PART 52
POV SUAMI
Saya:”Kenapa kamu seperti menghawatirkan sesuatu, katanya kamu tidak takut apapun, malah sudah pernah bunuh orang”
Donatus:”Gak bos” ucapnya tapi masih celingak-celinguk.
Saya:”Kamu nanti minta tukang untuk buatkan kursi kayu buat di depan pos
kamu, jadi kalau ada tamu ngobrol gampang, gak kayak gini”
Donatus:”oh, siap bos gampang itu, kalau sudah ada perintah dari bos”
Saya:”Kamu ada informasi apa, cepat cerita sama saya”
Donatus menarik nafas panjang, sepertinya agak berat dia untuk menyampaikan.
Donatus:”Jadi gini bos, dua hari kemaren saya…” lagi-lagi dia berhenti dan membuat saya kesal.
Saya:”Apaan?jangan buat saya kesal, cepetan saya malah jadi gak tenang dan juga penasaran”
Donatus:”Jadi gini bos” ucapnya sekarang lebih tegas terdengar.
Donatus:”Waktu hari Jumat, hp saya kan ketinggalan di sini, lupa saya bawa, di dalam laci meja”
Saya:”Itu doang?
Donatus:”Bukan itu bos, itu awalnya saja, jadi siangnya saya balik lagi
ke sini mau ambil hp saya” ucap Donatus dan berhenti sejenak dan kembali
menarik nafas.
Saya:”Teruskan…”
Donatus:”Nah, waktu saya ke sini, saya melihat ada pembantu bos yang
semok dan masih muda seperti menengok-nengok jendela di sana dan sangat
mencurigakan” ucap Donatus lagi-lagi berhenti.
Saya:”Ok, terus ada apa?
Donatus:”Saya pun kemudian mendekati pavilion, tapi pembantu boss si
Anis itu malah cepet-cepet pergi, gak tau apa dia melihat saya, tapi
kemudian saya dengar suara cewek merintih-rintih dari dalam”
Saya pun menjadi semakin penasaran.
Donatus:” jadi saya pun kaget dan saya berjalan mengendap-ngendap bos,
setelah dekat pintu suara semakin jelas, perempuan lagi merintih, tapi
saya tak bisa lihat ke dalam karena pintu ditutup juga gordennya. Saya
pun memutar ke samping, kebetulan ada kaca jendela samping satunya
terbuka, ya tempat si Anis semok itu ngintip-ngintip tadi, saya pun
mengintip dari sana”
Saya:”Ok, terus bagaimana? Tanya saya sambil jantung saya mulai dag-dig-dug.
Donatus:”Sebelumnya maaf bos, saya lihat istri bos lagi disetubuhi,
istri bos terlentang, satu orang sedang ngewe istri bos, terus ada dua
orang kontolnya lagi dipegang istri bos, satu orang kontolnya dalam
mulut istri bos, digangbang lah kalau namanya dan saya lihat masih ada
juga beberapa orang telanjang menunggu” ucap Donatus pelan.
Saya pun seperti disambar geledek.
Saya:”Kamu ada bukti, kamu rekam”
Donatus:”Saya rekam bos, tapi saya gak tahu dengan jelas, apa istri bos
diperkosa sama mereka atau gimana, tapi menurut saya sich diperkosa,
tapi istri bos maaf ya?
Saya:”katakan saja semuannya gak usah ditutup-tutupin”
Donatus:”Saya gak terlalu yakin, apa istri bos merintih kesakitan atau
karena nikmat, tapi..tapi bos lihat sendiri rekamannya, tadinya saya mau
menghentikan bos, tapi saya takut Bu Dewi malu, jadi saya biarkan, saya
pun awalnya ragu mau kasih tahu bos, tapi pas bos ke sini ya saya
bilang” ucap Donatus
Saya:”Ok, kamu kirim dulu videonya ke ponsel saya”
Donatus pun mengirimkan video tsb ke ponsel saya, durasinya lumayan lama. Saya melihat-lihat sekilas saja.
Donatus:”Gimana bos, apa perlu saya seret mereka semua kemari?
Saya:”memang kamu berani, kamu sendiri dan mereka banyak?
Donatus:”Kalau bos mau saya bisa saja menghabisi mereka satu persatu”
Saya:”Nanti saya pikirkan gimana cara membalas mereka, sementara biarkan dulu, awasi saja jangan sampai mereka macam-macam lagi”
Donatus:”siap kalau keinginan bos begitu, saya pulang dulu sebentar nanti balik lagi”
Saya:”Ok, nanti cepat balik lagi” ucap saya.
Saya pun pergi meninggalkan Donatus. Saya masih bertanya-tanya apa Dewi
sengaja melakukan ini atau memang para tukang murni memperkosanya,
setahu saya Dewi kurang suka terhadap orang yang penampilannya
asal-asalan, tidak rapi, kucel dan dekil seperti para tukang, saya pun
menjadi mumet. Saya pun duduk di ruang tamu. Tak lama saya dengar sebuah
sepeda motor memasuki pekarangan kami.
Ternyata si Jaka sudah datang, dia membawa motor saya saat saya belum
memiliki mobil yang biasa dipakai istri saya yang memang saya pinjamkan
ke si Jaka.
Si Jaka pun segera mengetuk pintu.
Saya:”masuk saja Jak, gak dikunci”
Si Jaka pun segera masuk dan menyalami saya.
Saya:”Kamu ke belakang saja, tante sama ibu kamu ada di sana” ucap saya
menyuruh si Jaka pergi. Si Jaka pun segera meninggalkan saya. Saya harus
memuji si jaka mempunyai badan yang cukup kekar, beda dengan saya yang
sekarang sudah buncit.
Saya pun senderan ke sofa sambil memikirkan balasan seperti apa yang
akan saya berikan kepada para tukang yang sudah berani memperkosa istri
saya.
Video sebagai bukti sudah di tangan saya bisa saya gunakan untuk mengancam mereka.
Tiba-tiba timbul sebuah ide, saya pun segera mengambil ponsel dan menelepon Donatus.
Tak lama Donatus pun menjawab panggilan dari saya.
Donatus:”ia bos”
Saya:”Sudah di mana posisi?
Donatus:”Saya baru keluar, baru mau masuk jalan raya”
Saya pun memilih keluar dari rumah takut ada yang denger.
Saya:”Saya mungkin pulang hari selasa sore, rabu pagi kamu panggil Sony
security karaoke Heni dan satu lagi siapa yang gantiin kamu jadi
security di karaoke?
Donatus:”Pangkur bos”
Saya:”Ia, ajak dia juga ke sini, nanti kita intrograsi tukangnya satu-satu, saya sudah punya rencana ”
Donatus:”Siap bos”
Saya pun menutup panggilan ke Donatus.
Tiba-tiba saya mendengar suara istri saya.
Wife:”Habis telpon siapa pah?
Saya:”Eh, bikin kaget sajaa, habis telpon Donatus, papah bilang biar dia segera ke sini”
Wife:”Oh, kirain ada apa, kami sudah siap semua pah, kita sarapan dulu yuk, udah dimasakin, dari pada makan di luar”
Saya:”Ok mah” saya lihat Dewi sudah rapi memakai jilbab warna putih dan
baju gamis panjang warna cokelat kopi dan ada talinya di bagian
pinggang.
