ke wajah saya lalu ke badan saya. Kasur saya pun menjadi basah.
Lestari masih berdiri melihat aksi Tirta. Saya pun tidak bisa protes karena dia telah membayar mahal tubuh saya.
Tirta pun tersenyum dan segera melepas pakaian tersisa yang masih menempel di badannya.
Tirta pun naik ke ranjang dan segera tiduran menyamping di sisi saya. Lestari pun naik ke atas kasur dibelakang pantat Tirta. Tangan Lestari kembali mengocok kontol Tirta.
Sementara Tirta mulai menciumi saya yang basah oleh minuman keras. Kami pun berciuman dan saling melumat dan bergantian menghisap lidah .
Tirta:”Uuuuh cantik sekali kamu Dewi, istri binal yang jadi pelacur” ucapnya merendahkan saya dan segera melumat leher saya. Leher saya pun segera menjadi bulan-bulanan. Cupangan demi cupangan mendarat di leher saya.
Saya:”Uughh Om, banyak banget nyupangnya”
Tirta:”Kenang-kenangan buat suami kamu, bahwa istrinya pernah Om gagahi”
Saya:”Om nakal aaddduh aaah”
Lalu Tirta membentangkan tangan kiri saya, dia pun melihat bulu ketiak saya yang lebat. Tirta pun tersenyum . Lalu dia mengendus ketiak saya.
Saya:”Aaakh Om malu, ketiak aku bulunya lebat”
Tirta:”Kenapa mesti malu, perek kayak kamu harusnya tak punya malu haha” ucap Tirta.
Tirta pun menyiramkan minuman ke ketiak saya. Terasa dingin belum lagi pengaruh ac.
Tirta pun mulai menjulurkan lidahnya menjilati ketiak saya.
Saya:”Aaaah ampun Om geli hihih” Lidah Tirta menari-nari di ketiak saya.
Tirta kemudian berpindah menjilati ketiak saya yang sebelah kanan. Sperti tadi saya pun sangat kegelian.
Tirta pun kini mulai turun dan menjilati dada saya kemudian bibirnya mendarat di puting susu saya.
Tirta:”Ada asinya, mantap kamu lonte,mimik cucu campur miras mantap” ucap Tirta kembali menjilati susu saya dan menghisap putingnya.
Saya:”Aaaah Om…nenen aku om cupangin juga” Tirta memang sudah memberi sekitar dua cupangan di susu saya.
Tirta:”Ini ada satu bekas cupangan siapa?
Saya:”Tadi waktu aku dientot suami aku om, dia cupangin nenen aku juga”
Tirta:”Sekarang nenen kamu bakal aku beri lebih banyak cupangan” ucapnya Lalu keambli menghisap puting susu saya dan satu tangan meremas susu satunya sampai asi saya muncrat muncrat.
Tirta:”Mantap, banyak air susu kamu lonte”
Saya:”uuuh ia Om, padahal udah pernah berhenti sebentar, eh ada lagi, om suka mimic cucunya Dewi?
Tirta:”Suka banget lonte berjilbab” ucapnya lalu menjilati susu saya yang muncrat-muncrat tercecer di dada dan perut saya.
Tirta:”Lagi hamil kamu masih ngelonte ya Dewi?
Saya:”uuh ia Om, kebutuhan ekonomi”
Tirta:”Kebutuhan ekonomi atau heunceut kamu yang seneng disumpal kontol”
Saya:”Ia, itu yang utama Om”
Lestari:”mas udah celegeung pisan kontolnya”
Tirta pun mengangguk lalu melebarkan kedua kaki saya dan berpindah ke tengah-tengahnya. Saya baru ingat dia baru pakai Tit*n Gel.
Saya:”Bi, kontol si Om tadi kamu kasih gel kan?
Lestari:”Ia Wi, kenapa?
Saya:”Om cuci dulu ya?
Tirta tampak menarik nafas panjang, mungkin dia sudah gak tahan.
Tirta:”Tari ambilkan botol minuman yang masih sisa setengah tadi dong sayang”
Lestari:”Ia mas” ucapnya lalu mereka berciuman. Lestari pun keluar dari kamar untuk mengambil minuman.
Saya:”Om, sekalian kamu kawinin aza bibi aku ya?
Tirta:”Kan tadi juga sudah aku kawinin bibi kamu” pura-pura tidak paham
Saya:”Maksudnya nikahin dia, biar kita lebih sering ketemu dan bisa sering ewean, hehe”
Tirta:”Ow, gratis ya?
Saya:”Ya bayar dong, masak heunceut aku gratis”
Tirta:”haha, dasar lonte kirain” saat sedang ngobrol Lestari pun datang membawa botol minuman yang tinggal setengah. Lestari pun memberikan kepada Tirta.
Tirta lalu turun dari ranjang dan mencuci kontolnya dengan air tersebut.
Saya:”Gila kamu Om”
Tirta:”Biar, sebentar lagi aku akan merasakan heunceut kotormu lonte, biar sekalian aku kotorin pakai minuman haram” ucapnya melecehkan saya, tampaknya itu membuat dia lebih bergairah.
Saya pun hanya senyum-senyum saja.
Tirta kembali keposisi semula. Dia pun mengangkat kedua kaki saya ke pundaknya. Lalu mulai mengarahkan kontolnya yang basah oleh minuman tadi ke memek saya.
Lestari:”Mas, biar Tari yang masukin kontol kamu ke memek keponakan aku”
Lalu lestari segera memegang kontol Tirta dan mengarahkan ke lubang memek saya. Bleees…lestari mendorong kontol Tirta menembus memek saya. Tirta pun kemudian menekan kontolnya hingga akhirnya semua kontolnya masuk ke memek saya.
Tirta:”aaaaah, akirnya kontol aku masuk ke heunceut kamu Dewi”
Saya:”Ia Om, panjang dan gede kontol Om uuuh enak Om digoyang” Terasa memek saya penuh, sepertinya kontolnya sedikit lebih besar dari Dendi.
Tirta pun mulai menyodok memek saya dengan memaju mundurkan pantatnya. Saya lihat Lestari hanya berdiri menyaksikan keponakannya digagahi oleh Tirta.
Saya:”Bi lepas baju bibi sekarang ya, aku pengen isep susu Bibi”
Lestari seperti kerbau yang dicocok hidungnya atau memang sudah sange segera membuka baju panjangnya sehingga tersisa cangcut dan kutang saja, keduanya warna putih yang aku ingat dibeli tadi sore di mall.
Saya melambaikan tangan ke bibi saya. Lestari segera mendekat ke samping kepala saya.
Saya:”Bi, aku leoas kutangnya ya” tanpa menunggu jawaban aku arahkan tanganku ke punggung lestari yang tanggap membelakangi saya. Segera saya tarik kutangnya dan saya lempar ke lantai.
