PART 49
POV SUAMI
Wife:”Bangun Pah, udah siang”
Saya pun segera membuka mata saya, segera kulihat istri saya sudah rapi,
memakai baju atasan berbahan lembut berwarna orange dan rok panjang
semi transparan berwarna biru muda dengan jilbab juga berwarna biru
muda.
Saya:”Mamah udah rapi banget?
Wife:”Kan hari ini kita mau pergi pah, kamu harus antar mamah”
Saya:”Oh ia, maaf papah baru ingat, kamu mau jadi photo model kan?
Wife:”Nyindir, ya udah papah mandi dulu, terus makan”
Saya pun segera bangkit dan meninggalkan istri saya menuju kamar mandi.
Setelah mandi dan memakai pakaian rapi saya pun segera menuju ke ruang
makan. Ku lihat Dewi sudah menunggu, tak terlihat anak-anak di sana.
Saya pun segera duduk di hadapan istri saya.
Saya:”Anak-anak mana Mah?
Wife:”Mereka sudah sarapan tadi, sekarang paling lagi main dengan Hanum, lengket mereka dengan si Hanum Pah”
Saya:”Oh ya, syukurlah, biar kamu gak terlalu capek mah” ucap Saya.
Saya dan istri saya pun segera saja sarapan.
Selesai sarapan kami pun segera bersiap-siap untuk pergi. Saya cukup
tenang meninggalkan anak-anak di rumah karena ada Anis, Hanum dan bu
Heti termasuk untuk mengawasi para pekerja yang sedang merenovasi rumah.
Saya pun sudah melaju meninggalkan rumah dengan istri saya. Di dalam mobil kami pun kembali berbincang-bincang.
Saya:”Kamu memang sudah betul-betul mantap mah, mau jadi model? Model pakaian dalam lagi!
Wife:”Sudah Pah, biar viral hehe”
Saya:”Dasar kamu nakal mah” ucap saya sambil melirik ke istri saya yang tampak senyum-senyum saja.
Wife:”Papah pulang jam berapa? Gimana beres kerjaannya? Istri saya sepertinya mau mengalihkan arah pembicaraan.
Saya:”Jam berapa ya, lumayan malem pokoknya, kalian semau sudah tidur, Alhamdulillah udah beres semua”
Wife:”Syukurlah, berarti bisa cuti dengan tenang” Ucap istri saya,
sepertinya dia rileks sekali, terdengar dia seperti bernyanyi.
Saya:”Mah, ngomong-ngomong ini kan kata Julian model pakaian dalam…”
Wife:”Ia Pah, betul, kenapa lagi?
Saya:”Kan itu kamu lumayan berantakan, lebat danpanjang-panjang lagi,
nanti kan photonya pasti Cuma pakai beha sama celana dalam doang?
Istri saya tidak cepat menjawab pertanyaan saya tapi malah tertawa, tapi sepertinya dia paham maksud dari pertanyaan saya.
Wife:”Maksud kamu baok heunceut mamah panjang-panjang kan pah? Tenang
aza, udah mamah rapikan, meski masih lebat, jadi gak akan keluar dari
cangcut mamah nantinya, mamah juga pasti malu lah”
Saya:”Oh, jadi penasaran papah pengen liat sekarang kayak gimana?
Wife:”Haha, udah focus nyetir aza, nanti kalau di photo liat sendiri”
Saya kembali focus nyetir. Tak sadar kami sudah berada di daerah
Lemb*ng. Dengan bantuan GPS akhirnya saya bisa menemukan alamat yang
diberikan Julian kepada istri saya.
Kami pun segera masuk ke dalam pekarangan rumah, ya lebih mirip rumah di
banding studio, kami pun mesti masuk sedikit ke dalam untuk menemukan
rumah tersebut, jaraknya berjauhan dari bangunan yang ada di sekitarnya,
tapi tempatnya memang luas, di sekitarnya banyak pepohonan dan Nampak
asri,cocok untuk pemotretan luar ruangan. Rumahnya pun sangat besar
meski Cuma 2 tingkat dan halamnya pun luas. Security sempat bertanya ke
saya siapa dan setelah Dewi jelaskan barulah security membuka pintu
pagar kami bisa masuk ke dalam area rumah yang ditutupi benteng tinggi
meski di sebagian area masih terbuka, tampaknya pembangunan bentengnya
belum tuntas seratus persen.
Saat sampai di depan pekarangan tampak seorang lelaki muda keluar dari
pintu rumah. Saya pun segera memarkir mobil saya di samping 2 mobil
lainya yang ada di sana. Kami pun segera keluar dari dalam mobil. Lelaki
tersebut segera menyambut kami, dia pun tampak cipika cipiki dengan
istri saya lalu menyalami tangan saya.
Wife:”Kenalin Pah ini Julian, Julian ini suami aku, mas Dendi”
Julian:”Julian Om”
Saya:”Dendi, jangan panggil Om, panggil Dendi saja”
Julian:”Wah gak enak lah, ayo masuk” ucap Julian mempersilahkan kami
masuk. Saya dan istri pun segera masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh
Julian.
Julian mempersilahkan kami duduk di sofa.
Julian:”Tak tinggal sebentar ya” ucapnya dan segera meninggalkan kami
tanpa menunggu jawaban. Aku dan Dewi pun duduk di sofa. Entah di mana
studio pemotretannya.
Tak lama muncul seorang perempuan muda, mungkin masih 20-tahunan datang
membawa baki berisi 5 gelas sirup dan beberapa makanan ringan,tampak dia
sedikit kerepotan membawa barang bawaannya, aku sedikit heran kenapa
sampai lima gelas dia bawa. Perempuan tersebut pun mempersilahkan kami
minum dan pamit kebelakang kembali.
Belum sempat kami minum tampak si Julian sudah datang kembali bersama
seorang lelaki berperawakan sedikit gemuk tapi badannya cukup tinggi
mungkin hampir sama dengan saya memakai kaos longgar dan celana jeans
selutut rambutnya cepak seperti tentara, penampilannya sedikit
serampangan, tidak terkesan rapi. Lalu ada juga seorang perempuan yang
saya taksir umurnya mungkin mendekati 30, sedikit di bawah usia Dewi.
Rambutnya di ikat kebelakang, kulitnya putih bersih, cukup langsing,
tapi dadanya cukup menonjol, kelihatan bhnya berwarna hitam karena kaos
tanpa lengan berwarna putih ke cream-creaman yg dia kenakan cukup
menerawang dan memakai celana pendek jenis jeans yang begitu pendek
memperlihatkan paha putihnya.
Mereka pun segera menghampiri kami, saya dan istri pun segera berdiri.
Julian:”Perkenalkan ini Gery, dia photographer kami, Ini Dewi dan itu Pak Dendi suaminya”
Kami pun berkenalan. Kemudian Julian memperkenalkan perempuan disebelahnya.
Julian:”Ini Utami, dia ini yang mengelola agensi kami dia juga yang mengatur konsep serta head di majalah yang kami kelola”
Saya dan istri saya pun berkenalan dengan si Utami.
Julian:”orangnya agak ceplas-ceplos jadi maklum aza jangan kaget” ucap Julian menambahkan.
Utami:”Kamu ini ian, eh Dewi kamu lagi hamil ya, dan pakai jilbab”
Julian:”Udah pada duduk dulu, biar enak bicaranya” ucap Julian.
Sepertinya Julian belum menjelaskan tentang Dewi seperti apa ke Utami.
Wife:”Ia, memang kenapa? Dewi tampak sedikit kurang senang dengan apa yang diucapkan Utami.
Julian:”Sorry, aku memang belum menjelaskan ini sama kamu Mi, tapi Dewi
siap lepas jilbabnya koq, dan kamu pasti tidak kecewa melihat dalamnya”
Utami:”What, dalamnya kamu udah tahu, pasti udah pernah kamu kentot yasi
Dewi upps, sorry pak, maaf” tampak Utami keceplosan dan dia merasa
tidak enak dengan saya.