Istri saya pun segera masuk ke dalam rumah. Gaun gamis tersebut cukup
tipis tampak celana dalam dewi begitu nyeplak di pantatnya, tapi karena
warna gaunnya cokelat cukup susah menebak warna cdnya.
Saya:”mamah cantik banget” ucap saya, memang istri saya terlihat begitu cantik.
Wife:”Ia kan mau jalan-jalan, malu diliat orang kalau tampil asal-asalan”
Saya:”Apa perlu aku tanyakan sekarang sama Dewi apa nanti saja” aku
bicara sendiri di dalam hati mengenai hasil temuan Donatus. Kami pun
sudah sampai di depan meja makan dan semua orang sudah berkumpul di
sana.
Saya pun segera di duduk di kursi yang masih kosong di sebelah Intan,
istri saya pun segera duduk di samping saya. Ku Lihat Anis seperti istri
saya memakai jilbab warna putih dan gaun gamis warna merah marun,
sementara Hanum memakai jilbab warna hitam kaos yang mirip sweater
lengan panjang warna belang putih dan abu-abu dan sepertinya rok panjang
hitam. Hanum pun tampak merias wajahnya, make upnya cukup tebal. Hanum
duduk di apit ibunya dan Bu Heti, sedang Jaka di sebelah bu heti.
Istri saya segera memangku Revan untuk menyuapinya makan. Kami pun tanpa
banyak bicara segera menyantap sarapan yang sudah tersedia.
Setelah makan istri saya pun memberi beberapa intruksi ke Bu Heti.
Wife:”Bu, biar ibu gak repot, selama 3 hari minggu, sampai selasa, saya
sudah pesan catering untuk makan para tukang, nanti bakal diantar, ibu
Cuma harus bersih-bersih rumah saja, nanti ada Pak Donatus juga yang
akan bantu awasin pekerja.
Heti:”ia neng”
Setelah itu saya pun pergi dulu untuk mengambil sejumlah uang untuk Anis
yang sudah dijanjikan tadi malam, karena di atm pengambilan di batasi
terpaksa saya mengambil uang menggunakan beberapa kartu milik saya dan
istri saya. Saya pun segera kembali dan memberikan uang kepada Anis.
Anis pun segera menitipkan uang tersebut kepada Bu Heti. Setelah itu
kami pun pamit dan segera membawa barang bawaan kami menuju mobil.
Saya dan Jaka segera memasukan tas-tas dan makanan, makanan ringan, tikar, kamera dll ke dalam bagasi mobil.
Saya:”Jak, kamu duduk di kursi belakang, Hanum dan ibunya sama Intan di
tengah. Saya sudah minta kan izin kamu tidak masuk kerja 2 hari ke bos
kamu”
Jaka:”ia Om”
Kami semua segera masuk ke dalam mobil Fortun*r istri saya.
Saya pun sudah duduk di depan kemudi di samping istri saya yang memangku Revan.
Kudengar Jaka beberapa kali mengobrol dan bercanda dengan Hanum, mungkin
dia belum tahu bahwa temennya Hanum bakal saya perawanin.
Saya:”Mah, gimana, ke mana dulu kita?
Wife:”mumpung masih pagi kita ke situ patenggang dulu Pah, baru balik
terus check in ke hotel D’riam, kan di atas jam 12 apa jam 2 kita check
in” ucap istri saya.
Saya:”Jam 2, Ok mah, gak ada yang mau di beli dulu di jalan?
Istri saya pun menanyakan kepada yang lain dan ternyata tidak ada yang
akan di beli. Saya pun segera melaju untuk menuju situ Patenggang. Lebih
kurang 2 jam kami pun sampai di situ patenggang. Setelah memarkir mobil
kami pun segera berjalan beriringan. Anis membantu dengan menggendong
Revan. Sementara Jaka berjalan berdampingan dengan Hanum dan nampak
akrab. Sementara Dewi berjalan di samping saya sambil menuntun Intan
yang nampak begitu senang walau sudah pernah datang ke tempat ini.
Wife:”Seger suasannya pah, beda banget”
Saya:”ia, adem lagi, kebetulan agak mendung dikit jadi gak panas, betul-betul adem”
Wife:”Pah, tuch, Hanum sama Jaka, jangan cemburu ya”
Saya:”Haha, biar saja, kan yang petik bunganya tetep papah hihi” ucap
saya berbisik kepada Dewi, saya pun sampai terlupa mengenai informasi
dari Donatus tadi pagi, sudah tidak terpikirkan.
Wife:”Mamah godain mereka ya Pah” ucap istri saya juga sambil berbisik
agar tidak terdengar oleh Anis yang berjalan di sampingnya.
Wife:”Jak, digandeng atuh Hanumnya hihi”
Jaka pun menoleh dan tersenyum begitu juga Hanum menoleh ke istri saya dan wajahnya sedikit memerah.
Kami pun berhenti di depan sebuah tugu yang terdapat tulisan mengenai
situ patenggang, sejarah singkat situ patenggan tentang dua sejoli yang
saling mencari, ki Santang dan Dewi Rengganis.
Wife:”Kalian sudah pernah kemari? Tanya istri saya ke Anis, Jaka dan Hanum.
Anis:”Kalau saya dan Hanum baru kali ini neng, walau sudah tau dari dulu, enak ya, udaranya segera banget”
Jaka:”Saya sudah pernah sekali ke sini dulu waktu kelas 3 sma acara sekolahan, kebetulan Hanum lagi sakit jadi dia tidak ikut”
Anis:”Oh ia, Hanum sakit waktu ada acara sekolah kunjungan ke sini”
Wife:”Oh, gimana sejuk banget kan, dingin lagi”
Anis:”ia neng dingin banget, jadi bikin ngantuk”
Wife:”Hihi ia dingin, enak buat ngentot hihi” ucap istri saya vulgar.
Anis:”Hihi, ia neng, udara gini bisa banyak anak kita kalau tinggal di sini, tiap hari bawaannya hoyong(mau) ewean mulu”
Anis menimpali dengan tak kalah vulgar.
Saya”Udah yuk, jalan lagi sambil nyari tempat buat gelar tikar” ucap saya.
Kami pun segera berjalan kembali menuju ke arah danau di mana banyak
pepohonan, selain teduh pemandangan danau pun akan memanjakan mata.
Pemandangan Pulau Asmara di tengah Danau menjadi pemadangan yang sangat
indah di mata. Kami pun segera menghampar tikar. Intan dan Revan segera
berlarian diikuti Jaka dan Hanum yang menjaga mereka.
Wife:”Agggh, jadi ngantuk, Pah nanti kita naik ke kapal phinisinya ya, tapi gak usah makan di sana”
Saya:”Ok, kita istirahat di sini dulu sambil liat danau, mana buka makanannya udah laper”
Istri saya dan Anis pun membongkar bekal yang kami bawa.
Wife:”Nanti kak, kita berlayar juga yuk, mengelilingi batu cinta, katanya cinta kita bakal abadi kalau ke situ hihi”
Anis:”Saya ikut saja neng, cinta neng saja yang abadi, saya gak ada pasangan hahaha, kalau bisa gak abadi”
Wife:”Kana da suami saya hihi”
Anis:”Bisa saja si neng” sementara saya asyik menyantap makanan sambil
menikmati suasana sejuk di sekitar danau, tampak kabut sedikit turun.