Saya tarik lestari agar jongkok lalu saya lumat bibirnya.lestari tampak kaget dan berusaha menghidar tapi saya pegang dan saya masukan lidah saya ke mulutnya. Sementara Tirta terus menggenjot memek saya.
Lestari segera menjauhkan mulutnya dari mulut saya.
Lestari:”Gila kamu lesbi Wi?
Saya:”Nggak Bi, aku normal, aku Cuma gak mau kamu diem aza sementara aku diewe om Tirta, Cuma berbagi kenikmatan”
Lestari:”Bener?
Saya:”Sumpah, sini biar susu Bi Lestari aku isep”
Lestari pun mendekati saya lagi dan langsung saya caplok susunya. Astaga masih kenceng susu bibi aku ini, pasti dia juga bakal laku ini jadi pelacur. Lumayan pemasukan buat saya hehe.
Lestari:”aaah Wi enak”
Tirta:”Kamu benar-benar istri binal Lonte” ucapnya ngos-ngosan sambil tetap menggenjot memek saya.
Melihat Lestari sudah keenakan, saya minta dia berdiri.
Saya:”lepas cangcutnya bi”
Lestari pun segera melepas cangcutnya. Tangan saya segera meraba-raba memeknya yang ternyata mulai basah. Sambil digagahi Tirta saya pun segera mengerjai memek lestari. Saya colokan dua jari saya ke memeknya.
Saya:”uuuh Om, kencengin sodokannya om ahh, henuceut dewi udah terasa enak banget ini uuuuh”
Tirta pun semakin mempercepat sodokan kontolnya.
Saya:”Terus Om, oooh gagahi Dewi, zinahi Dewi Om, enak uuuh”
Plooook..ploook…ploook, genjotan Tirta pun semakin cepat. Saya kini sudah tidak lagi mengerjai Lestari. Saya berkonsentrasi menikmati sodokan kontol Tirta.
Sementara Lestari kini naik ke ranjang dan mengarahkan memeknya ke muka Tirta.
Tirta pun segera menjilati memek bibiku itu.
Saya:”Aaah Om,enak banget kontol Om besar aaah, ewean jero nikmat anjiiiing “ ucap saya sambil menggoyang pantat saya mengimbangi sodokan Tirta.
Tirta pun semakin mempercepat genjotannya.
Sambil menjilati memek Lestari, Tirta pun meremasi kedua susu saya dan membuat asi saya muncrat-muncrat.
Saya:”aaah ooom, Dewi gak kuat enak banget ewean jeroooo aakh” Saya merasakan kenikmatan luar biasa, padahal kontol Tirta tak jauh beda sama besarnya dengan punya Dendi tak beda jauh, apa ini efek obat perangsang yang saya minum.
Saya pun mengejang menggapai oragasme sementara saya rasa si Tirta pun menjejalkan kontolnya dalam-dalam dan saya merasakan memek saya disemprot cairan yang saya yakin itu sprema.
Saya:”aaah Om aku keluar” ucap saya yang langsung terkulai lemas. Tirta pun terdiam dan melepaskan jilatanya dari memek Lestari. Lestari pun segera berebah di samping saya sambil mengangkang. Lestari belum tahu Tirta sudah bucat di memek saya.
Tirta pun kemudian menarik kontolnya yang tampak mengkilat karena cairan kami.
Tirta:”Tari tunggu bentar ya, aku udah bucat di heunceut keponakanmu”
Lestari pun bangun sambil tersenyum.
Lestari:”Gpp mas, sini aku isep” ucapnya sambil menunduk lalu memasukan kontol Tirta yang mulai melemas.
Aku tak menyangka Lestari mau menghisap kontol Tirta yang baru keluar dari memek aku.
Saya:”Bi, kamu udah cocok jadi perek, kamu gak jijik isep kontol Om Tirta, kan abis bucat di heunceut aku”
Lestari hanya melirik dengan ujung matanya sambil tersenyum. Dia pun mengeluarkan kontol Tirta yang sudah bersih.
Saya pun bangkit dari ranjang dan segera turun.
Tirta:”Mau kemana kamu Wi?
Saya:”Pipis dulu Om” ucap saya sambil segera masuk ke kamar mandi. Ternyata Tirta mengikuti saya. Saya pun segera berjongkok dan kencing di depan Tirta. Tirta pun memperhatikan saya sambil tersenyum. Saya pun segera cebok dan berdiri.
Tirta:”Pegangin kontol aku lonte, aku mau pipis”
Saya:”Nakal banget kamu Om, aku pegangin ya” Tirta pun segera kencing dan saya pun mencuci kontolnya.
Saya:”Om mau bobo dulu, biar nanti shubuh aku bangunin, pasti stamina Om bangkit lagi, kita ewean lagi”
Tirta:”Ia ayo” kami pun segera keluar dari kamar. Aku terkejut karena ternyata ada Luna yang sedang menyusui Bobo. Dia hanya memakai bh dan celana dalam saja.
Untung mereka tidur nyenyak tidak terganggu oleh kami yang sedang ngentot.
Saya:”Lun”
Luna:”eh, kak, sorry aku nyusuin Bobo”
Saya:”Nyusuin suami aku sudah?
Luna:”Uda terkapar habis buang peju di memek aku hihi”
Saya:”nakal kamu Dek, aku mau nyusuin revan juga” ucap saya segera naik ke ranjang dan saling membelakangi dengan Luna saya pun menyusui Revan. Sementara tadi kulihat Tirta sudah naik ke ranjang yang sperainya tampak sudah diganti Bi Lestari karena tadi basah oleh minuman keras yang dituang Tirta ke badan saya.
Luna:”Kak, udah eweannya?
Saya:”udah, pejantannya lemes, baru aku aza yang diewe, bi Lestari belum”
Luna:”hehe, gak ngaruh obat kuat ya”
Saya:”Ia, tapi untuk seumuran dia, udah kuat banget, gak kalah dari Dendi”
Luna:”Kontolnya gede?
Saya:”Kan udah liat tadi, memang mau nyobain gak?
Luna:”Ih, nggak ah, cukup aku zinah sama suami kakak saja” ucapnya sambil berdiri.
Luna:”aku ke kamar sebelah lagi ya kak, kasihan nanti suami kamu nyariiin aku hihhi”
Saya:”Titip suami aku ya Lun, istrinya lagi jadi pelacur dulu hihi”
Luna:”Dasar kakak” ucapnya lalu keluar dari kamar saya.
Saya pun selesai menyusui Revan. Saya lihat Tirta sudah tertidur sambil berpelukan dengan Lestari dengan sama-sama telanjang. Lestari sudah melepas jilbabnya juga.
Saya pun segera mengambil baju tidur dari lemari beserta kutang dan cangcutnya. Setelah mengenakan semuanya saya pun segera naik ke ranjang dengan posisi di belakang Tirta. Saya pun memejamkan mata dan tidur.