Dewi mukanya tampak memerah, dia tampak sedikit tersinggung dengan perkataan Utami.
Julian:”Ini serius gimana menurut kamu Mi, Dewi kan bisa jadi model
untuk pakaian dalam ibu hamil, kemaren rekanan kita banyak yang nanya
kita punya gak orang untuk model pakaian dalam ibu hami, kamu ingat”
Utami:”Ia aku ingat Ian, tapi, Kak Dewi memang siap melepas jilbabnya?
Tanya Utami, kali ini dengan nada lembut dan dia memanggil istri saya
dengan sebutan Kak.
Wife:”Kalau udah ke sini pasti aku udah siap dong” ucap Dewi sedikit ketus.
Utami:”Maksud saya, ya maaf sebelumnya kan pastinya akan mengganggu imej
Kak Dewi di luar, orang-orang yang kenal Bu Dewi dengan penampilan
seperti sekarang” ucap Utami tidak meneruskan perkataanya tapi malah
mengambil gelas minuman dan lantas meminumnya.
Julian:”Oh ya, diminum saja dulu, santai kita kan” kami pun semua
mengambil gelas di hadapan kami masing-masing dan segera meneguk air di
dalamnya. Tampak si photographer Gery lebih banyak diam, tidak berani
ikut campur.
Utami:”Oh, aku terusin ya kak, biar gak ada ganjalan sama kita, karena
photo-photonya nanti akan dipublikasikan di internet, di majalah dewasa
bisa juga, kak dewi tidak Cuma melepas jilbab tapi diphoto Cuma pakai
cangcut sama kutang doang nanti, apa sudah benar-benar siap?
Wife:”Ya aku dah siap dengan segala resikonya mbak, jujur aku merasa
tertantang, walau sebelumnya aku tak pernah diphoto begitu, itupun
karena si Julian yang nawarin, kalau nggak gak ada pikiran ke sana”
Utami:”Ia, memang banyak perusahaan pakaian dalam bertanya ke kami,
mereka minta orang untuk mempromosikan produk mereka yang bagus banget
kalalu Kak Dewi mau, kak Dewi cantik, punya daya tarik seksual kuat saya
lihat, kalau soal belum terbiasa diphoto mah gampang, asal rileks saja
nanti mengalir gitu aza, gampang nanti aku ajarin gimana-gimananya” ucap
Utami, kali ini ucapanya lebih bersahabat.
Wife:”Jadi kapan bisa mulai, bisa mulai sekarang juga”
Utami:”Hempz, kita membuat perjanjian kontraknya dulu dong Kak, kakak juga gak mua kan kalau gratisan hehe”
Wife:”Ya aku sich sebenarnya gak mau terikat kontrak, apalagi aku juga sadar masih amatir malah betul-betul belum pernah”
Julian:”Gimana kalau sementara kita bayar per sesi pemotretan dan nanti
di perjanjiaanya di tambah fee kalau photonya laku ke perusahaan atau
malah muncul di majalah”
Wife:”Aku setuju gitu aza” ucap istri saya sambil melihat ke saya. Saya
hanya manggut-manggut saja, saya ikuti semua kemauan Dewi.
Utami:”Ngomong-ngomong majalah koq aku jadi punya ide tambahan Ian, pasti lebih banyak mendapatkan benefit”
Julian:”Ide gimana Mi?
Utami:”Gimana kalau awal-awal kita masukan dulu Dewi di majalah kita itung-itung perkenalan”
Julian:”Ya boleh aza, memang harusnya gitu, istimewanya apa?
Utami:”Aku belum selesai, jadi aku punya konsep gini, sebelumnya aku
sampaikan ke mas-nya(maksudnya saya) dan Kak Dewi. kami punya dua
majalah, ya biar sekarang majalah gak selaku dulu karena orang lebih
mudah dan murah mengakses internet, tapi majalah kami masih tetap eksis”
Ucap Utami berhenti sejenak dan mengambil cemilan lalu memakannya.
Utami:”Kita punya dua produk majalah, satunya majalah khusus model dan
iklan-iklan saja, yang kedua majalah dewasa, nah yang majalah dewasa ini
kontennya lebih beragam selain menampilkan photo-photo model kami juga
profil model kami, beberapa halaman untuk kesehatan seksual,
macam-macam dech yang berkaitan dengan seks yang pastinya vulgar,
namanya majalah seks, disertai photo-photo model kami, majalahnhya
dijual fisik dan bisa diakses disitus kami juga, tentunya berbayar”
Gery:”Terus konsep Teh Utami seperti apa sich” tiba-tiba si Gery ikut nimbrung.
Utami:”Jadi gini bro, Ian, Dewi dan Mas Dendi, saya punya ide baru,
gimana kalau Kak Dewi kita tampilkan ekslusif di majalah dewasa kita”
Wife:”tapi saya kan gak punya nama, malah kalian rugi nanti, apalagi saya lagi hamil”
Utami:”Justru itu specialnya, kak Dewi lagi hamil, orangnya berhijab,
jadi…” Utami tak menuruskan ucapanya tapi malah melirik Julian dan
senyum-senyum.
Julian:”jadi gimana Mi, bikin penasaran, kamu punya ide gimana”
Utami:”Kita tampilkan Dewi ekslusif malah jadi sampul majalah, tapi tampil beda”
Gery:”Beda gimana?
Utami:”Jadi untuk sampul majalah aku punya konsep nanti kita cari pose
terbaik, nanti kak Dewi kita potret masih memakai jilbab tapi lainnya
Cuma pakai cangcut dan kutang saja, terus mukanya kita pakaikan topeng,
topeng yang Cuma nutupin mata dan hidung saja, nah posenya nanti kita
cari yang paling bagus, bagusnya lagi duduk gitu, menyamping gitu Ger,
duduk di kasur bagus kayaknya sambil ngelus perutnya”
Gery tampak berpikir sejenak.
Gerry:”Ya bagus kayaknya Teh”
Utami:”Kenapa aku tutupin, pasti orang akan penasaran dengan siapa
sebenarnya kak Dewi, yang kedua kita jaga privasi kak Dewi dulu kan,
malah bagus, gimana kak Dewi?
Wife:”Hempz, aku ikut saja sich”
Gery:”Kayaknya lebih bagus masih pakai baju yang transparan teteh, tapi
bajunya dibiarkan terbuka, terus kalau kak Dewi mau, gak usah pakai
kutang, tapi payudaranya ditutup tangan, gila pasti mantap”
Utami:”Kampret, kalau yang mesum otak kamu jalan Gerry, ya aku setuju gitu”
Julian:”Gimana Wi, mau?
Wife:”Gimana Pah? Dewi malah bertanya kepada saya.
Saya:”Ya papah terserah kamu mah, malah kalau mukanya ditutupin gitu
lebih bagus, orang yang kenal mungkin sich sedikit ngira-ngira kamu tapi
gak yakin 100%”
Wife:”Ya udah, aku setuju mbak, jadi bisa diphoto sekarang?
Utami:”Hempz, tapi kayayknya gak sekarang dech, aku mau nyari dulu
pakaian yang cocok buat kak Dewi, jilbabnya, terus baju dan pakaian
dalamnya juga, sementara belum promosikan produk, tapi pasti produk
berdatangan setelahnya”
Wife:”Jadi gak hari ini” istri saya tampak sedikit kecewa.
Utami:”Hari ini bisa, gimana kita jalan dulu cari keperluan kita untuk pemotretan, biar kita pergi sama-sama?
Wife:”Ya udah, aku setuju dech”
Utami:”Kamu mau ikut gak Ian?
Julian:”Kayaknya aku gak ikut, kira-kira kapan pemotretannya?