Saya:”Panggil anak-anak mah, suruh makan dulu, biar kita segera naik ke kapal pinisi”
Istri saya pun melambaikan tangannya kepada Hanum dan Jaka memberi tahu untuk mendekat.
Jaka dan Hanum pun segera mendatangi kami.
Wife:”Ayo, makan siang dulu, nanti kita ke kapal pinisi terus kita naik
perahu keliling batu cinta dan pulau asmara dan setelah itu kita check
in ke hotel” ucap istri saya.
Kami semua pun segera makan bekal yg kami bawa. Selesai makan kami pun mengemasi barang kami.
Wife:”Photo-photo dulu ya, kita photo semua orang dulu, pah bisa minta tolong orang untuk photokan” ucap istri saya.
Saya:”Ok, mau photo di mana?
Wife:”Kita ke pinggir danau saja, cari tempat yang agak sepi, nah di
sebelah sana” ucap Dewi menunjuk ke area yang sepi pengunjung. Kami pun
berjalan lebih kurang 50 meteran ke pinggir danau ke tempat yang tak
begitu ramai orang.
Saya pun meminta bantuan sama seorang yang menyewakan tikar dan gazebo
untuk memphoto kami. Kami pun segera berphoto bersama beberapa kali
menggunakan kamera khusus yang memang kami bawa. Setelai selesai saya
pun memberikan sedikit uang kepada orang tersebut.
Saya:”terus sekarang kita langsung naik ke kapal phinisi?
Wife:”Masih photo-photo”
Saya:”Yah, orangnya sudah pergi, sudah papah kasih uang juga”
Wife:”Kita-kita saja yang photo, gantian, tadi kan photonya rame-rame” ucap Dewi
Saya:”Oh, ok, ayo kalau gitu, siapa dulu mau di photo?
Wife:”Kita saja dulu pah, sama anak-anak, Jaka tolong photokan ya”
Jaka:”Ia tan” ucap Jaka antusias.
Saya dan istri pun segera berphoto berempat bersama anak-anak, awalnya
kami berphoto di tepi danau , kemudian di atas batu-batu di sekitarnya.
Setelah kami kemudian Hanum berphoto bersama ibunya dan si Jaka pun
berphoto sendiri . Semua diberi kesempatan.
Saya:”sudah pada puas belum, biar kita ke kapal phinisi?
Wife:”Belum dong, sekarang berphoto yang lebih penting” sambil mengedipkan matanya sama saya.
Saya:”Photo apa lagi, biar kita ganti tempatnya mah, masa di sini-sini juga?
Wife:”udah ikutin saja pah” ucap istri saya berbisik pelan, entah apa yang dia rencanakan.
Wife:”Jaka, kamu photo berdua sama Hanum, biar tante photoin”
Jaka:”ia tan, ayo Han” ucap Jaka tampak antusias, sementara Hanum terlihat biasa saja.
Istri saya pun mulai memphoto mereka, baru satu jepretan Intan dan Revan pun nimbrung, terpaksa mereka ikut di photo juga.
Wife:”Revan dan Intan udah dulu ya diphotonya, tuh ikut tante Anis sama
papah dulu” ucap Dewi membujuk mereka. Saya pun membujuk Intan dan Revan
untuk duduk di atas tikar yang sudah saya gelar kembali.
Wife:”Ayo photo berdua lagi, yang mesra dong, biar bagus, Jaka gandeng
tangannya Hanum” ucap istri saya. Jaka pun menggandeng Hanum sementara
Hanum tampak malu-malu dan beberapa kali melihat ke saya.
Istri saya pun kemudian menjepret beberapa kali.
Wife:”Ya sudah, bagus, kayak orang pacaran hihi” ucapnya.
Wife:”Pah, kak Anis sini,biar Jaka dan Hanum jagain anak-anak” ucap Dewi.
Saya dan Anis pun berdiri menghampiri Dewi.
Wife:”Kalian berdua sekarang yang diphoto ya, biar aku yang photoin” ucap Dewi.
Saya dan Anis pun saling pandang, sedikit bingung.
Wife:”Ayo kak, kakak kan gak bawa suami, jadi saya pinjemin dulu suami
saya, photo berdua, masa kalah sama yang muda” ucap Dewi sambil menoleh
kepada Hanum dan Jaka yang lagi duduk berdampingan di dekat Intan dan
Revan yang juga anteng.
Saya pun menurut saja saya berdiri berdampingan dengan Anis.
Wife:”Pah, peluk pinggangnya kak Anis, masa kalah sama Hanum dan Jaka,
kalian harusnya lebih hot” ucapnya sambil memonyongkan bibirnya.
Saya pun mengikuti permainan Dewi, segera saya rangkul pinggangnya Anis
dari samping. Anis tampak malu-malu dan menoleh kepada Hanum dan Jaka
yang duduk di dekat kami sekitar 10 meteran beberapa kali.
Wife:”Siap-siap aku photo ya…” clik..clik istri saya pun mempotret kami beberapa kali.
Wife:”Ayo Pah, buat yang lebih hot, harus lebih bagus dari Jaka dan
Hanum” ucap istri saya sambil tampak memperhatikan sekitar kita.
Wife:”Orang-orang juga pada asyik sendiri-sendiri koq, gak ada yang memperhatikan kita” ucapnya lagi.
Akhirnya saya putuskan untuk memeluk Anis dari belakang, tangan saya
lingkarkan di perutnya. Otomatis selangkangan saya pun menempel di
pantatnya Anis. Saya tidak dapat melihat jelas gimana ekpresi wajah
Anis. Hanya saya lihat Jaka cukup terkejut saya memeluk ibu temennya
seperti ini. Sementara Hanum tampak biasa saja karena dia sudah tahu hal
lebih dari seperti ini sudah terjadi sebelumnya.
Wife:”Bagus, tahan ya, sambil senyum dong kak, jangan tegang” ucapnya
dan clik..clik istri saya pun memphoto kami beberapa kali. Kontol saya
pun mulai menegang di pantatnya Anis. Anis pun sudah pasti dapat
merasakannya.
Kemudian saya memegang kedua susunya Anis dari belakang dan saya
remas-remas. Saya pun menoleh ke Jaka dan Hanum. Tampak Jaka kembali
terkejut dan terlihat dia berbisik-bisik kepada Hanum. Sementara Dewi
mengacungkan jempolnya dan segera memphoto kami.
Anis:”Pak, udah saya risih” ucap Anis. Saya pun melepaskan tangan saya dan mundur.
Wife:”Ok, good, sudah selesai, selanjutnya Hanum dengan kamu Pah” ucap Dewi.
Sementara itu plaaaak…tangan saya pun menampar bokongnya Anis.
Anis:”Aaaw, Pak Dendi” sambil menoleh ke saya tapi tidak menunjukan reaksi marah lebih kepada malu karena ada Jaka di sana.
Jaka saya lihat hanya bengong melihat saya menampar pantat ibu temennya
dan mungkin dia juga mupeng, sementara Hanum hanya tersenyum saja. Hanum
pun segera berdiri mendekati saya. Masih terlihat sedikit malu-malu,
hanya sempat menatap saya sebentar kemudian menundukan kepalanya lagi.
Wife:”Ayo, sekarang giliran kalian”
Saya pun langsung menarik Hanum dan saya peluk dari belakang, Hanum
lebih pendek ternyata dibanding ibunya, padahal sekilas seperti lebih
tinggi, mungkin karena badanya yang langsing.