POV SUAMI
Setelah merebahkan Luna. Saya pun segera naik ke ranjang dan menindihnya. Bibirnya segera saya lumat. Kami pun berciuman dengan sangat panas. Saling bertukar lidah dan saling menyedot lidah satu sama lain. Sementara tangan saya meremas-remas kedua payudaranya.
Luna:”mmpz berat mas uuh” Saya pun segera berguling ke samping Luna. Giliran Luna yang naik ke atas badan saya. Tapi dia sekarang menyodorkan susunya ke mulut saya.
Saya pun segera mencaplok susu Luna. Mulut saya segera menyedot puting susu Luna yang sudah membengkak. Air susunya segera keluar dan saya hisap dengan lahap. Terasa hangat di dalam mulut.
Luna:”Aaaah mas isep yang kuat uuuh, tapi jangan habisin sisain asi aku buat Bobo”
Saya tidak memperdulikan ucapan Luna. Saya terus menghisap pentil susu Luna. Kemudian berpindah ke payudara satunya lagi.
Luna:”Aaaah mas, jangan dicupang nenen aku” aku kembali lupa memberi cupangan di susunya Luna.
Saya:”Aduh, mas lupa”
Luna pun bangkit dan tampak cemberut. Dia melihat susunya sebelah kiri, ada cupangan besar merah sebesar uang koin seratus zaman orba.
Luna:”mas nakal, gede banget lagi nyupangnya”
Luna tampak membuka celana dalamnya dan melempar ke lantai kemudian naik ke muka saya dan kini memberikan memeknya.
Luna:”Nich, memek aku mas, mala mini Cuma buat kamuuuuu” ucapnya dengan naa berat. Sepertinya si Luna ini juga sudah sanget berat.
Saya pun segera menjulurkan lidah saya dan mulai menjilati memek Luna.
Luna:”aaah mas, masuk lidahnya ke memek aku, uuh nakal, kamu rusak kehormatan aku, momokku punya mas Toni uuh, kamu obok-obok aaaah”
Sambil tangan saya meremasi pantatnya yang sedikit tenggeng saya semakin membenamkan wajah saya di memek Luna. Lidah saya menari-nari didalam memeknya.
Luna:Aaanjiiir nikmat mas, lidahnya kenain itil aku uuh ampun” Ucap Luna sambil pantat bergoyang-goyang.
Mendengar ucapan Luna tersebut saya pun semakin bersemangat. Saya berusaha memasukan lidah saya sedalam mungkin.
Luna:”Aaagggh mas,stop uuh enak banget uuuh” ucap Luna lalu segera meminta saya melepaskan pegangan saya di pantatnya.
Luna segera menaikin kedua paha saya dan menggenggam kontol saya.
Luna kemudian berjongkok dan menjilati kontol saya sebentar lalu memasukan ke dalam mulutnya. Tapi tak lama paling sekitar tiga menitan. Dia pun jongkok kembali.
Luna:”Udah keras banget kontolnya mas, kontol yang tadi siang sudah mengobrak abrik kehormatan aku, udah merampas kehormatan aku sebagai seorang ibu dan istri hihi”
Saya:”Masukan lagi Lun, biar aku obrak-abrik lagi kehormatan kamu hehe”
Luna:”Siap Mas” Luna pun mulai menurunkan pantatnya.
Kontol saya pun mulai membelah memeknya dan perlahan memasuki lubang hangat tersebut.
Luna:”Aaaah masuk mas, uugh aku istri mas Toni tapi kamu gagahi uuuuggh” ucap Luna sambil menekan pantatnya dan amblaslah seluruh kontol saya. Luna pun segera memaju mundurkan pantatnya sambil naik turun.
Saya:”Sempit banget memekmu Lun, uugh nikmat banget”
Luna:”uuuh kontol kamu juga enak mas uuuh panjang dan besaaar”
Saya pun memegang pantat Luna dan menaik turunkan pantatnya sambil dari bawah saya pun menyodokan kontol saya membuat kepala Luna terdongkak ke atas.
Luna:”Aaaanjir nikmat banget mas uuuh, basah momok aku”
Cploook..cploook..cploook bunyinya terdengar nyaring di tengah malam yang sunyi. Dari sebelah biar tidak terlalu jelas kami pun mendengar hal yang kurang lebih sama.
Luna:”aaah, mas, pasti istrimu juga lagi ewean sama Om Tirta”
Saya:”Belum tentu bisa lestari uuh”
Luna:”Bi Lestari kan tadi udah dikentot duluan di dapur sama Om Tirta” Ucap Luna sambil mempercepat gerakan naik turunnya dan juga maju mundur.
Luna:”aaakkh nikmat banget zinah maaas, pantes dilarang uuuhh”
Saya:”Ia say uuuh gila memek tersempit yang pernah aku ewe belakangan ini uuh”
Sambil mengentot Luna dari bawah tangan saya kini meremas-remas susunya luna yang ada bekas cupangan baik kiri maupun kanan. Begitu saya pencet air susu dari pentil Luna pun muncrat-muncrat dan segera saya membuka mulut menyambut asi Luna.
Luna:”Enak Mas, ngewe sambil mimi cucu”
Saya:”Enak banget, gak hanya memek kamu yang hangat, cucunya juga anget”
Luna:”Uggh aku gak kuat mas, cepetan entotnya”
Saya pun mempercepat kentotan saya. Luna terlihat mulai kepayahan.
Luna:”aaaaah anjiiir aku gak kuat uuugh” Luna pun terdiam da terasa memeknya berkedut.
Saya biarkan beberapa detik lalu saya genjot lagi, kebetulan sprema saya pun sudah diujung.
Tak lama saya pun segera menghujamkan kontol saya dalam-dalam dan crooot..croooot..crooot sprema saya kembali mengisi memeknya Luna. Luna langsung menelungkup di atas badan saya. Dia pun segera melumat bibir saya.
Luna:”Mas, lagi dan lagi dimuncratin di dalam momok aku”
Saya:”abis enak banget Lun, udah gak tahan”
Luna:”Koq masih keras ya mas, ngeganjel di momok aku hihi”
Saya merasa kontol saya memang masih sedikit keras, tapi sudah tidak sekeras sebelum keluar.
Saya:”Ia gak tahu, mungkin betah di memek kamu say”
Luna:”Ia mas, masih keras ih, nanti gancet hihi” ucap Luna sambil bangkit kembali.
Saya:”Hehe, ya jangan sampai gancet”
Luna pun kemudian berdiri dan kontol saya pun terlepas.
Luna:”Aku mau nyusuin Bobo sebentar ya mas”
Saya:”Ok Lun” Luna pun segera turun dari ranjang dan memakai celana dalamnya. Dia pun kemudian keluar dari kamar. Saya lihat Luna memungut behanya sebelum masuk ke kamar yang ditempati Dewi dan Tirta.