Utami:”Paling pulang kita belanja, nanti aku kabarin, kamu mau pergi dulu”
Julian:”ada janji sama klien, tadi siang, biar aku majukan, aku juga mau lihat pemotretannya”
Utami:”Ok, aku pergi bareng kalian aza dech, Ger, kamu siap-siappin peralatannya ya, panggil anak buah kamu”
Gerry:”Ok Teteh”
Julian:”Jangan lupa mandi kau Ger” Gerry pun tertawa.
Akhirnya saya pun pergi dengan istri saya dan Utami untuk membeli
kebutuhan yang sesuai untuk sesi pemotretan, kami banyak mengobrol
selama di mobil, suasana sungguh berbeda dari sebelumnya, Utami ternyata
mudah akrab. Kita pun menjadi saling terbuka. Mulai dari hubungan Dewi
dengan Julian, walau tentu tak secara gambling diceritakan bahwa Dewi
melacurkan diri pada Julian. Dari Utami kami tahu juga Julian memang
punya banyak perempuan tapi baru Dewi yang dibawa di jadikan photo model
di agensi miliknya. Meski begitu banyak juga photo model yang dia
nikmati tapi mereka masuk tidak lewat Julian. Aku pun sempat bertanya ke
Utami.
Saya:”Terus kalau kamu pernah gak sama Julian” Tanya saya ke Utami yang duduk dibelakang.
Utami:”Maksudnya pernah ngentot? Gue gak pernah sama dia, dia sepertinya
segen sich sama gue, padahal aku juga penasaran Wi, segede apa sich
kontol si Julian hihi”
Wife:”Coba aja kamu deketin Mi”
Utami:”gak ah, gengsi gua”
Wife:”Tapi kayaknya seumuran ya sama kamu?
Utami:”Ia, seumuran, tapi gue lebih kelihatan tua dari dia sekarang, mungkin karena gue udah punya anak 2”
Wife:”Anak kamu udah dua?
Utami:”Ia, gue beukian sich haha”
Wife:”Beukian apa sich? Dia pura-pura gak paham maksud Utami.
Utami:”Masa gak paham beuki (doyan) ewean lah haha”
Wife:”Paham sich, tapi takut salah, eh terus kamu pernah gak nyeleweng kaya aku?
Utami:”pernah gua, pernah dua kali tidur sama bukan suami gua, pertama
di puncak sama itu, bos perusahaan pakaian dalam, terus di rumah tadi
sekali”
Wife:”Maksudnya sama satu orang?
Utami:”Ia, baru satu orang”
Wife:”Gak ada kepengen nyobain laig yang lain?
Utami pun tertawa.
Utami:”Ada sich Wi, hihi, kayaknya kamu udah luar biasa yang di dunia
perlendiran, apalagi dijinkan suami, kalau gua, kalau suami tahu gak
tahu dia cerain gua apa kagak”
Wife:”Ya, dikasih jatah juga suaminya biar dia diem”
Utami:”Hehe, belum pernah coba ngomong gua sama dia”
Wife:”Gimana kalau kita tukeran?
Utami:”Hah, maksudnya tukar pasangan, hempz mau sich, apalagi laki loe ganteng juga hihi”
Wife:”Yah, jangan muji, ntar belagak laki aku”
Tak sadar kami pun sudah sampai ke tempat yang dituju. Saya pun
mengantar mereka belanja. Cukup lama hamper 2 jam saya menemani istri
saya dan Utami. Mereka tampak semakin akrab, padahal baru kenal tadi
pagi dan awalnya kurang menyenangkan. Kami pun pulang sekitar jam
sebelas siang, balik lagi ke arah Lembang.
Di dalam mobil kami pun kembali mengobrol.
Utami:”Aku yakin Wi, bakal laku majalah kita bulan depan gara-gara kamu”
Wife:”Koq seyakin itu sich?
Utami:”Soalnya bakal tampil beda, pokoknya nanti kamu di photo mulai pakai baju lengkap sampai setengah telanjang hihi”
Wife:”Aku siap aza, asal diberi arahhan, aku khawatir nanti saat pemotretan malah gugup”
Utami:”Nyantai aza, kan ada aku hihi”
Sementara aku memilih diam saja, walaupun aku pun sedikit
berdebar-debar, karena nanti istriku akan tampil di bawah tatapan kamera
dengan kondisi terbuka.
Utami:”Eh nanti aku kan harus ngisi juga profil kamu Wi untuk di majalah, nanti kita buat sedikit sesi wawancara gitu ya”
Wife:”Memang seperti apa sich profil yang kamu perlukan untuk ditulis di majalah?
Utami:”Namanya majalah dewasa ya profil kamu yg menjurus ke hal dewasa gitu, semua yang berbau seks”
Wife:”Oh, terserah kamu saja dech, aku belum begitu ngerti”
Utami:”Jadi nanti aku akan memoles informasi tentang dirimu yang akan
buat orang penasaran sama kamu, tentu juga memancing berbagai produk
untuk memakai kamu sebagai model, tapi mungkin agak terbatas karena kamu
lagi hamil, palingan baju hamil atau pakaian dalam untuk ibu hamil”
Wife:”Ya kamu atur saja Mi” ucap istri saya.
Saya pun akhirnya penasaran juga, membuat saya bertanya kepada Utami.
Saya:”Jadi profil seperti gimana sich yang nanti rencananya akan ditampilkan atau diperlukan mbak?
Utami:”Panggil utami saja mas, biar akrab,”
Saya:”Ok, agak belum nyaman aku”
Utami:”Jadi nanti aku akan cari judul yang pas buat cover depan, masih
kupikirkan, terus nanti di halaman dalamnya mengupas tentang istri kamu,
dari mulai profil umum sampai profil khusus ya kita atur-aturlah, biar
disukai pembaca laki-laki”
Saya dan Dewi pun saling berpandangan, belum sepenuhnya paham.
Utami:” jadi lebih jelasnya gini, profil umum ya, mengenai nama, kita
sedikit samarkan, gak usah nama lengkap, cukup Dewi saja, gimana setuju?
Wife:”Ia, terserah kamu saja, yang memang jagonya dibidangnya”
Utami:”Terus kita kasih kolom khusus, profil umum, misalkan, nama Dewi,
terus tanggal lahir, atau tahun lahir, gak perlu lengkap, kita kasih
tahunnya saja dulu, terus pekerjaan ibu rumah tangga kita kasih tambahan
merintis dunia model, terus hobi apa memasak, jalan-jalan, yang umum
dulu”
Wife:”Ia ngerti”
Utami:”Nah, terus ke hal yang lebih pribadi, misal ukuran celana dalam
dan bh, ini bagian penting yang akan jadi perhaian pembaca dewasa”
Wife:”Ia, kamu atur saja, nanti aku kasih tahu semuanya”
Utami:”Nah itu kan info umum, terus kita masuk ke halaman bacaan, nanti
aku harus menuliskan sejak kapan kamu mulai tertarik dunia modeling dan
kenapa, tenang bisa dikarang-karang juga Wi”
Wife:”Itu saja Mi?
Utami:”ya nggak lah, kalau Cuma begituan, mana ada yang mau baca, justru
di sini bagian pentingnya, ini majalah dewasa, sisi yang harus aku gali
dari diri kamu yang hal-hal yang berbau seks, nanti aku akan tuliskan,
atau bisa juga seperti kita Tanya jawab aza yang lebih bagus kayaknya
Wi”
Wife:”Ia, gimana baiknya aza Mi, aku sich ok saja”
Utami:”Siip, jadi nanti aku bakal menayakan misalkan kamu berapa kali
dalam seminggu melakukan hubungan seks, posisi seperti apa yang paling
disukai, ukuran, kamu suka yang besar apa besar, pasti besar dong hihi”
Wife:”Udah pasti itu”
Utami:”Pokonya bakal aku poles sedemekian rupa sesia wawancara yang
dituangkan kepenulisannya. Nanti aku tanyakan fantasi seks seperti apa
yang kamu hayalkan, pokoknya aku bakal nanya banyak seputar seks lah Wi,
kalau kamu punya suatu pengalaman tentang seks bisa diberikan ke aku
juga biar ceritanya makin bisa didramatisir dech”
Wife:”Ya, ok saja aku”
Utami:”Dari tadi uk ok saja hehe”
Wife:”Hehe, maklum amatiran”
Akhirnya kami pun sampai kembali di rumah atau studio milik si Julian.