Hanum:”awww” dia sedikit kaget karena saya tarik dan saya peluk. Tangan
saya segera saya lingkarkan di pinggang Hanum, Saya pun sedikit menunduk
agar selangkangan saya pas dengan bokongnya Hanum.
Wife:”Good, bagus Pah, senyum Hanum, tahan posisinya” jepret, Dewi pun segera memphoto kami.
Jaka yang sekarang duduk di sebelah Anis tampak mupeng melihat saya
memeluk temennya si Hanum dari belakang dan selangkangan saya menempel
di pantatnya Hanum.
Wife:”Han, kontolnya Om keras gak? Tanya istri saya sangat vulgar dan pasti terdengar oleh Jaka.
Hanum:”Ia tan”
Wife:”Dah gak sabar si papah” ucap istri saya sambil mengedipkan matanya.
Saya pun mengerti dan melakukan hal yang sama kepada Hanum seperti yang
saya lakukan kepada Anis. Saya peluk dan tangan saya memegang dadanya
hanum. Seperti tadi saya juga memegang dadanya Anis dan dada anaknya
sambil saya remas. Saya pun menoleh kepada si jaka yang nampak bengong,
mupeng tak percaya.
Hanum:”aaagh, Om malu” ucapnya pelan
Saya:”Udah pernah ada lelaki yang remes nenen kamu gak? Saya tidak menanggapi ucapan hanum malah bertanya kepada dia.
Sementara istri saya sudah mengambil gambar kami beberapa kali.
Hanum:”Belum pernah om” Mantap berarti saya memang orang pertama. Meski susunya hanum tidak besar tapi sangat padat.
Kemudian saya memindahkan tangan saya yang kiri meraba memeknya Hanum dari balik rok yang dipakainya.
Hanum:”Ah om jangan” rintihnya pelan.
Wife:”Hah, kamu pegang memeknya Hanum pah? Ucap istri saya dengan suara keras.
Saya hanya cengengesan. Istri saya pun mengambil gambar saya yang sedang memegang memeknya Hanum.
Wife:”Udah, nanti kebablasan, nich pegang kamera” ucap Dewi menghampiri
saya dan sambil menyodorkan kamera. Saya pun segera melepaskan pelukan
saya kepada Hanum dan plaaak..
Hanum:”aaaw” sambil menoleh dan memegangi pantatnya. Sama seperti yang
saya lakukan kepada ibunya, saya tampar pantat Hanum tapi dengan lebih
keras. Dari dekat saya dapat melihat ternyata rok Hanum cukup ketat
juga, celana dalamnya mencetak pantat bulatnya dan samar-samar seperti
berwarna putih atau cream pokoknya bukan warna gelap, sedikit menerawang
dari rok hitamnya yang tipis dan ketat.
Kulihat Jaka semakin mupeng saja, teriakan Hanum juga sempat membuat
beberapa orang menoleh kepada kami tapi hanya sebentar, paling
dipikirnya tidak ada apa-apa, mungkin lagi pada bercanda dipikir
orang-orang.
Wife:”Suka banget sich namparin pantat orang” ucap istri saya sambil
memberikan kamera yang dari tadi belum saya terima. Saya pun segera
menerima kamera dari tangan istri saya.
Sementara Hanum segera duduk disebelah ibunya, Hanum memilih tidak duduk di dekat Jaka, sepertinya dia sedikit malu.
Saya:”Hehe, pantat semok-semok kan enaknya ditabokin hehe” ucap saya.
Wife:”Awas aku bales ya” ucapnya genit. Aku belum paham maksud istri saya. Kemudian Dewi pun memanggil Jaka.
Wife:”Jak, sini, kamu belum photo sama saya berdua” ucap istri saya.
POV WIFE
Jaka pun segera menghampiri saya. Saya lihat wajah suami saya sedikit berubah.
Saya:”Pah, gentian, masa kamu aza yang enak-enak” ucap saya pelan kepada suami saya.
Suami:”Ia, nyantai aza” ucapnya sedikit di luar dugaan saya, berlawanana dengan ekpresi di wajahnya.
Jaka pun masih terlihat kaku, dia berdiri di samping saya. Sementara ku
lihat Hanum yang lagi asyik bercanda dengan Intan sesekali melihat
kepada saya. Sementara Anis yang duduk sambil memangku revan dari tadi
seperti tidak berkedip melihat kepada saya. Dia mungkin penasaran saya
akan berphoto seperti apa dengan Jaka.
Saya:”Jangan kaku kayak gitu, kita gak boleh kalah sama Hanum dan suami
saya, kamu di belakang saya, sini tangan kamu peluk perut saya” ucap
saya kepada Jaka dengan suara cukup keras agar didengar oleh Dendi suami
saya.
Jaka pun segera berdiri di belakang saya, kalau begini sepertinya tinggi saya dengan si Jaka hampir samaan.
Saya pun segera menarik kedua tangan si Jaka dan saya taruh di perut saya yang sedang hamil lima bulan.
Click..click..suami saya pun segera memotret saya dengan Jaka.
Saya:”Papah, maen jepret aza belum siap nich” ucap saya protes kepada my husband.
Suami:”Kirain udah siap mah, hehe” Dendi pun tertawa cengengesan.
Ekpresinya sedikit biasa, apa dia sudah mulai terbiasa melihat saya
bersama lelaki lain.
Saya:”Jaka, rapatin badan kamu” saya pun menarik Jaka agar lebih rapat. Jaka pun merapatkan badannya.
Kini selangkangan si Jaka menempel tepat di bokong saya. Saya pun
merasakan sedikit gerakan kontol Jaka, sepertinya mulai membesar.
Saya:”Ayo pah, sekarang photoin” suami saya mulai mempotret kami lagi. Mukanya sekarang terlihat memerah.
Suami saya pun segera mengambil photo kami. Saya pun menunggingkan
pantat saya dan sedikit saya gesek-gesek ke selangkangan si Jaka.
Saya dengar nafas si Jaka mulai tak beraturan.
Saya:”Pindahin tangan kamu ke tetek tante, sama kayak suami tante tadi
waktu ngeremes nenenya si Hanum” ucap saya berbisik ke si Jaka. Dengan
cepat si Jaka pun memindahkan tangannya dan memegang dada saya.
Suami saya pun kembali memotret kami lagi.
Suami:”wah, kamu memang bales dendam mah” ucapnya sambil jongkok dan memotret kami dari bawah.
Saya pun kemudian membalikan badan saya menjadi berhadapan dengan Jaka,
perut saya pun mengganjal menghalangi badan kami, saya pun terpaksa
sedikit memiringkan badan saya.
Saya:”saya buat pose yang lebih hot pah, buat kamu hihi” ucap saya dalam hati.
Saya:”Jak, tangan kamu pegangan di pantat saya” ucap saya berbisik
kepada Jaka sambil menarik tangannya lalu saya taruh di pantat saya.
Saya:”Sambil remas pantat tante, tarik ujung cangcutnya tante dikit” si
jaka pun menuruti permintaan saya, tangannya sedikit menarik kain
cangcut saya berikut gaun saya.
Saya:”Jepret lagi Pah”
Sambil kepala saya menyamping melihat ke suami saya.
Wajah suami saya terlihat makin memerah, apalagi kulitnya putih, jauh lebih putih dari saya.