POV WIFE
Saya pun terbangun, saya lihat jam dinding sudah pukul 4 pagi. Ku lihat Lestari dan Tirta masih terlelap tidur.Aku pun menepuk-nepuk pantat Lestari agar dia terbangun, tak lama dia membuka mata dan tampak matanya begitu merah.
Lestari:”Apa Wi?
Saya:”Bibi, jam 3 pagi, bibi gak mau maen lagi kah, sama Tirta?
Lestari:”Aku ngantuk, capek banget, kamu saja sama Mas Tirta, bilangin aku nanti pagi aza” ucap Lestari sambil melepaskan diri dari pelukan Tirta lalu mengadap tembok membelakangi kami. Sepertinnya dia kecapean.
Saya pun berniat membangunkan Tirta,tadinya saya mau menepuk-nepuk badannya, tapi saya urungkan.
Perlahan saya tarik Tirta hingga terlentang. Kontolnya tampak masih layu. Perlahan saya genggam kontolnya dan saya koncok-kocok. Lama kelamaan semakin mengembang.
Tirta:”Uuuh Enak Dewi, pakai mulut kamu dong pelacur” Ternyata Tirta sudah terbangun.
Saya:”Kirain Om masih tidur, hehe”
Tirta kemudian menoleh ke arah Lestari.
Tirta:”Bibi kamu gak dibangunin?
Saya:”Udah Om, tapi katanya ngantuk banget, mungkin dia capek, katanya besok pagi dia layanin Om”
Tirta:”Oh, ya udah, gak masalah, saya pun kerepotan kalau harus langsung dua orang hehe, kalian ganas-ganas”
Saya:”Om juga harus ganas dong,eh malah ngobrol, aku isep ya?
Tirta:”kita pindah saja Wi, nanti anak-anak atau Lestari keganggu”
Saya:”Jadi kita mau ewean di mana?
Tirta:”Di sofa saja yuk, depan tv”
Saya:”Ya udah, kita pindah ke sana” Ucap saya hendak turun dari ranjang,tapi tangan saya di tahan oleh Tirta.
Tirta:”Aku punya permintaan Wi”
Saya:”Permintaan gimana Om?
Tirta:”Aku ingin menyetubuhi kamu dengan penampilan kamu seperti menemui aku, bisa?
Saya:”Bisa Om, kalau gitu kita mandi saja dulu, om, kita mandi bareng”
Tirta:”Kamu saja yang mandi ya, aku tunggu di sofa, aku kalau mandi bareng takut kelepasan aku ngentotin kamu”
Saya:”Ya sudah biar saya mandi dulu”
Tirta:”dandan yang cantik ya, aku tunggu” ucap Tirta.
Saya:”Pasti Om” ucap saya lalu turun dari ranjang. Plaak…Tirta menepok pantat saya.
Saya:Aaaw, sabar ya Om, aku mandi dulu”
Saya pun segera pergi ke kamar mandi. Saya pun membersihkan diri, terutama di bagian-bagian sensitive. Setelah bersih dan wangi saya pun keluar dari kamar mandi. Tampak pintu kamar tak lagi terbuka tapi sudah tertutup rapat.
Tak nampak Tirta,sepertinya dia sudah keluar kamar. Saya pun segera berdandan. Saya kenakan jilbab baru lagi, saya pilih jilbab warna putih, saya ambil atasannya baju lengan panjang berwarna merah muda,yang saya anggap baju say yang paling bagus. Baju saya panjangnya sampai pinggang, memiliki kancing di depan seperti kemeja.
Roknya saya ambil warna putih yang cukup tipis, atasnya polos, kecuali di bagian kaki ada motif bunga-bunga pas di mata kaki, Baju dan rok yang saya kenakan begitu ngepress karena kekecilan. Bulatan pantat dan payudara tercetak jelas. Untuk baju tidak terlalu nyeplak, tapi untuk rok cangcut saya sangat nyeplak, Saya kenakan cangcut warna putih.
Saya pun memakai stocking dan make up pun sayabuat tebal, dengan alis pun saya buat tebal seperti waktu saya menemui dia. Cukup lama, ku lihat sudah jam 4 pagi. Saya pun segera keluar dari kamar.
Tampak Tirta sedang duduk di sofa. Hanya memakai kaos dan sempak saja. Dia tampak sedang minum dari sisa botol yang masih tersisa, ada dua botol, terilhat satu botol masih utuh.
Saya pun segera duduk di samping dia.
Tirta:”Luar biasa, kamu cantik sekali Dewi, saya berntung sekali bisa meniduri pelacur berjilbab secantik kamu” Ucapnya sambil tangannya merabai dada sayayang menonjol karena gaun yang saya pakai sangat ngepress.
Saya:”Aaaah, Om main cabak(raba) susu aku aza” ucap saya sambil mendesah dan bersender di sofa.
Tirta pun menaruh 2 botol minuman yang tadi di sofa ke bawah samping sofa.
Tercium bau minuman begitu menyengat dari mulutnya.
Tirta pun memegang kepala saya dan langsung melumat bibir saya. Lidah kami saling bertautan dan bergantian kami saling menyedot lidah, kami berciuman dengan sangat panas. Aku sempat mencuri pandang ke kamar lestari. Tak nampak aktivitas, sepertinya Luna dan suami saya masih tertidur.
Tirta pun sepertinya mengetahui yang saya lakukan. Dia pun melepaskan bibir saya.
Tirta:”Suami kamu sepertinya masih tidur”
Saya:”Ia Om” ucap saya dengan suara lemah.
Tirta:”Kamu mau minum?
Saya:”Boleh Om, dikit aza” ucap saya.
Tirta segera bangkit dari sofa dan mengambil gelas dari nampan yang ada di bawah.
Tirta pun menuangkan minuman beralkohol tersebut ke dalam gelas, hanya seperempat saja.
Tirta pun menyodorkan kepada saya. Saya pun perlahan meminumnya. Akhirnya habis juga.
Tirta tampak tersenyum puas.
Tirta:”Bagus Dewi” ucapnya sambil merapatkan badannya ke badan saya. Saya pun menaruh gelas ke bawah sofa.
Tirta menarik badan saya agar lebih mendekat kepadanya. Kemudian dia membuka beberapa kancing baju saya. Sepertinya dia sengaja tidak ingin melepas semua baju saya.
Bh saya yang warna cream pun terlihat, ini ada bh lama, dansudah kekecilan, susu saya pun begitu menggembung. Perlahan Tirta menjulurkan lidahnya dan mejilati permukaan susu saya.
Tak lama dia melepas semua kacing baju saya hanya menyisakan satu kancing yang di atas. Tangannya segera menarik cup bh saya ke atas. Susu saya pun segera terbuka. Tirta pun mendorong saya hingga terlentang di sofa. Kini lidahnya menelusuri pinggiran puting susu saya, membuat saya menggenlinajang.