Aku baru menyadari di depan gerbang memmang ada tulisan menerangkan
tempat ini merupakan sebuah agensi modeling.
Kami pun kembali masuk ke dalam rumah, aku bertugas membawa belanjaan si Utami yang nanti akan dipakai istri saya.
Utami pun mengajak saya masuk lebih ke dalam, kami pun masuk ke sebuah
ruangan yang sangt luas, tanpa beberapa perangkat pemotretan sudah siap,
tapi ternyata hanya lewat saja kita masuk menuju ruangan lainnya,
sepertinya ruang make up. Saya pun diminta menaruh barang bawaan di
sana. Saya dan istri pun duduk di sana, di sebuah sofa besar yang
tersedia, banyak kaca-kaca besar di sekliling kami. Tampak Utami keluar
dari ruangan menuju ruangan lainya melalui conneting door.
Tak lama Utami kembali bersama seorang perempuan muda, badanya tidak
tinggi paling di bawah 160 cm, tapi benar-benar semok, Cuma memakai rok
mini kain jenis span warna putih dan memakai kaos tanpa lengan seperti
Utami, pahanya mulus dan gempal kuning terlihat menggoda.
Utami:”ini kenalin namanya Friska, dia yang akan makeup kamu Wi, dia sudah aku breefing tadi”
Friska:”Friska kak, om”
Friska pun memperkenalkan diri sama saya dan istri.
Utami:”Aku tinggal ke sebelah dulu, aku mau ngecek kesiapan Gerry ya, mas Dendi mau di sini atau ikut saya?
Saya:”Di sini saja dulu”
Utami:”Ok, Wi ayo siap-siap, Fris dandanin yang cantik”
Friska:”Siap teh” ucap Friska, sepertinya dia sudah professional.
Friska pun meminta istri saya pindah ke depan sebuah kaca yang berukuran
besar lengkap dengan meja riasnya. Istri saya pun segera menuruti
instruksi dari Friska. Saya sedikit berdebar-debar. Saya saksikan Friska
meminta istri saya mengganti bajunya. Istri saya pun mulai menanggalkan
baju yang dia kenakan dan termasuk bh dan celana dalamnya digantinya
semua dengan pakaian yang baru dibeli tadi.
Istri saya kini sudah mengenakan pakaiannya. Kini dia memakai hijab
warna ungu motif bunga-bunga yang modis diatur sedemekian rupa oleh
Friska. Istri saya juga memakai baju putih lengan panjang yang lebar
sampai paha yang semi transparan sehingga bhnya yang berwarna merah
dapat terlihat dari luar. Firska memakaikan sebuah baju jubah warna
merah marun kepada Dewi, sedang bawahannya Dewi memakai rok panjang
warna hitam dari bahan kain yang sangat halus yang tadi dibeli si Utami
dan harganya cukup lumayan.
Istri saya kemudian duduk dan Friska mulai merias wajah istri saya. Saya
sekrang lebih tetari pada pantat montok si Friska, di mana bentuk
segitiganya tercetak dengan cukup jelas. Saya pun memperhatikan lebih
seksama, sekilas bayangan warna biru terlihat. Cukup lama istri saya
didandani, tampak make upnya sekarang terlihat sedkit lebih tebal.
Alisnya terlihat begitu tebal, bibirnya terlihat begitu merah. Sementara
Friska tampak menuju tempat telpon dan melakukan panggilan dengan
posisi menghadap ke saya sambil mengangkang. Otomatis kesempatan itu
saya manfaatkan untuk mengintip selangkanganya, benar saja celana dalam
warna biru terlihat. Friska tampak melihat ke saya dan menyadari saya
sedang melihat ke aranhya tapi dia tidak membenahi posis duduknya hanya
senyum sebentar kepada saya. Sepertinya Friska menelpon Utami dan
memberi tahu sudah selesai mendandani istri saya.
Tak lama Utami pun datang dan mengajak saya serta Dewi menuju ruangan studio pemotretan.
Kami pun sudah sampai di sana, tampak sudah ada Gerry dan satu laki-laki
lainya yang aku baru melihatnya, mungkin assistant Gerry, Nampak juga
Julian sedang duduk di atas sofa seberang kami, saya pun segera menuju
ke sana dan duduk disampingnya.
Utami:”Kak Dewi, sementara kita ambil beberapa shoot di ruangan ini ya, nanti kita akan pindah ke ruangan lainya”
Tampak Gerry dan Utami memberi arahan ke istri saya untuk mendekati
tembok, lampu sudah di arahkan ke istri saya begitu juga kamera, Gerry
sudah bersiap dan Utami berdiri di sampingnya, Utami lalu mengambil
sebuah topeng kecil berbentuk seperti kupu-kupu dan memakaikan ke wajah
istri saya.
Utami:”Wi, photo biasa saja dulu ya, rileks saja posenya bebas terserah
kamu suka ya, ambil beberapa shoot Gerry nanti kita pilih yang bagus”
Istri saya pun mulai berpose dengan berdiri menyamping, perutnya tampak
cukup besar menonjol. Istri saya menaruh satu kakiknya di depan dan satu
di belakang. Satu tangan dibelakang pingganya berkacak pinggang, satu
lurus di depan pahanhya.
Utami:”Bagus, begitu Wi, matanya menghadap ke sini”
Gerry:”Tahan kak”click..click.. Gery mengambil beberapa photo, kemudian
istri saya berpose lagi, kali ini kedua tanganya melingkar depan
perutnya, kali ini Utami memberi instruksi langsung. Saya dan Julian
sama-sama diam memperhatikan Dewi. Akhirnya beberapa kali gambar istri
saya diambil. Kemudian istri saya disuruh membelakangi kamera, pantat
besarnhya cukup terekpos karena Utami senganja meminta istri saya
menarik jubahnya ke atas perut, celana dalamnya tercetak jelas dikain
hitam berbahan lembut yang dikenakanya. Ku lihat Julian mulai
mengelus-elus selakngannya, saya menjadi sedikit panas.
Gerry pun mengambil beberapa gambar kembali. Tampaknya sesi ini sudah selesai Utami memberi intruksi break.
Utami:”Istirahat dulu Wi, break 15 menit, biar kak Dewi gak capek, dia
lagi hamil, kamar sudah siap, kita nanti ambil photo di kamar ya kak
Dewi, di atas kasur” ucapnya.
Istri saya hanya mengangguk lalu berjalan menuju saya dan Julian. Kami kompak bergeser dan Dewi duduk di tengah-tengah kami.
Saya:”Gimana Mah?
Wife:”Lumayan gugup aku Pah, hehe”
Julian:”Tapi kamu bagus banget Wi” ucap Julian memuji istri saya.
Wife:”Bisa aja kamu, aku gugup banget sich awalnya, agak gemeteran juga, tapi lama-lama terbiasa”
Saya berinisiatif mengambilkan minum dari dispenser buat istri saya.
Wife:”Makasih Pah” ucapnya lalu meminum air mineral yang saya berikan. Tak lama Utami datang menghampiri kami.
Utami:”Kita pindah ke kamar ya, yang di pojokan, ikutin aku ya kak” ucap Utami kepada Dewi.