Dia tampak terangsang juga, saya lihat celananya sedikit menggembung.
Suami saya pun segera memotret kami lagi beberapa kali.
Saya:”udah, siip Pah hihi” ucap saya sambil mendorong Jaka agar menjauh.
Suami saya pun datang menghampiri saya dan Jaka.
Saya:”Ngaceng pah, kanjutnya si Jaka tadi, ngegesek-gesek pantat mamah
hihi” ucap saya tanpa malu, membuat si Jaka seketika mukanya merah
padam dan tentu saja gelap karena kulitnya sedikit hitam.
Jaka tampak sangat malu, dia pun menunduk dan pura-pura melihat ketempat
lain. Tidak mau melihat saya, suami saya ataupun Anis dan Hanum.
Suami:”Ya sudah, ayo kita naik ke kapal phinisi, udah makin siang nich”
Kami pun segera menghampiri Anis dan Hanum.
Saya:”Revan bobo kah kak? Saya lihat Revan memang tertidur di pangkuan Anis.
Anis:”Ia neng, biar saya yang gendong, kita kan agak jauh jalannya, kasihan neng lagi hamil”
Saya:”Ia kak, makasih”
Kami pun segera membereskan bawaan kami termasuk tikar, kami pun segera berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Kami pun berjalan menuju jembatan gantung. Suami saya pun memangku Intan karena sedikit ketakutan.
Kami pun berjalan melewati jembatan gantung dan akhirnya sampai di kapal
Pinisi dan langsung ke lantai 4. Pemandangan dari atas begitu indah.
Kami pun kemudian photo-photo, tapi tidak melakukan photo yang aneh-aneh
karena di sana banyak orang. Setelah photo-photo kami pun meninggalkan
kapal phisi tersebut. Kami kemudian menyewa 2 buah perahu untuk
berkeliling sebentar mengelilingi pulau asmara. Kami sempat juga
berphoto-photo di batu cinta. Lagi-lagi tak aneh-aneh karena ada si
abang yang mengemudikan perahu.
Setelah kembali ke darat kami pun memutuskan meninggalkan situ
patenggang. Saya membeli beberapa oleh-oleh untuk Donatus dan Bu Heti
terlebih dahulu, tentu yang awet karena kami masih akan berlibur lebih
kurang 2 hari. Setelah itu kami pun segera kembali ke dalam mobil.
Suami:”Kalian lapar gak, kita nyari tempat makan saja dulu, udah jam satu siang ternyata, atau mampir di kebun Teh”
Saya:”Tapi Revan tidur pah, Intan juga kayaknya ngantuk, langsung saja, nanti kita beli di hotel saja” ucap saya.
Suami:”Ya udah kalau gitu” suami saya pun mulai menghidupkan mobil dan kami segera keluar dari kawasan wisata situ patenggang.
Kini saya duduk sendiri di depan menemani suami saya, sementara Revan di pangku Anis di jok tengah.
Saya:”Pah, mana kamera tadi, mamah mau lihat photo-photonya” ucap saya kepada Dendi suami saya.
Suami:”Di belakang mah, minta ambilkan sama Jaka”
Saya:”Jak, ambilkan kamera dong, tante mau lihat photo-photo tadi”
Jaka pun kemudian memberikan kamera kepada Hanum dan Hanum memberikan kepada saya.
Saya:”Han, Intan tidur ya? Saya lihat Intan bersender dan memejamkan matanya.
Hanum:”Ia tante, kecapean paling”
Saya pun menerima kamera dari tangan Hanum. Saya pun mulai membuka
kamera dan melihat hasil photo-photo kami tadi dari layar berukuran 4.5
inch di kamera suami saya.
Saya:”Pah, tahu gak, tadi si jaka nakal, waktu di photo mamah yang membelakangi kamera itu”
Suami:”Nakal gimana mah?
Saya:”Waktu dia pegang bokong mamah, dia narik-narik ujung cangcutnya
mamah, nakal banget kan” ucap Saya, padahal saya yang nyuruh. Sengaja
saya ingin membakar gairah suami saya. Saya pun menoleh ke belakang,
kepada si Jaka, kulihat muka lagi-lagi memerah, pasti dia malu banget
dan gak enak dengan suami saya.
Suami:”Wah enak banget dong dia, udah remas-remas pantat kamu mah, pakai
narik-narik cd kamu segala” ucap Suami saya santai, tapi tanganya
tampak mengelus-elus selangkangannya.
Suami saya pun menoleh kepada saya dan saya pun segera tersenyum kepada dia.
Saya:”Liha pah, photonya yang ini, lihat lebih deket, nich mamah zoom”
ucap saya sambil menyodorkan kamera kepada suami saya. Dia pun melihat
ke kamera sambil sesekali melihat ke depan karena sedang menyetir.
Saya:”Tuch lihat tangannya, nakal banget kan, kelihatan narik cangcutnya
mamah” ucap saya lagi. Memang saat di zoom lebih terlihat saat tangan
Jaka menarik cangcut saya dari balik baju gamis saya.
Suami:”Ia enak banget dia” ucap suami saya, suaranya sedkit bergetar. Tiba-tiba Anis ikut berkomentar.
Anis:”Nakal banget kamu Jak, narik-narik cangcutnya tante Dewi aku
bilangin mamah kamu nanti hihi,gak sekalian aza diperosotin cangcutnya
tante dewi hihi, biar dia gak usah pakai cangcut hahahaha” ucap Anis
tapi tak ada nada seperti marah malah terakhirnya ketawa cekikikan.
Jaka:”Aku disuruh koq”
Hanum:”Di suruh siapa? sama setan, dasar mesum ucap Hanum pun ikut berbicara.
Saya pun menoleh ke belakang sambil senyum-senyum.
Jaka:”Hehe, iseng” ucapnya begitu melihat saya memelototi dia.
Anis:”Awas, nanti aku jewer kamu”
Saya:”Jewer saja kak, eh apanya yang di jewer?
Anis:”Kontolnya Neng hihi, pasti melegeung kan waktu nempel di pantat
neng” ucap Anis vulgar. Saya pun menoleh kembali ke belakang Hanum
tampak mesem-mesem saja.
Saya:”Ia kak, kontolnya meleugeung banget, keras banget, tapi Keenakan
kalau di jewer kontolnya dia kak” ucap saya sambil melihat ke depan dan
melihat-lihat photo-photo kami tadi.
Anis:”Terus apanya neng yang dijewer”
Saya:”Hehe, kontolnya juga, tapi sampai ngaceng, eh sampai putus hihi”
ucap saya tak kalah vulgar, dua ibu-ibu di dalam mobil ini sepertinya
sudah kurang waras.
Saya pun menoleh kepada suami saya, tampak dia focus menyetir.
Saya pun menjulurkan tangan saya dan mengelus-elus selangkangan suami saya. Tiba-tiba Anis berkomentar.
Anis:”Di kocokin aza neng kontolnya Pak Dendi, biar dia makin semangat
nyetirnya hihi” ucap Anis kembali vulgar, rupanya dia melihat tangan
saya yang sedang mengelus-elus selangkangan suami saya.
Saya:”Aku buka ya Pah” ucapku tanpa menunggu jawaban dari suamiku aku
buka resleting celananya. Segera ku keluarkan kontol suami saya dari
balik celana dalamnya. Kontolnya belum keras hanya setengah tegang.