Kemudian lidahnya mulai menjilati pentil susu saya, dia tak nampak terburu-buru. Sebelah tangannya meremas-remas susu satunya, cairan susu saya pun keluar membuat payudara saya basah. Kemudian Tirta mulai menghisap puting susu saya.
Saya:”Aaah Om nikmat uuuh isep nenen aku Om” Tirta pun menyedot asi yang keluar dari susu saya.
Tirta kemudian bergantian menghisap pentil susu saya dan melahap asi yang keluar.
Kemudian setelah puas Tirta kembali mencium bibir saya dan berbisik di telinga saya.
Tirta:”Kita main bareng yuk sama suami kamu”
Saya:”Maksudnya Om?
Tirta:”Barengan, tapi gak tukeran, aku tetap sama kamu, suami kamu sama Luna, biar lebih bergairah saja”
Saya:”Om mau suami aku lihat waktu om gagahin aku gitu?
Tirta:”kayaknya pasti lebih menggairahkan”
Saya:”Ya udah aku bilang ke suami aku dulu ya”
Tirta pun segera minggir dan saya pun bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar di mana suami saya dan Luna berada tanpa membenahi pakaian saya.
Saya lihat mereka masih tertidur sambil berpelukan di dalam selimut.
Saya pun mengguncang-guncang tubuh suami saya. Suami saya pun menggeliat dan melihat saya. Dia cukup terkejut melihat penampilan saya.
Saya:”Pah, Om Tirta pengen maen di sini, dilihatin Papah dan Luna, boleh?
Suami:”Hah, kamu ?
Saya:”Ia Pah, tadi aku dan dia di sofa”
Suami:”Lestari?
Saya:”Bi Lestari gak mau bangun, capek katanya, aku bawa Om Tirta ke sini ya”
Suami:”Aku Tanya Luna dulu” suami saya pun mengguncang-guncang tubuh Luna, Luna pun segera bangun, dan suami saya menceritakan yang saya omongin barusan.
Luna:”Kenapa harus sama kita sich?
Saya:”Dia mau gagah-gagahan, dia mau gagahi aku di depan Mas Dendi, itu bikin dia lebih bergairah”
Luna:”Oh, mungkin juga, soalnya pasti semua merasa puas kalau bisa menyetubuhi istri orang depan suaminya hehe, aku gak keberatan, lumayan nonton bokep, mas Dendi?
Suami:”Aku dah biasa lihat Dewi ditidurin orang depan aku, jadi gak masalah, kalau sange kan ada kamu”
Saya:”Thanks Pah, aku mau Om Tirta Puas” ucap saya lalu keluar dari kamar. Saya pun melambaikan tangan kepada Tirta.
Tirta pun segera masuk ke dalam kamar mengikuti saya. Saya terkejut karena ternyata suami saya dan Luna sudah duduk di tepi ranjang dan mengkosongkan ranjang, suami saya telanjang tidak menggunakan kain sehelai pun sedang Luna masih menggunakan beha dan cangcut.
Luna:”Silahkan Om, pelacurnya di bawa naik ke kasur, hihih”
Saya:”Awas ya Lun…hihi” Ucap Saya sama-sama merasa lucu.
Saya pun segera naik ke ranjang dan duduk dan segera diikuti oleh Tirta. Kami kemudian diam beberapa saat.
Luna:”Udah, main aza, malah pada diam”
SUami saya tidak berkomentar hanya focus melihat kepada kami berdua.
Saya pun menatap Tirta dan menganggukan kepala saya agar Tirta memulai kembali.
Tirta pun kemudian memeluk saya dan kepalanya kembali mencaplok payudara saya.
Saya:”Aaaah isep Om puting susuku uuwh” ucap saya dengan merem melek sambil menatap suami saya dan saya tersenyum kepadanya.
Suami saya tampak mengambil kursi dari meja rias dan duduk di sana lalu terlihat memberi kode sama Luna agar duduk dipangkuannya. Luna pun kemudian duduk dipangkuan Dendi, entah kenapa hati saya koq sedikit panas melihat mereka begitu mesra. Luna terlihat sengaja memanasi saya. Tangannya di kalungkan di leher Dendi sambil membelakangi saya. Mereka tampak berciuman.
Saya pun tak mau kalah, segera saya panasin suami saya.
Saya:”aaakh, Pah, nenenmamah dicupang sama Om Tirta” ucap Saya, memang Tirta baru mendaratkan satu lagi cupangan di dekat pentil susu saya yang sebelah kiri.
Luna kini sudah berbalik dan melihat ke saya dan Tirta. Sementara tangan suami saya berada di dalam kutang Luna, meremas-remas susunya Luna.
Sementara Tirta kin membuka kancing terakhir baju saya dan melepaskan baju saya. Tirta kemudian merebahkan badan saya dengan kepala saya mengarah ke tepi ranjang ke arah suami saya dan Luna.
Tirta merentangkan tangan kanan saya dan segera menjilati ketiak saya yang berbulu lebat.
Saya:”Aaaah geli Pah, tolong, ketiak mamah dijilati Om Tirta aduuuuh” saya pun menggeliat karena memang geli. Saya agak sulit melihat ke suami saya dan Luna karena posisi kepala saya.
Tirta kemudian berpindah menjilati ketiak saya yang sebelah kiri, hingga ketiak saya basah oleh air liur Tirta.
Kemudian Tirta meminta saya bangun. Dia menurunkan sempaknya sendiri. Tampak Kontolnya langsung mencuat ke atas.
Tirta:”Wi jepit pakai susu kamu ya”
Saya:”Ia Om, Pah aku jepit kontolnya Om Tirta pakai toked aku ya” ucap Saya sambil melihat suami saya dengan memasang muka nakal.
Suami saya tampak berbisik ke pada Luna.
Luna pun langsung menghampiri saya.
Luna:”Kak Dewi, aku lepasin kutang kakak ya, biar kakak leluasa kasih tits fuck” ucap Luna yang segera memuka kait kutang saya yang ada dipunggung. Lalu Luna pun menarik kutang saya hingga terlepas dan membawanya kepada suami saya. Lalu dia mengalungkan kutang saya yang berwarna cream tersebut di Leher Dendi dan duduk kembali dipangkuan suami saya sambil melihat kami.
Setelah itu saya segera menaruh kontol Tirta di tetek saya dan saya jepit lalu saya pun memaju mundurkan badan saya.
Tirta:”Aaah enak banget Dewi, terus pelacurku yang berjilbab, enak banget” ucap Tirta.
Kontol Tirta pun semakin mengeras. Tirta menarik kontolnya dan kini mengarahan ke mulut saya. Saya pun segera memasukan kontol Tirta ke mulut saya. Kepala saya pun segera maju mundur. Kontol Tirta pun semakin keras saja.