Kami pun segera berdiri dan mengikuti Utami, kami berjalan cukup jauh di
lorong dan masuk ke dalam sebuah kamar, posisinya agak dipojokan dekat
ke kolam renang tapi kamarnya sangat besar, sepertinya khusus memang
bisa digunakan untuk pemotretan. Di sana sudah tersedia dua buah kamera
dan lengkap dengan lampu, bukan di bawa dari tempat sebelumnya, jadi
memang sudah tersedia di sana. Saya dan Julian duduk di sebuah kursi
masing-masing, yang lain berdiri.
Utami mulai memberi intruksi.
Utami:”kak Dewi naik keranjang, pose duduk saja dulu” Dewi pun naik dan
duduk santai di atas ranjang. Click..cklek… Gerry pun mulai mengambil
beberapa gambar Dewi.
Utami:”Di lepas za kak jubahnya” ucapnya lalu menuju istri saya. Dewi
pun melepas jubahnya dan memberikan kepada Utami. Utami lalu berjalan ke
arah kami dan menaruh jubah yang dipakai istri saya tadi di meja kecil.
Kini istri saya hanya memakai baju lengan panjang yang mirip kemeja dari
bahan yang sangat halus dan cukup tipis, bh warna merahnya jelas
terlihat, tampak tidak hanya Julian, Gerry dan temanya cukup melotot
melihatnya.
Utami:”Tetap duduk kak, di buka sedikit kemejanya dua tiga kancing dan
biarkan perut kakak kelihatan” ucapnya kepada istri saya, kadang panggil
nama kadang kakak.
Istri saya pun membuka tiga kancing kemejanya dan menggeser baju tipisnya tersebut, perut istri saya pun dibiarkan terbuka.
Utami:”Bagus Kak, tahan, tumpang kaki kak,ya gitu” Utami memberi
instruksi agar Dewi menumpangkan satu kaki di kaki lainya. Gerry pun
mulai mengambil beberapa gambar. Istri tampak menggairahkan, memakai
jibab tapi bajunya tipis dan bahkan perut hamilnya dibiarkan terekpos.
Utami:”Good, keep it”
Gerry pun kembali mengambil beberapa gambar, kemudian Utami meminta
istri saya ganti posisi, duduk selonjoran di kasur, perutnya dibiarkan
terbuka, Gerry pun kembali mengambil beberapa gambar.
Utami:”Ganti posisi lagi Kak, gimana bagusnya Ger?
Gerry:”Kalau menurut aku buat sampul sudah dapat, posisi sekarang yang
selonjoran, tinggal sedikit editing untuk menambahkan suasana lebih
ceria teh, gimana setuju gak?
Utami:”Hempz nanti kita liat lagi, nanti juga ada meeting untuk putuskan ini, tapi pada dasarnya aku setuju juga”
Gerry:”Ok dech kalau gitu”
Utami:”Ngadep kamera Wi, posisinya pertahankan sama dengan sekarang”
Dewi pun menuruiti arahan Utami hanya sedikit memutar dengan posisi yang
sama menghadap ke kamera. Gerry pun mulai mempotret lagi.
Utami:”Aku mau yang lebih bagus, Kak, kembali ke posisi semula, menyamping lagi dong”
Dewi pun mengikuti arahan dari Utami.
Utami:”Sekarang lepas kutangnya mau gak? Utami meminta dewi untuk melepas bhnya.
Wife:”Ok, gak masalah” jawab Dewi dengan enteng.
Utami pun menghampiri istri saya dan membantu Dewi melepas bhnya. Saat
melepas bhnya ketiak istri saya sedikit terangkat, masih tampak
bulu-bulunya meskipun sudah rapi.
Utami pun membawa bh istri saya dan memberikannya ke Julian. Julian pun
sempat melirik saya tapi saya pura-pura cuek, Julian pun menghirup bh
istri saya membuat saya kembali sedikit panas dingin.
Utami kembali memberi arahan, istri saya tepa dengan posisi semula
menyamping dari kamera tangannya disamping semuanya. Kali ini semua
kancing baju Dewi terbuka, tapi kemejanya masih menutupinya, hanya
bagian tengah yang terlihat seperti belahan dadanya, tampak Gerry dan
assistanya pun semakin semangat. Beberapa jepretan pun dilakukan.
Utami:”Stop, break lagi 10 menitan, biar kak Dewi istirahat sejenak,
good job kak” sambil mengacungkan jempolnya. Dewi pun membenahi
pakainnya tapi tidak mengkancingnya. Dia pun berjalan ke arah saya dan
Julian.Mata semua lelaki tertuju ke dada Dewi, meski tertutup baju
samar-samar puting susu Dewi dan tentu susunya bisa kami lihat.
Setelah sampai Julian langsung menyodorkan bhnya Dewi.
Julian:”Dewi, kutang kamu” Dewi pun mengambilnya dari Julian sambil melihat saya sejenak yang sedang cemberut.
Utami:”Di pakai lagi aza kutangnya kak, kita nanti pindah ke kolam
renang, tenang aza, gak panas, teduh koq” ucapnya sambil berjalan keluar
mengikuti Gerry dan assistanya.
Dewi pun melihat ke saya, dia tetap tidak enak sama saya mau memakai lagi bhnya.
Saya:”Sini papah bantu pakaikan lagi kutang kamu mah” ucap saya sambil berdiri dan memberi isyarat ke istri agar dia duduk.
Dewi pun duduk di kursi tempat saya di bawah tatapan mata Julian.
Saya pun meminta Dewi melepas bajunya. Istri saya pun membuka bajunya
tanpa ragu, saya pun memakaikan bh kembali ke badan istri saya.
Setelah selesai istri saya kembali memakai bajunya.
Julian:”Ayo kita kolam, biar cepat selesai” ucap Julian kepada saya dan
Dewi. Saya dan Dewi pun mengikuti Julian keluar dari rumah dan menuju
kolam, tampak Gerry dan assistanya masih bersiap-siap, belum Nampak
Utami di sana.
Julian:”Mana si Utami Ger?
Gerry:”lagi modol dulu katanya bos”
Julian:”dasar lu, ya cepetan, kasihan Bu Dewi kalau kelamaan” ucap
Julian sambil mengajak kami menuju sebuah kursi panjang terbuat dari
besi. Kami semua pun segera saja duduk di sana.
Tak lama Utami pun muncul dan langsung menghampiri kami.
Utami:”Lanjut lagi Kak, capek gak?
Wife:”Gak, lanjut aza, tapi aku lupa jubah aku masih di dalam kamar” ucap Dewi sambil berdiri
Utami:”Gpp, gak usah pakai, ayo ikut saya kak” Utami pun mengajak Dewi
mengikutinya. Dewi pun berjalan di belakang Utami menuju pinggiran kolam
renang.
Utami:”Di sini saja ya kak, ini photonya sudah mulai hot, siap ya, pose bebas saja dulu” intruksi dari Utami kepada istri saya.
Dewi pun mulai berpose dan Gerry pun melakukan beberapa jepretan.
Utami:”Kak, ini belum untuk promoin produk, tapi untuk majalah internal
kita, jadi gpp kalau posenya nanti sedikit hot? Ucap Utami sedikit
berteriak karena ada disebrang yang berbeda dengan Dewi. Saya dan Julian
pun memelih mendekat kolam untuk melihat lebih jelas, kami berdiri di
samping Utami.
Dewi tidak menjawab hanya mengacungkan jempolnya saja.
Utami pun berjalan menuju ke tempat Dewi kami pun mengikui karena pengen melihat lebih dekat.
Utami:”Kak, sekarang di lepas bajunya ya” perintah Utami. Dewi pun
segera melepas baju atasannya. Dewi kini hanya mengenakan jilbab dan
wajah memakai topeng yang menutup mata dan hidung serta bhdengan perut
membuncit dan hanya bagian bawah yang masih lengkap.