Saya:”Pah, santai saja bawa mobilnya, biar gak ngantuk, kontolnya sambil
mamah kocokin ya” ucapku sambil mulai mengocok kontol suamiku. Suamiku
tidak menjawab, matanya tetap focus melihat ke jalan raya.
Sambil ngocokin kontol suami saya, mata saya pun melihat ke layar
kamera, melihat-lihat photo-photo kami saat di situ patenggang tadi.
Saya:”Ih, Hanum, ini photo waktu suami tante pegang susu kamu, kerasa
gak? Diremes-remes ya? Ucap saya vulgar tapi berefek membuat kontol
suami saya semakin mengeras.
Saya pun menoleh kepada Hanum, dia tampak bersemu merah.
Anis:”Gimana neng, tadi diremes kah sama Om Dendi susunya kamu? Anis
malah menimpali dan mempertegas pertanyaan saya yang vulgar.
Hanum:”ia tante, tadi nenen aku diremes-remes sama Om Dendi” akhirnya
Hanum menjawab meski dengan suara pelan. Tapi karena laju mobil yang
lambat dan kami tak menyalakan music, suara Hanum masih dapat kami
dengar dengan jelas. Saya dan Anis pun tertawa cekikikan, kami puas
menggoda Hanum . Sementara Kontolnya Dendi suamiku pun sudah semakin
mengeras seperti batu.
Anis:”Gak diisep saja neng kontol si aa, biar enak dia” ucap Anis yang sepertinya sudah cair dan bisa mengikuti gaya saya.
Saya:”Kayaknya kak Anis in yang sange hehe, Ia kak, ini kamera, siapa
tahu kakak mau lihat-lihat photonya, yang hot atau yang biasa juga hihi”
ucap saya sambil memberikan kamera kepada Anis.
Anis pun mengambil ponsel dari tangan saya dan saya segera menundukan
kepala saya. Lidah saya mulai menjilati batang kontol Dendi. Sambil saya
melihat ke Anis.
Saya:”Kak, gimana bagus-bagus kan photonya? Ucap saya disela-sela jilatan saya dikontol suami saya.
Anis:”Bagus neng, gambarnya jernih” jawab Anis.
Saya:”Bukan itu kak, pose-posenya” Anis tidak paham dengan maksud saya.
Anis:”Banyak yang hot neng hihi” ucap Anis sepertinya dia baru paham maksud saya.
Sementara saya sudah mulai memasukan kontolnya Dendi ke mulut saya. Saya
jilat dan isap kepala kontolnya Dendi seperti sedang menghisap permen
loli.
Anis:”Enak banget kayaknya neng, ngisep kontolnya seperti ngisep loli,
lihat neng, mamah jadi sange liatnya hehe” ucap Anis dan terdengar
seperti menepuk.
Sekilas ku lihat kepala Hanum melongok ke depan dan kemudian menghilang kembali.
Saya pun mulai memasukan batangk kontol suami saya ke mulut saya. Saya
berusaha memasukan semuanya tapi sangat susah karena cukup panjang dan
sudah panjang maksimal. Ku lihat suami saya tetap melihat ke depan walau
ekpresi mukanya sedikit berbeda.
Hanum:”Mamah udah ketagihan kayaknya”
Anis:”ia kali neng hehe, eh gimana ya neng kalau aku kirim photo waktu
suami neng meluk saya dari belakang dan tangannya memegang susu saya ke
suami hihi”ucap Anis kepada Hanum dan saya
Saya pun mengeluarkan kontol Dendi dari mulut saya untuk menjawab pertanyaan dari Anis.
Saya:”Antara dua kak, suami kakak marah banting hp atau dia coli sambil
lihat hp hehe” ucap saya dan kembali memasukan kontolnya Dendi ke mulut
saya.
Anis:”haha, bisa saja neng, tapi ini si jaka wanian (pemberani) ya,
megang bokong neng, terus pakai narik cangcut neng oge (juga) hihi” ucap
Anis .
Sementara Saya tidak meneruskan menjilati kontolnya Dendi karena
sepertinya suami saya sedikit hilang konsentrasinya, beberapa kali mobil
terasa oleng.
Saya:”Mamah pegangin aza ya pah hehe”
Suami:”Ia, aku jadi kurang konsen” ucapnya.
Anis:”Keenakan pak Dendinya, kontolnya neng isep sampai goyang mobilnya hihi”
Saya:”Ia kak, bahaya hihi, eh Hanum gimana menurut kamu kalau mamah kamu
kirim photo yang waktu mamah kamu dipeluk sama si Om Dendi sambil
diremes-remes susunya mamah kamu? Tanya saya kembali menggoda Hanum.
Hanum:”Ah jangan tan, entar bapak saya ngamuk”
Saya:”Hihi, ia bahaya ntar Om dicari ya sama bapak kamu, apalagi kalau
tahu Om Dendi sudah menodai mamah kamu, tambah gawat” ucap saya. Saya
pun menoleh ke belakang, tampak Jaka terkejut mendengar perkataan saya,
dia baru sadar bahwa Anis ibunya Hanum sudah pernah disetubuhi oleh
Dendi suami saya, sama seperti mamahnya si Bu heti .
Suami:”Udah, ada Jaka” ucap suami saya.
Saya:”Gpp, biar Jaka tahu pah, kamu pemangsa bini orang, kamu tidak boleh ditiru hehe”
Suami:”Terserah dech”
Suami saya sepertinya mempercepat laju mobil . Sepertinya dia sedikit
marah . Saya pun memasukan kontol suami saya ke dalam celananya supaya
dia lebih konsentrasi untuk menyetir.
Anis:”Neng ini kameranya” saya pun menerima lagi kamera dari tangannya Anis.
Kami beberapa saat terdiam tak ada yang bicara . Saya pun berinisiatif
menyalakan music bergenre dangdut untuk kembali menghangatkan suasana.
Anis pun kembali mengajak saya mengobrol.
Anis:”Enak ya neng, sepanjang jalan aza udah bagus-bagus, banyak kebun teh”
Saya:”Ia kak, tinggal di daerah seperti ini enak, bisa sehat udaranya masih bersih”
Anis:”Ia, dingin banget lagi, bawaannya kayaknya pengen di rumah mulu”
Saya:”Lebih tepatnya lagi pengen di kamar mulu kali kak”
Anis:”Hehe, ia selimutan ya hihi”
Kemudian tiba-tiba suami saya yang dari tadi cemberut menimpali.
Suami:”Selimutan aza Nis terus tidur, gak ada yang lain”
Anis:”Kalau gak punya pasangan ya gitu, selimutan, tidur. Tapi kalau
punya pasangan, selimut disingkirkan, terus diselimutin sama selimut
hidup, ditidurin dech hihi, ia kan neng Dewi”
Saya:” ia Bener banget kak haha” ucap saya menimpali.
Anis:”Memang kalau tinggal di daerah yang kayak begini bisa banyak anak ya neng”
Saya:”Ia Kak, bakal produktif pokoknya”
Anis:”Ia, tiap hari, gak siang dan gak malam bawaannya pengen ewean mulu hihi” ucap Anis vulgar .
Hanum:”igh mamah gak sopan”
Saya:”Tapi bener neng kata mamah kamu, coba kalau nanti kamu punya
suami, tinggal di sini, beli rumah atau bangun rumah di sini baru
kerasa, tiap hari pasti diajakin ewean mulu” ucap saya yang diiringi
tawa oleh saya dan Anis .