Tirta:”Enak banget sepongan istri Pak Dendi ini, istri pak Dendi memang pelacur professional” ucap Tirta melecehkan saya dan suami saya.
Saya pun melirik suami saya, tampak dia sedang menjilati leher Luna yang sekarang sudah tak lagi mengenakan kutang.
Tirta kemudian meminta saya rebahan. Saya pun segera rebahan dan posisi saya sekarang menyamping dari posisi suami saya dan Luna. Tirta tampak menarik turun rok saya hingga terlepas. Tinggalah cangcut dan jilbab yang masih menempel di badan saya.
Tirta pun segera melepas kaosnya dan melemparnya ke lantai, tangan Tirta hendak menurunkan cangcut saya.
Tirta:”Pak Dendi, saya lepas cangcut istri bapak ya, saya pengen jilatin heunceutnya” ucap Tirta
Tapi segera dicegah oleh Luna.
Luna:”Biar Luna yang bukain Om” Ucap Luna dan segera turun dari pangkuan suami saya dan naik ke ranjang. Luna pun segera memegang karet cangcut saya dan menariknya turun. Saya pun mengangkat pantat saya agar memudahkan Luna menarik cangcut saya.
Cangcut saya warna putihpun segera terlepas.
Luna pun segera turun dari ranjang dan plaaak…
Luna:”Awww, Om nakal tepok pantat Luna” ucap Luna memasang muka cemberut karena pantat nonggengnya baru saja ditepok oleh Tirta.
Saya:”Hehe “ saya pun tertawa.
Luna segera berlari membawa cangcut saya dan menaruh di kontol suami saya yang sudah ngaceng. Luna pun duduk di bawah kursi sambil mengurut-ngurut kontol suami saya menggunakan cangcut saya.
Sementara Tirta segera melebarkan kedua kaki saya hingga mengangkang lebar.
Tirta:”Pak Dendi, saya jilatin ya henceut istrimu yang pelacur ini” ucapnya.
Lalu dia menunduk dan menjulurkan lidahnya menelusuri memek saya.
Tirta:”Lebat banget jembut kamu Dewi”
Saya:”Uuuh Om, suami aku yang gak ngebolehin aku nyukurin baok heunceut aku om” ucap saya sambil menatap sayu suami saya.
Saya:”Aaah, Pah, lidah Om tirta masuk ini ke hencuet mamah uuh enak Om” ucap saya dan menekan kepala Tirta agar terbenam di memek saya.
Tirta pun segera mengerjai memek saya.
Saya:”Aaaah, kenain di itilnya Dewi Om, ia disitu uuuh enak Om, itil mamah enak Pah, kena lidah om Tirta” ucap Saya. Tampak Luna kini sedang memaju mundurkan kepalanya di mana kontol suami saya berada di mulutnya.
Lidah Tirta masuk semakin dalam di memek saya, sebentar saja memek saya pun basah, apalagi memek saya dijilati sambil di lihat suami saya membuat saya cepat basah.
Tirta menghentikan jilatannya dan kemudian memeberi intruksi aga saya menungging dan menghadap Luna dan suami saya.
Saya pun segera menungging sesuai permintaan Tirta. Kini Tirta sudah ada dibelakang saya sambil meremas-remas pantat saya.
Tirta:”Pak Dendi izin ya, saya mau entot istri bapak” ucapnya.
Suami:”Entot saja pak, biar dia kapok”
Saya:”Papah jangan marah ya, kan Om Tirta udah bayar biar bisa ngewe heunceut mamah” ucap saya dan Bleeeesek. Tirta tiba-tiba memasukan kontolnya ke memek saya.
Karena sudah basah kontol Tirta pun dengan mudah memasuki memek saya.
Ploook..ploook…ploook Tirta pun mulai menyetubihi saya. Ujung hijab saya menjadi pegangan dia.
Saya:”aaaahkkk Pah enak banget, kontol Om Tirta besar dan panjang seperti punya pah aaaah, kontooool” ucap saya. Kepala saya beberapa kali terdongkak oleh hantaman Tirta.
Saya lihat Luna masih menjilati kontol suami saya, sepertinya mereka belum akan ngentot tapi lebih suka menonton saya disetubuhi Tirta.
Tirta kini ikut menungging dan tangannya memegang susu saya lalu dia kembali mengentot memek saya.
Tirta:”Pak Den, Heunceut istri bapak enak banget, rasanya memijat kontol saya dari dalam” ucap Tirta memanasi suami saya.
Plook…ploook…plook benturan pantat saya dan paha Tirta terdengar nyaring.
Saya:”Sodok heunceut Dewi yang dalem Om, ooooh nikmaaat Papah, ewean jero sama Om Tirta” saya mulai kelojotan. Dikentot depan suami sendiri membuat saya merasa excited.
Tirta:”Gila, bini Pak Dendi memang binal, saya suka banget”
Saya:”Om Suka, Om puas”
Tirta:”Ia Dewi, uuh nikmat heunceut kamu, Dewi Om Puas, kamu binal uuh, sesuai denga tato di pantat kamu, cewek berjilbab yang binal”
Tirta pun semakin mempercepat sodokan kontolnya. Memek saya pun semakin basah. Cploook…cploook..cppploook..
Saya:”Om suka gagahin aku depan suami aku”
Tirta:”Om suka banget Dewi uuuh”
Saya:”Pah, Om Tirta suka banget gagahin mamah depan Papah uuh, terus Om, zinahi aku, sampai kontol dan heunceut kitaganceeeet”
Tirta:”Kamu binal banget Dewi, Om gak kuat”
Saya:”Aaakh barengan Om Dewi pun mau keluar”
Tiba-tiba Tirta mencabut kontolnya dan langusng rebahan.
Saya pun segera menaiki paha Tirta.
Saya menoleh kepada suami saya yang masih disepong oleh Luna.
Saya:”Pah, mamah masukan lagi ya, kontol Om Tirta ke heunceut mamah” ucap saya sambil menurunkan pantat saya.
Bleeees… kontol Tirta pun segera tertelan memek saya yang sudah sangat basah. Saya pun segera naik turun. Sementara si Tirta meremasi susu saya sambil merem melek. Asi saya pun muncrat-muncrat mengenai dada Tirta.
Tirta:”Mantap Pak Dendi, air susu istri bapak sampai muncrat-muncrat”
Saya:”Uugh ia om,susu aku makin gede, dulu aku cuman pakai kutang ukuran 36 sekarang no kutang Dewi sudah 40 om”
Tirta:”Selain kamu bunting, karena terlalu banyak yang remas susu kamu Dewi, puting susu kamu juga sampai panjang”
Saya:”Aaaakh Om, tusuk yang dalem henceut Dewi dari bawah aaaaah, Dewi udah gak kuat”
Tirta:”Aaah bentar lagi barengan lonte, pelacur seperti kamu memang harus diewe depan suami kamu eeegh dan aku pejuhin”
Saya:”Gak kuat Om, ia, pejuin heunceut akuuuuu”
Tirta:”Om Juga gak kuat, barengan ya lonte”
Saya:”Aaakh pah, mamah ini lonte, uuuhggg mamah keluar” ucap saya sambil mengejang dan Tirta pun memegang pantat saya sambil mengengkat pantatnya ke atas menjejalkan kontolnya sedalam mungkin.