Tentu pemandangan ini semakin membuat para lelaki senang, tapi mungkin
juga mereka usdha terbisa jadi tidak terpengaruh, saya tidak tahu.
Utami:”Kak, berdiri tegak, ya gitu, trus kedua tangannya terbuka
memegang belakang kepala, aku suka liat ketiak kakak yang ada bulunya,
ya bagus, ini yang bikin beda, Ger, malah bengong ayo”
Gerry pun kemudian mengambil beberapa gambar istri saya dalam pose
tersebut. Istri say berdiri dengan kedua tangan memegang kepalanya,
ketiaknya yang berbulu hitam Nampak sedikit basah, entah dia lupa
mencukurnya atau sengaja, tapi seperti kata Utami, beda, sungguh beda,
bikin horny bagi lelaki.
Utami:”Good job kak, ganti posisi kak, berdiri biasa tangan di pinggang,
ia kayak gitu, stop dulu ger, maen jepret aza” Utami sedikit kesal
dengan Gerry yang maen jeprat-jepret aza, sebenarnya saya sedikit heran,
biasanya sang photographer sekaligus mengarahkan, tapi ini lebih banyak
di bawah komando Utami. Utami kemudian melanjutkan instruksinya.
Utami:”Kak, sebelah pinggiran roknya turunin dikit aza, biar karet
cangcut kakak kelihatan ia gitu bagus, pose hot, agar miring dikit badan
kakak, ayo sekarang jepret Ger”
Gerry pun mengambil beberapa photo lagi, aksi Dewi memang hot, apalagi
perut buncitnya bikin aneh gimana gitu dan kepalanya masih memakai
jilbab.
Utami:Ya bagus Kak, sekarang turunin dikit rok yang sebelah kiri juga
kak biar pinggiran cangcut kakak sekarang kelihatan semua” intruksi dari
Utami. Istri saya pun dengan susah payah menurunkan sedikit rok sebelah
kirinya sehingga serang lingkaran karet celana dalamnya yang berwarna
merah terlihat semua dari depan, bikin pemandangan eksotis. Gerry pun
mengambil kembali beberapa jepretan.
Utami:”Kak sekarang masih posisi sama tapi putar membelakangi kamera, ya
gitu, roknya tarik ke bawah dikit lagi biar cangcut merah kakak
kelihatan lebih jelas, ya gitu” Dewi pun menarik roknya lebih ke bawah
dengan susah payah. Kini celana dalamnya lebih terlihat lagi dari
belakang, bokongnya yang makin besar sejak hamil pun menjadi santapan
mata kami.
Utami:”Sedikit nunggging kak, biar pantatnya makin terlihat montok, ya gitu”
Gerry kembali mengambil beberapa gambar.
Utami:”Gimana udah pada laper, kita break dulu?
Wife:”Lanjut aza ya, masih banyak kah, biar cepat selesai” tampaknya Dewi pengen cepat selesai.
Utami:”Dikit lagi kog, ya udah kita lanjut”
Utami:”Ris, ambilkan kursi kayunya ke sini” Utami memberi intruksi ke
assistant si Gerry yang dipanggil Ris untuk memondahkan kursi kayu dari
jati ke tempat Dewi. Assistantnya Gerry pun segera memindahkan kursi
tersebut.
Utami:”Ini bagian yang lebih hot ya, yang bakal disukai para lelaki”
Utami kini mendekati Dewi.
Utami:”Dilepas aza roknya kak, sudah siapkan, ini bagaian utamanya”
Dewi tidak menjawab tapi segela melepas rok ketatnya. Kini istri saya
tinggal mengenakan jilbab dan pakaian dalam saja, keduanya berwarna
merah, dan sepertinya sengaja dipilihkan yang tipis.
Utami:’Siap-siap lagi, Kak berdi biasa saja, agak jauh dari kursi, ya
gitu, sekarang miring, ambil Ger, kursinya jangan kelihatan dulu” Gerry
pun mengambil beberapa gambar lagi.
Utami:”Kak, jilbabnya disampirkan lagi biar gak nutup dadanya. Aris kamu ambil beberapa pot Bungan taru di samping kursi cepat”
Aris pun menurti perintah dari Utami.
Utami:”Kak duduk dikursi ya, posisi biasa saja dulu, ia gitu, sekarang
tarik kakinya hingga agak ngangkang, terlalu ngangkang, rapatin dikit ia
gitu” Posisi Dewi kini semakin hot, dengan duduk mengangkang, memeknya
pun terekpos dan begitu gemuk, karena cdnya tipis, terlihat samar-samar
bulu memeknya di balik cd yang dia kenakan.
Utami:”Mantap, jarang-jarang dapat begini, pasti laris hehe” ucapnya ngomong sendiri.
Gerry pun mengambil lebih banyak photo lagi.
Utami:”Kak, bisa gak naik ke kursi trus jongkok, tapi kalau gak bisa
jangan dipaksa” Utami meminta Dewi naik di kursi dan jongkok.
Wife:”Aku coba ya Mi, kayaknya bisa, tapi paling bentar” ucap istri saya dan segera naik ke kursi lalu jongkok dan ngangkang”
Utami:”Ia ngangkang gitu Kak biar memeknya kakak kelihatan, tahan bentar
kak, cepat ambil gambarnya yang banyak Ger, kasihan kak Dewi”
Gerry pun segera mengambil gambar istri saya.
Utami:”ger, ambil lebih dekat, focus ke bagian memeknya Kak Dewi “ Ucap Utami vulgar. Si Gerry pun semakin mendekat saja.
Utami:”Close up di bagian depan cangcutnya kak Dewi Ger”
Utami:”Ya bagus, cukup” Ucap Utami lagi sambil mengacungkan jempolnya.
Ku lihat si Julian dan si Aris sampai memegang selangkangannya.
Utami:”Mantap, kebetulan kita free hari ini gak ada pemotretan model lainnya jadi bisa focus ke Dewi”.
Utami:”Ya sudah kak, duduk seperti biasa saja dulu, rileks” ucap Utami.
Istri saya pun tampak sedikit kelelahan dan duduk bersender di kursi.
Tampak Utami mengambilkan minuman untuk Dewi yang memang sudah disiapkan
sebelumnya. Istri saya pun istirahat dan minum terlebih dahulu.
Saya dan Julian masih berdiri berdampingan tanpa sedikitpun bicara. Kami memang masih canggung.
Utami:”sesi terakhir kak, gpp kan disiram air”
Wife:”Ia, Mi, gimana kamu saja”
Utami tampak mengambil gayung yang sudah tersedia dan menyirap badan
istri saya, jilbanya menjadi basah dan samar-samar rambut Dewi terlihat,
begitu juga pakaian dalamnya jadi basah, puting susu dewi dan bulu
memeknya pun menjadi samar-samar terlihat.
Utami:”Ini sessi terakhir kak” Utami kembali menjauh dari istri saya.
Berdiri lagi kak, agak menjauh dari kursi, posenya bebas suka –suka
kakak saja”
Dewi pun melakukan beberapa pose dalam kondisi basah, sungguh merangsang
karena tentu nyeplak benar, aku lirik Julian tampak menelan ludahnya
beberapa kali dan Gerry pun segera mengambil gambarnya.
Utami:”jongkok lagi ya kak, dekat kolam, bentar aza, sambil ngangkang,
Ger jepret, focus ke bagian depan cangcut kak Dewi, biar memeknya jelas,
itu samar-samar udah kelihatan”
Gerry:”Siap teteh”
Gerry pun mengambil beberapa gamar lagi
Akhirnya Utami memberi kode bahwa sudah selesai.
Julian:”Good Job Dewi” ucapnya dan segera menghampiri istri saya dan
tampak berbisik-bisik dengan istri saya, entah apa yang diomongin lalu
si Julian pergi. Utami pun mengajak saya dan istri masuk kembali ke
ruang make up. Saya pun mengikuti dari belakang.