Anis:”Ya, betul neng, kalau sudah punya suami baru nyaho”
Hanum:”Ya gak tiap waktu gituan juga kali mah”
Anis:”Ya nggak, pasti harus kerja, tapi bukan judi kayak bapak kamu,
tapi kalau pas di rumah, terus cuacanya selalu dingin kayak di sini,
beuh neng, pasti kalian di kamar terus pengennya, ya ngentot“ timpal
Anis lagi.
Hanum:”Ah itu yang otaknya ngeres aza kali mah” Hanum pun tetap mendebat
pernyataan ibunya . Membuat saya dan Anis pun tertawa cekikikan.
Anis:”Yeee, karena kamu belum merasakan nikmat ewean neng, kalau nanti
momok kamu udah di sodok sama kontol Om Dendi baru nyaho” ucap Anis,
mungkin keceplosan karena di situ ada Jaka juga. Dendi suami saya pun
sampai berdehem. Saya pun menengok ke belakang pengen melihat ekpresi
Jaka, tampak dia pun yang asyik mendengarkan obrolan kita raut mukanya
tampak terkejut.
Hanum:”Mamah jadi jorang pisan” ucap Hanum, ku lihat dia cemberut.
Saya pun berkedip kepada Anis dan tertawa lalu melihat kembali ke depan.
Suami:”Seneng sekali ya kalian godain Hanum” ucap Suami saya.
Saya:”Kita cuma ngasih informasi Pah, biar Hanum tahu ia kan kak”
Anis:”Hehe ia neng, maaf Pak Dendi” ucap Anis.
Saya:”Biar gak boring aza Pah, abis kamu juga diem saja”
Suami:”Kan lagi konsen nyetir, lagian cukup banyak kendaraan tuch, karena hari libur”
Saya:”Ia, jadinya aku ngobrol sama Kak Anis” ucap Saya.
Suami saya tidak berkomentar lagi, pandangannya focus ke depan, mungkin sudah ada separoh perjalanan.
Beberapa saat kami kembali terdiam tak ada yang berbicara.
Saya pun kembali membuka keheningan.
Saya:” Jak, dulu kamu sekelas sama Hanum? Tanya saya kepada jaka .
Jaka:”kelas 2 & kelas 3 sma satu kelas” ucap Jaka .
Saya:”Dulu Hanum punya pacar gak Jak? Atau jangan-jangan kamu pacarnya hihi” saya pun bertanya lagi tanpa menengok ke belakang.
Tiba-tiba terdengar tangisan dari Revan, mungkin dia terbangun dan kaget
karena barusan ada suara klakson mobil tangki yang sangat nyaring.
Saya:”Kak, biar saya susuin Revan” ucap saya sambil menoleh ke Anis.
Anis pun memberikan Revan kepada saya. Saya pun segera memangku Revan.
Kebetulan baju gamis saya bagian atasnya memiliki 3 kancing sampai
sedikit di atas dada dan saya sengaja memakai pakaian ini agar mudah
kalau harus menyusui Revan. Saya pun membuka tiga kancing baju saya dan
sedikit menurunkan sebelah lengan baju. Saya keluarkan satu payudara
saya dan mulai menyusui Revan. Saya sempat menoleh ke belakang, tampak
Jaka berpindah duduk ke sudut sebelah kanan, mungkin dia mau mengintip
saya menyusui Revan.
Saya pun cuek saja dan menyusui Revan.
Saya:”Jak, tadi pertanyaan tante belum di jawab?
Jaka:”eeeh ia tan, apa tadi?
Saya:”Ih, gak focus dech kamu”
Anis:”Lagi focus liatin tetek neng kayaknya” ucap Anis yang tentu pasti membuat Jaka malu.
Hanum:”Ih Jaka” Hanum pun berkomentar dan pasti Jaka malu banget,.
Jaka:”Ngggak koq., lagi liat kebun teh sama stroberi” ucap Jaka .
Anis:”Koq pindah, kan kebunnya sebelah kiri” ucap Anis .
Saya:”Udah ah, seneng banget kakak godain Jaka”
Anis:”hihi, anak muda neng, lagi tegangan tinggi hihi”
Saya:”Yang tua juga sama saja kak”
Anis:”Haha bisa saja, mungkin bawaan cuaca neng, jadi pikirannya ngentot, selakangan hahaha” Saya dan Anis pun tertawa
Saya:”Pertanyaan tante tadi Jak, Hanum punya pacar gak?
Jaka:”Tanya Hanum saja tan”
Saya:”yee, kamu takut ya, pasti dia gak bakalan ngaku kalau tante tanya, Han, kamu punya pacar gak di sekolah?
Hanum:”Punya tan”
Saya:”Eh saya sudah pernah tanyakan ini apa belum, rasanya sudah ya”
Jaka:”Banyak yang suka pada Hanum tan, apalagi dulu kan gak pakai jilbab dan suka pakai rok pendek”
Hanum:”apaan sich maneh(kamu ) Jak” Hanum pun protes ke Jaka karena ucapanya tadi.
Jaka:”emang bener kan”
Saya:”Wah, santai saja Han, hihi” saya pun menenangkan Hanum. Sementara
Revan sudah kembali tertidur. Saya pun melepaskan mulutnya dari puting
susu saya lalu membenahi dan memakai pakaian saya lagi.
Suami:”Sudah dekat saudara-saudara, siap-siap” ucap Suami saya . Kami ternyata sudah sampai di kec. Pasirjambu.
Saya:”Sudah mau sampai, nanti kita makan di restoran hotel saja ya, uggh
ternyata kita lama di situ patenggang, sekarang udah setengah tiga
sore, perut udah lapar”
Anis:”Ia kak, kelamaan photo-photo kita hihi, kayak anak muda saja”
Saya:”Ia kak, gpp gak tiap hari”ucap saya.
Saya:”Sekarang udah ada supermarket dekat sini ya Pah, dulu kan masih sepi”
Suami:”ia, sekarang sudah lebih rame mah”
Akhirnya tak lama kami pun sampai dan segera masuk ke dalam area hotel .
Setelah suami saya memarkir mobil dan membangunkan anak-anak, kami pun
berjalan masuk ke dalam hotel. Di depan Hotel di sambut oleh
patung-patung ukiran yang sangat indah. Kami pun segera masuk ke dalam
hotel dan di dalam hotel pun tak kalah banyaknya patung-patung ukiran.
Suami:”Sepi, belum terlalu rame restorannya, apa kita makan sekarang Mah?
Saya:”Check in dulu dech Pah, nanti baru makan, udah laper banget yah”
ucap saya sambil mendatangangi recepsionis. Setelah itu kami pun
berjalan menuju kamar yang telah kami booking. Kami harus melalui lorong
dan tangga yang menurutku sedikit serem dech tanpa lift, akhirnya kami
pun sampai di kamar masing-masing, yang unik setiap kamar memiliki
pintu gerbang sebelum masuk ke dalam kamar, malah ada gembok kayunya
menambah kesan jadul. Kami pun berpisah dengan Hanum dan Anis. Tapi
letak kamar kami tidak begitu jauh dan sama-sama viewnya ke sungai, jadi
dari balkon kami dapat langsung melihat sungai.