Crooot..crooot..crooot sprema Tirta terasa banyak lebih banyak dari tadi malam mengisi memek saya.
Saya:”Aaah…aaaaah..aaaah…aaaah” setiap semprotan sperma Tirta membuat saya mendesah nikmat.
Saya:”Pah, dinding heunceut mamah disemprot peju Om Tirta” ucap Saya sambil menioleh ke suami saya yang kini lagi menjilati susu Luna yang sudah duduk dipangkuannya lagi saling berhadapan.
Saya kemudian tersungkur dan Tirta segera menarik kepala saya, kami pun segera berciuman. Mata saya menatap suami saya sambil lidah saya disedot-sedot Tirta.
Lalu kemudian saya berguling ke samping tubuh Tirta. Bada saya terasa lemas dan dilolosi. Tirta lebih gagah dari tadi malam, mungkin pengaruh obat baru bereaksi.
Saya pun mengangkang dan lelehan sprema membasahi paha saya keluar dari memek saya.
Sementara Tirta segera bangkit dan pamit.
Tirta:”Bu Dewi, pak Dendi, Luna saya duluan ya, Pak Dendi monggo dilanjut entot Mbak Luna” ucapnya dan segera keluar dari kamar.
Saya:”Pah, ayo ewe Luna, mamah mau nonton”
Suami saya tampak menggendong Luna menuju saya yang terbaring di kasur.
Lalu dia menjatuhkan Luna disamping saya.
Suami:”Kamu binal banget mah, gila”
Luna:”ia kak, aku baru lihat langsung kakak diewe, binal banget, kakak memang istri yang binal”
Saya:”Ayo Lun,biar sesuai dengan lagunya”
Luna:”Maksudnya gimana kak?
Suami pun sepertinya tak mengerti maksud saya. Kini dia sdh menggesek-gesek kontolnya di bibir memeknya Luna.
Saya:”Itu Lun, Pah, kalau lagu sunda kan gini, cadas panger*n baheula hujan cimata, nah kalau lagu kita, Antapan* kiwari banjir ci mani”
Luna:”haha bisa saja, masukin kontolnya mas”
Saya:”Sini biar aku pegang” ucap saya sambil bangun dan memegang kontol suami saya lalu saya arahkan dan saya masukan ke memeknya si Luna.
Luna:”Aaaakh, enak Kak, ayo mas kentot Luna”
Dendi pun mulai memaju mundurkan pantatnya dan menyetubuhi adikku Luna.
Saya:”Gimana Pah, sempit kan memeknya adikku?
Suami:”Sempit banget mah”
Saya:”Kecil banget memek kamu Lun” ucap saya sambil memaikan tangan saya di itilnya Luna
Luna:”aaah kak enak banget uuh itilnya Luna uugh”
Sementara saya lihat suami saya mengewe Luna sambil tangannya meremas-remas susu adik saya.
Ploook…plooook…ploook
Luna:”aaah maaaas, enak banget, sodok yang dalam kontolnya mas” ucap Luna semakin merintih keenakan.
Saya:”Enak Lun, Enak mana sama dientot Toni”
Luna:”sama enaknya kak uuuhhhh,ewe yang dalem mas” ranjang pun bergoyang seiring gerakan maju mundur suami saya.
Saya:”masa sich? Yang bener?
Luna:”uug ia, tapi besaran dan panjangan kontol mas Dendi uugh” Suami saya kini mendekap tubuh Luna dan semakin cepat mengewe memeknya Luna.
Luna pun semakin tak karuan, tangannya meremas seprai.
Luna:”Aaaagh, aku gak kuat mas, cium aku sayang”
Suami ku pun melumat bibirnya Luna di bawah tatapan mata saya yang duduk menyaksikan mereka ewean, tadi mereka yang menyaksikan aku diewe Tirta.
Luna:”Aaakh Mas gak kuat, Luna keluar”ucap Luna yang lalu mengejang, tangannya meremas kain seprai.
Suami saya pun semakin mempercepat genjotannya.
Saya:”Mau keluar Pah, keluar dimemeknya Pah, bikin dia bunting” ucap saya sambil menepuk-nepuk pantatnya Dendi.
Suami:”Aaaakh Aku keluar” ucapnya sambil menekan kontolnya dalam-dalam.
Luna nampak sedikit berontak.
Luna:”aaaakh kamu keluarin lagi di dalam momok aku mas”
Saya:”Kenapa memang Lun”
Luna:”suami teteh itu, dari kemaren keluarnya di momok aku mulu, padahal aku lagi subur”
Saya:”Hahah, bagus biar kamu beneran bunting”
Luna:”amit-amit ,aku bunting dari hasil zinah dong kak?
Saya:”Ia lah,sama kayak aku” ucapku berbisik pelan di telinga Luna.
Luna:”Mas Dendi berat, udah cabut kanjutnya”
Suami saya pun berguling ke samping Luna. Tampak Memek Luna merekah, lubangnya belum nutup da nada cairan putih yang keluar meleleh.
Saya:”Ya udah, kalian istirahat dulu ya, aku mau mandi” ucap saya tanpa menunggu jawaban saya pun pergi dari kamar Bi Lestari. Baju saya , saya biarkan berantakan di lantai.
Saya pun kembali ke kamar, ternyata sudah hampir jam 6 pagi. Saya tidak melihat Lestari maupun Tirta. Saat mau masuk kamar mandi, ternyata kamar mandi di kunci dari dalam.
POV Lestari
Aku masih tertidur dalam keadaan telanjang sampai seseorang menepok nepok pantatku.
Tirta:”Tari, bangun, temenin aku mandi”
Aku pun terkejut dan lantas berbalik badan, tampak Tirta yang tak memakai pakaian apa-apa juga, dan kontolnya menggantung loyo.
Saya:”Kamu udah eweannya sama Dewi?
Tirta:”Udah, temenin mandi yuk”
Saya pun masih dengan sedikit malas akhirnya bangun, tangan saya di tuntun Tirta masuk ke dalam kamar mandi. Tirta lalu mengunci pintu dan memeluk saya lalu mencium bibir saya, tangan meremas-remas pantat saya.
Saya:”Kamu masih kuat mas?
Tirta:”Aku baru keluar Tari, kamu harus buat kontol aku bangun lagi” Ucap Tirta yang lantas menggendong saya dan menuju shower.