Utami:”Bajunya jadi gak kecoba semua Wi, gpp buat kapan-kapan lagi ya,
aku mau nyuruh kamu ganti baju kasihan pasti lama dan kamu capek”
Wife:”Padahal gpp sich Mi, makanya aku juga heran tadi beli banyak tapi koq gak di pakai”
Utami:”gpp, ini juga udah ok banget, aku yakin laris, tinggal finishing saja”
Kami pun masuk ke ruang make up.
Utami:”Kalau mau mandi dulu Wi”
Wife:”Gak usah dech”
Utami:”Aku panggilkan friska dulu ya, biar make up kamu lagi” ucap Utami.
Wife:”Ok Mi” ucap istri saya dan duduk di depan meja rias.
Utami pun segera meninggalkan kami. Saya pun mengambil kursi kecil dan duduk di samping istri saya.
Saya:”Gimana mah capek?
Belum sempat istri saya menjawab, Friska sudah datang sambil membawa
handuk. Dia pun segera meminta istri saya berdiri dan mengelap tubuhnya.
Friska:”Kak, ganti bajunya saja dulu, nanti saya make up” ucapnya. Dewi
pun memakai baju yang sebelumnya di pakai kami saat datang ke sini.
Setelah selesai Friska pun mulai memberi make up buat Dewi lagi. Saya
pun memilih menjauh dan duduk di sofa. Lumayan lah bisa melihat pantat
Friska. Cukup lama saya menunggu dan memelototi pantat Friska, sampai si
Utami datang dan langsung duduk di samping saya.
Utami:”Gimana gede ya mas boolnya si Friska” tentu saja saya jadi malu
dan wajah saya pasti memerah karena ketangkep basah lagi ngintipin
pantat Friska.
Friska dan Dewi spontan melihat saya juga.
Wife:”Papah nich gak dimana-mana matanya pasti belanja”
Utami:”Biasa aza Wi, namanya juga lelaki, lagian kamu sexy amat Fris, sampai nyeplak gitu, cangcut biru kamu menerawang lho”
Friska:”Hehe, gpp, kasih pemandangan gratis” ucap si Friska enteng dan kembali focus make up istri saya.
Utami:”Masih lama Fris, kita mau makan siang ini”
Friska:”Paling bentar lagi teh”
Utami:”Udah, liatin lagi aza mas, pakai nunduk malu-malu gitu” ucap Utami sambil menepuk paha saya.
Saya pun menjadi gelagapan, Dewi dan Friska sempat menoleh kepada saya
sebentar. Tapi mereka kembali menatap kaca. Saya pun cuek kini di depan
Utami kembali memelototin pantat Friska..
Utami:”Gede ya mas, biar pendek si Friska punya pantat gede”
Saya:”Ia mbak, jadi pengen ngeremes hehe” ucap saya pelan.
Utami:”Hihi, ngaceng gak kontol kamu? Ucapnya juga pelan dan tangannya tiba-tiba memegang selangkan saya.
Utami:”Wuih, keras mas hehe” tapi segera dia menarik tangannya kembali, padahal baru saja terasa nikmat.
Saya:”Koq ditarik lagi?
Utami:”malu lah kalau ketahuan sama mereka”
Saya:”Kalau gak ketahuan?
Utami:”Hihi udah ah, aku tunggu di meja makan ya, cari aza tempatnya
atau minta tunjukin Friska nanti” ucap Utami sambil berdiri.
Plaaak… tangan saya menampar pantat Utami saat dia hendak berjalan,
sontak utami kaget dan Dewi serta Friska menoleh kepada kami.
Utami:”aaawwww, ih nakal laki loe, maen tepok pantat gue”
Dewi langsung memelototin saya. Sementara Friska malah ketawa ketiwi. Utami pun kemudian tersenyum kepada saya dan Dewi.
Utami:”Aku tinggal dulu ya Wi, aku tunggu di meja makan”
Wife:”Ia Mi” ucap istri saya singkat. Utami pun pergi meninggalkan kami.
Wife:”Papah, jangan kelihatan kali nafsunya atuh” ucap istri saya. Saya hanya cengengesan.
Friska:”Ayo Kak, biar cepat selesai” mereka pun berbalik dan kini melihat ke kaca rias kembali.
Akhirnya mereka pun selesai.
Friska:”mari kak, mas saya antar ke ruang makan” ucapnya. Saya pun
segera menigkuti Friska berjalan di samping istri saya. Istri saya
sempat mencubit perut saya karena saya terus menatap pantat Friska.
Kami pun sampai di meja makan, Cuma ada Utami yang terlihat sedang menelpon.
Friska:”Saya tinggal ya kak”
Wife:”Gak makan bareng sekalian?
Friska:”Sudah kak tadi, sekrang saya mau pulang ke rumah, saya duluan ya kak, teteh aku pulang ya”
Utami yang masih menelpon tampak mengacungkan jempolnya. Friska pun segera meninggalkan ruangan ini.
Saya dan istri saya duduk bersebelahan. Utami tampak menutup telponnya.
Wife:”Mana Mi, si Juliansama Gerry dan siapa satunya lagi?
Utami:”Aris, mereka sudah makan duluan, sudah pada kelapaeran, si Julian
juga udah makan, tadi Juian titip pesan, nanti Kak Dewi di tunggu di
kamarnya”
Saya terkejut mendengarnya.
Wife:”Oh, Ok, kita makan saja dulu, udah laper nich” ucap istri saya dengan tenangnya. Saya sempat menatap istri saya sebentar.
Utami:”Ia kita makan saja dulu, barusan aku telpon anak-anak, aku bilang bakal pulang telat” ucapnya.
Kami pun mulai menyantap makanan. Saya menjadi kurang berselera dan
panas mendengar dari Utami, Julian menunggu istri saya di kamar. Ini di
luar perjanjian.
Istri saya tampak menyadari keadaan saya sekarang.
Wife:”Papah koq kayak gak selera makannya, mau mamah suapin?
Saya:”Gak, biasa saja koq”
Wife:”Ya udah makan yang banyak ya, atau mau Utami yang nyuapin?
Utami:”Mau aku suapin kah mas hihi”
Saya tidak menjawab hanya terkekeh saja.
Wife:”Koq malah ketawa, mau beneran ini mah” ucap istri saya menggoda
saya. Utami pun tiba-tiba pindah ke samping saya. Sepertinya saya mau
dikerjain atau mereka sudah janjian mau kerjasama, saya merasa ada yang
janggal.
Utami:”Sini aku suapin mas” tiba-tiba mengambil sendok saya dan betul-betul menyuapin saya.
Wife:”Makan yang banyak ya Pah” ucapnya sambil tersenyum dan mengedipkan mata ke Utami.
Ya sudahlah aku pun kini makan sambil disuapin Utami.
Utami:”Sekarang udah lahap makanya Wi, hihihi” ucap Utami kepada Dewi.
Istri saya pun tersenyum.
Wife:”Berarti dia memang pengen kamu suapin, eh kamu dah bilang kan ke misua dan anak-anak kamu bakalan pulang telat?
Utami:”Sudah santai aza, plan kita bakal lancer” Plan apa saya jadi heran pasti ada sesuatu.
Saya:”Plan apa sich?
Utami:”Ada dech, ayo maem lagi” ucapnya sambil menyuapin saya lagi. Saya
mengikuti saja tanpa berkomentar lagi, tapi hati saya koq jadi dag-dig
dug.
Utami bahkan kini tangan kirinya melingkari pundak saya dan badanya kini merapat nempel kepada saya.
Saya mendengar napas Utami terasa seperti sedikit berat.Saya melirik
leher jenjangnya yang memakai kalung berlian serta kulitnya kuning
mulus, rasanya pengen saya mencupangin lehernya.