Tirta segera menurunkan saya dan menghidupkan shower, airnya segera menyirami saya, begitu terasa dingin mungkin efek saya tidur tanpa busana dan ac tetap menyala.
Tapi lama kelamaan air semakin hangat. Saya dan Tirta pun segera berada dalam guyuran air hangat. Saya pun segera mengambil sabun dan mulai menyabuni Tirta mulai dari ujung kaki sampai pangkal paha. Kontolnya menjadi perhatian saya dan langsung saya cuci dan sabunin. Saya berlama-lama menyabuni kontol Tirta tapi hanya sedikit mengeras. Saya pun segera membersihkan bagian bawah tubuh Tirta dari mulai pangkal paha sampai kaki.
Segera dengan masih dalam guyuran air saya memasukan kontol Tirta yang sudah saya bersihkan ke mulut saya, masih ada sedikit bau sabun. Tirta pun memaju mundurkan kontolnya dan menyodok mulut saya, ajaib perlahan kontolnya kembali mengeras.
Saya pun menaruh kontol Tirta di belahan payudara saya dan mulai maju mundur. Saya pun tersenyum, setidaknya usaha saya berhasil perlahan kontol Tirta semakin mengeras. Tirta pun menarik saya untuk berdiri.
Tirta:”Kamu peluk aku Tari”
Aku pun segera memeluk Tirta dengan mengalungkan kedua tangan di lehernya. Tirta pun kemudian melebarkan kaki saya dan mengarahkan kontolnya ke memek saya. Perlahan dia mendorong kontolnya dan bleeeess…
Kontolnya pun tertelan memek saya. Tirta pun segera mengangkat badan saya dan mulai mengenjot memek saya dengan posisi saya digendong oleh dia.
Saya:”aaaah, mas, enak banget uuuh” ucap saya dan air hangat terus menyirami tubuh kami. Tirta mulai menaik turunkan badan saya.
Tirta:”Aaakh enak memekmu Tari, kamu harusnya tadi lihat bagaimana aku menggagahi si dewi pelacur depan suaminya”
Saya:”Aaakh mas hebat banget, harusnya mas menggagahi aku depan suami aku si Juna”
Tirta:”Kita akan mewujudkannya Tari” ucap Tirta sambil menurunkan badan saya, sepertinya dia kelelahan mengangkat badan saya.
Saya:”Mas, Dendi punya kamera, boleh kita rekam, aku nanti mau kirim video aku diewe sama kamu ke si Juna”
Tirta:”Kata Dewi tak boleh ada kamera atau rekaman?
Saya:”Ini kan antara kita, gak ada Dewi”
Tirta:”Ok, kamu ambil Tari”
Saya pun segera keluar dari kamar mandi dengan tubuh basah. Saya pun mengambil kamera dari laci yang ada di kamar, saya tahu karena Dendi pernah merekam persetubuhan kami.
Saya pun segera kembali ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi. Saya menaruh kamera yang sudah saya nyalakan dengan mode rekaman di atas bak mandi, saya beruntung karena baterainya penuh.
Tirta menyuruh saya menungging dan berpegangan di tembok kamar mandi. Segera saya melakukan yang diminta Tirta. Sementara Tirta segera berada di belakang saya dan mulai mengarahkan kontolnya ke memek saya.
Bleeeees….kontol Tirta pun kembali bersarang di memek saya.
Saya:”aaah mas enak banget kontolnya uuugh Juna kamu harus lihat binimu diewe orang uuuh enak kontolna badag”
Ploook…ploook…ploook sambil memegang pantat saya Tirta pun memaju mundurkan kontolnya.
Tirta:”Juna, heuncuet istrimu nikmat, dia bakal gue kawinin dan gue jadikan bini,uuugh heunceut enak gini kamu sia-siakan”
Saya:”Aaah sodok yang dalam sayang aaaah, remes susu aku” ucap saya sambil mengarahkan tangan Tirta agar meremasi susu saya.
Tangan Tirta pun segera meremasi susu saya sambil kontolnya keluar masuk dengan cepat di memek saya.
Saya:”aaakh nikmat banget mas, pasti tadi Dewi keenakan juga ya sayang”
Tirta:”ia, kamu harusnya aku liat bagaimana aku kontolin si Dewi dan bikin dia menggelepar di depan suaminya” ucap Tirta penuh semangat. Tangannya tak berhenti meremasi susu saya. Leher saya pun terus dia cupangin.
Saya:”Uuugh nikmat mas, kontolnya masuk dalem banget uuuhhh, memek aku basah”
Tirta:”Heunceut kamu hangat sayang uugh nikmat meremas kontol aku”
Ploook..plooook…ploook Tirta pun semakin cepat ngentotin memek saya.
Saya:”Aaaah, tari gak kuat lagi mas, nikmat banget iiih, ngeweeee”
Tirta:”Aaaakh aku juga gak kuat Tari, kita barengan”
Saya:”Buntingin aku mas, Juna lihat kontol gede Tirta bakal buntingin memek aku uuuh”
Tirta:”Heunceut binimu bakal aku bikin bunting uuuuh”
Saya:”Aaaaah, Tari gak kuat mas, tusuk yang dalem aaaaaah”
Tirta:”Aku juga Tari uuuhhh” croot…crooot…crooot
Pejuh Tirta pun membasahi memek saya, walau tak banyak cukup membuat saya melayang.
Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sia orgasme kami.
Saya:”Udah mas”
Tirta:”sudah saya, kamu mau jadi istri aku?
Saya:”Kamu serius?
Tirta:”Ia aku serius, asal kamu mau nerima aku apa adanya, kehidupan kita, seks kita”
Saya:”Ia mas makasih, kalau mas serius aku akan pikirkan, aku harus bisa cerai dulu dari Juna”
Tirta:”Kalau kamu perlu bantuan aku bilang saja, aku bisa sewa pengacara”
Saya:”Ia mas, udah ayo kita mandi”
Kami pun kemudian mandi lagi dan saling menyabuni. Selesai mandi kami pun segera keluar kamar. Saya pun membuka gorden dan tampak sudah terang, ternyata sudah setengah tujuh. Saya pun segera memakai handuk dan keluar dari dalam kamar, sementara Tirta sedang memakai baju.
Saya pun segera keluar kamar, tampak Dewi yang sudah rapi memakai baju panjang tanpa jilbab dan Luna yang memakai jilbab putih dan kaos belang-belang lengan panjang dan celana jeans biru ketat sedang membereskan ruang tengah yang di mana pakaian mereka berantakan di sana sini.
Dewi:”Ih, tadi ewean ya, pakai dikunci segala”
Saya:”Jorok banget kamu Wi, ia, ampe pegel memek bibi”
Dewi:”Ya udah pakai baju sana, entar Deni lihat bibi begitu malah dikentot”
Saya pun tersenyum dan segera masuk ke dalam kamar.
BERSAMBUNG…..
Komentar
Posting Komentar