Saya pun kini nekad tangan kanan saya melingkari pinggang Utami. Saya
yakin sekali ada sesuatu, jadi saya pede saja setengah memeluk Utami,
istri saya pun tampak cuek saja.
Sambil menyuapin saya Utami pun menyantap makanannya sendiri, bahkan
kursinya dirapatkan ke saya dan badannya setengah bersender kepada saya.
Saya mulai berpikir apakah ini permainan Dewi, apakah saya bisa
menikmati Utami. Tangan saya kini semakin berani menegelus bokongnya
Utami.
Utami:”Suamimu mulai nakal ini Wi, bokong aku dielus-elus, pakai
dinaikin kaos aku, mau ngintip cangcut aku ya mas? Ucap Utami membuat
saya hamper tersedak. Sementara Dewi tenang-tenang saja malah ketawa
tapi di tahan.
Wife:”Syukurlah Mi, jadi aku bisa anteng sama Julian” mendengar jawaban
tersebut saya seperti disambar gledek, berarti ini memang rencana Dewi,
aku dijebaknya.
Sementara Utami menarik kaosnya lagi ke bawah menutupi cd kuningnya yang terlihat di punggungya, tadi sempat saya naikan.
Utami:”Nakal kamu ya mas, tak jewer nanti kontolnya” ucapnya tanpa
tedeng aling-aling. Ini positif sepertinya Utami dijadikan Dewi sebagai
barter agar dia bisa bersama Julian. Ok lah, cukup setimpal.
Wife:”Haha, nitip ya sayang, kontol suami aku” ucap Dewi kepada Utami
yang diiringi tawa mereka berdua. Saya pun pura-pura cemberut.
Wife:”Koq cemberut Pah? Kita seneng-seneng koq habis ini yak an Mi?
Utami:”Ia, apa kamu gak suka sama aku mas? Aku dah bilang ke suami aku
bakal telat pulang” Ucap Utami sambil mengedipkan matanya sama Dewi.
Suranya terdengar berat.
Saya:”Su..suka koq”
Istri saya tampak sudah selesai makan. Kemudian berdiri dan mencuci tangannya di westafel.
Saya:”Aku makan sendiri dech biar cepet” ucapku sama Utami.
Utami:”Hihi, ia, dewi udah selesai kita belum” ucapnya dan kembali ke
tempat semula. Kami belum ada yang bicara lagi tapi cepat-cepat
menyelesaikan makan kami.
Akhirnya saya dan Utami pun selesai makan. Setelah mencuci tangan kami pun duduk kembali di meja makan.
Utami:” Gimana menurut kamu mas penampilan istrimu waktu di photo tadi?
Saya:”Ok sich menurut saya…”
Utami:”Ok doang, gak bikin horny?
Wife:”Gimana Pah?
Saya:”Ya bikin horny lah, apalagi pas di photo ngangkang”
Utami:”Ya itu Mas, pasti majalah kita laku bulan ini, pasti laki-laki lain juga pada suka”
Saya:”Ia, apalagi kamu kasih celana dalam yang tipis buat istriku, gak dibasahin juga udah membayang, apalagi pas dibasahin”
Wife:”Ia Mi, malu aku, kelihatan ya baok heunceut aku?
Utami:”Haha, ia pasti Wi, kelihatan membayang seperti kata suamimu, aku
pun gak tau baok memek kamu lebat juga ya, aku kira orang seperti kamu
suka memeknya tanpa bulu?
Wife:”Suami aku yang suka bulu heunceut aku lebat Mi”
Utami:”Oh ya, ketek kamu juga ternyata ada bulunya, tapi mantap, lain
dari pada yang lain, aku jadi sudah punya judulnya buat majalah,
Naturally beautiful woman, Karunia Dewi hihi seorang ibu rumah tangga
yang mencoba terjun di dunia model, bagus gak?
Wife:”Hehe aku terserah kamu saja Mi”
Utami:”Nanti habis kamu main sama Julian, jangan dulu pulang, kita
selesaikan untuk profil kamu di majalah ya, soalnya kalau ke tunda
besok, padat banyak jadwal pemotretan”
Wife:”Ok mi, Pah, tadi Julian sms mamah, ngajak mamah ngentot, gpp kan?
Saya yang sudah menduganya tidak lagi kaget.
Saya:”Terus papah disuruh nunggu, bengong?
Wife:”Kan ada Utami?
Saya pun melihat kepada Utami. Utami pura-pura membuang muka.
Utami:”Udah sana, kelamaan nanti si Julian nungguin kamu” ucapnya kepada Dewi.
Istri saya pun segera berdiri untuk meningggalkan kami.
Wife:”Pah aku tinggal dulu ya, Papah nanti ditemenin Utami, Mi nitip
suami aku yang jangan sampai lecet kontolnya hihi” ucap Dewi sambil
cekikikan dan sempat-sempatnya meremas selangkangan saya.
Utami:”Ya udah sana, paling yang lecet memek aku hihi”
Saya:”Ya udah sana” ucap saya plok… sambil menampar pantat istriku.
Wife:”Awwww, mentang-mentang ada Utami aku diusir” ucapnya sambil berjalan meninggalkan saya.
Sepeninggal istri saya, saya pun menatap Utami yang kini duduk di kursi
dengan kedua telapak kakinya di atas kursi sambil ngangkang dan mainin
hp.
Saya:”Kalian sudah atur ini ya?
Utami:”Ia, waktu kamu nunggu di luar butik dan kami belanja istri kamu
bilang kemungkinan si Julian bakal ngajak dia ngentot jadi dia minta aku
tuk nemenin kamu”
Saya:”Oooh, nemenin gimana?
Utami:”Kamu maunya ditemenin gimana? Ucapnya sambil menatap saya.
Saya:”Temenin di kamar juga, kita gak boleh kalah sama mereka”
Utami:”Ok, ayo ikut aku” ucap Utami sambil berdiri dan menuntun saya
berjalan masuk ke ruang tengah, di sana saya bertemu dengan Gerry yang
sedang duduk sendiri di sofa sambil makan dan nonton tv.
Utami:”Kunci kamar ini mana? Sambil nunjuk sebuah kamar yang tepat ada di sebelah lemari tv.
Gerry:”Ada teh tuch dilaci disamping tv, memang mau ngapain?
Utami:”Shuuush”sambil menempelkan jari di depan mulutnya.
Utami:”Mau gua pake lah sama mas Dendi”
Gerry:’Edan ya elo teh, awas jangan berisik ya” ucap si Gerry santai.
Utami pun membuka laci dan mencari-cari kunci. Setelah ketemu dia pun menarik saya dan membuka pintu kamar.
Utami:’ayo mas” kami pun masuk ke dalam kamar. Utami pun segera mengunci pintu kamar.
PART 78 POV Wife Pagi itu aku duduk sendiri di teras rumah. Hatiku tengah galau berat. Hanum sedang pergi mengantar Intan ke sekolah dan Anis bersama Bu Heti sedang berbelanja ke super market untuk kebutuhan sehari-hari dan Revan ikut dengan mereka. Sore atau malam nanti suamiku akan pulang ke rumah, aku khawatir tidak bisa menahan amarah sehingga semua rencanaku akan gagal. Aku sedang memikirkan bagaimana aku bersikap kepada suamiku dan menahan emosi agar semua rencanaku berjalan semestinya dan aku dapat mengetahui apa suamiku menyeleng atau tidak dibelakangku, yang pasti dia sudah berbohong namun aku belum tahu alasannya. Saat sedang melamun aku mendengar pintu pagar digedor-gedor dari luar. Saya pun kaget dan segera berdiri untuk mencari tahu. Ternyata ada seseorang memukul-mukul pagar menggunakan tongkat kayu. Orangnya kurus dan tingginya mungkin hampir sama dengan saya dan kelalanya plontos. Memakai kaus lengan pendek warna putih dan celana jeans. Tanga...
Komentar
Posting Komentar