Kami pun segera masuk ke dalam gerbang kamar, seolah ada empat ruangan
beserta gerbang jadinya, ada juga ruang tamunya yang terpisah dan ada 2
pintu kamar sendiri jadi bisa menjaga privasi. Sebuah sofa single yang
berdempetan yang juga bisa dibuat seperti tempat tidur sambil nonton tv.
Saya:”Jaka, nanti kamar kamu yang ini ya” ucap saya sambil membuka pintu kamar untuk Jaka, ada twin bed, kamarnya simple saja.
Jaka:”ia tan” jawab Jaka, ku lihat dia langsung rebahan di sofa sambil kemudian menyalakan tv.
Saya dan suami masuk ke dalam kamar utama, di kamar utama ada juga tv
seperti di ruang tamunya dan yang luar biasa kaca kamar langsung
menghadap ke pesawahan dan sungai, pemandangan yang sungguh memanjakan
mata, serta sebuah kasur berukurang king size.
Saya:”Mau mandi dulu pah?
Suami:”nanti saja mah, ganti baju saja, aku laper, siap-siap ya, bentar
lagi kita turun untuk makan” ucap Suami yang kemudian berjalan dan
berhenti di depan jendela kaca menatap ke luar.
Intan dan Revan malah loncat-loncat di kasur.
Saya pun memasukan pakaian dan koper kami ke dalam lemari
Saya pun segera merebahkan diri di atas kasur.
Saya:”Hati-hati neng, nanti jatuh, sana ke luar lihat sungai, Jak temenin anak-anak ya”
Anak-anak saya pun segera keluar dari kamar.Terdengar suara Jaka
mengajak anak-anak keluar menuju balkon. Sementara saya pun pergi ke
kamar mandi sekedar untuk mencuci muka. Setelah mencuci muka saya pun
kembali ke dalam kamar, kulihat suami saya sudah berganti pakaian
memakai kaos lengan pendek dan celena pendek juga.
Suami:”Kamu gak ganti baju mah?
Saya:”Tanggung pah, belum mandi, make up saja” ucap saya.
Suami:”nanti si jaka tidur di mana mah?
Saya:”Bertiga pah, kita threesome hehe, ya di kamar sebelah lah, atau sofa depan tv sambil nonton tv kan bisa juga”
Suami:”Oh ia, maksud papah kenapa gak pesan jadi satu semua dengan Hanum dan Anis di sini”
Saya:”Orang Dewasa jadi lima, terlalu banyak, gpp biar nyaman”
Suami:”Cuma kasihan saja mereka”
Saya:”Gpp orang udah pada gede koq, nanti juga kita ngumpul di sini”
Suami saya masih tetap berdiri di depan kaca kamar.
Saya:”Enak ya Pah, pesawahan, gimana kalau kita nanti ngentot di tengah sawah Pah?
Suami:”haha, ada-ada saja kamu mah”
Suami saya kemudian berjalan menuju pintu kamar.
Suami:”Aku ke balkon dulu mah, pemandangannya indah nich, suasana
pedesaan, bisa ngelupain bau asap kendaraan ini” ucap Dendi dan tanpa
menunggu jawaban dari saya langsung keluar kamar, sepertinya ke balkon
yang berada di samping ruang tamu. Setelah berdandan sebentar saya pun
menyusul menuju balkon. Ada beberapa kursi dan ada meja juga, bentuk
bangunannya yang zigzag membuat sedikit kurang nyaman karena di salah
satu sisi masih memungkinkan melihat posisi kami walau tentu harus
pindah ke ujung.
Saya pun duduk di samping suami saya, sementara Revan melihat saya langsung naik kepangkuan saya.
Revan:”Mah, nenen” ucapnya.
Saya:”Ih, udah mau nenen lagi ya, nanti aza ya, ntar om Jaka mau nenen
juga lho” ucap saya sambil melirik Jaka dan saya memang menggoda dia.
Suami:”Uda kamu nenenin saja dua-duanya”
Saya:”Entar kamu cemburu”
Revan pun terus merengek, terpaksa saya pun membuka kancing baju saya
dan menurunkan di pundak sebelah kanan. Saya pun mengeluarkan susu kanan
saya dan segera menyusui Revan. Jaka pun pura-pura melihat ke sungai.
Saya:”Pah, dulu rasanya balkonya gak zigzag begini ya?
Suami:”sudah dari dulu begini koq, mungkin itu di hotel lain”
Saya:”Hehe lupa, udah lama baru ke sini lagi, tapi kurang bebas ya
jadinya, padahal aku pengen ngentot di sini, sambil menghirup udara
segar hihi”
Suami:”dasar kamu” ucapnya sambil menoleh ke Jaka yang juga ada di sampingnya.
Ku lihat juga Jaka beberapa kali mencuri pandang ke payudara saya, mungkin dia sudah sangat ingin mencicipi lagi.
Suami:”Yuk udahan, laper papah, kamu telepon Hanum Jak, biar sama-sama kita ke lobby hotel untuk makan siang”
Saya:”Makan siang apa sore?
Suami:”Lunch, biar udah sore”
Saya pun segera menyudahi menyusui Revan dan membujuk dia karena sebentar lagi kita akan makan.
Kami pun segera keluar dari kamar dan sejenak menunggu Anis dan Hanum,
tak lama mereka pun datang dan segera bergabung. Kami pun sama-sama
berjalan menuju lobby hotel dengan berjalan kaki, ya biasanya melalui
lift langsung tiba di lobby.
Kami pun segera masuk ke dalam restoran, tidak terlalu ramai hanya ada
beberapa orang saja yang sedang nongkrong-nongkrong. Kami pun segera
memilih tempat di pojokan belakang agar lebih tenang dan dapat melihat
ke belakang, pemandangan sungai dan pesawahan serta pemandangan di
sampingnya juga.
Saya:”Jak, gabung aza mejanya biar sama-sama” aku meminta jaka untuk menggabungkan meja saya dan suami dengan Anis dan Hanum.
Jaka pun segera menggabungkan meja kami, sekarang jadi terasa lebih
luas. Pelayan pun segera menghampiri kami dan memberikan daftar menu.
Segera kita memesan makanan sesuai selera masing-masing. Kemudian kita
diminta menunggu.
Saya:”Pah, makan malam kita nyari di luar ya sekalian jalan-jalan,
jangan di hotel lagi, kita kan lagi liburan masa semuanya di hotel”
Suami:”Ia, sekarang udah keburu laper, jadi makan di sini saja, lagian
sekarang sudah setengah 4 ini, bentar lagi makan malam lagi”
Saya:”Hehe, ia ya, eh kak, gimana suasananya enak kan?
Anis:”Ia neng, enak banget, udaranya seger, pemandangannya menyejukan mata, inget lembur (Kampung) jadinya”
Saya:”ia, besok dech kita jalan-jalan, banyak buat spot photo di sini”
Anis:”Ia neng, istirahat dulu malam ini, pegel-pegel juga badan, banyak jalan kaki hehe”
Saya:”Apa pegel-pegelnya karena tadi malam sama tadi shubuh habis diewe
sama suami saya ya kak haha, Ia, malam ini di kamar saja dech, kecuali
keluar makan malam aza”
Anis:”Neng Ini bikin saya malu saja”
PART 78 POV Wife Pagi itu aku duduk sendiri di teras rumah. Hatiku tengah galau berat. Hanum sedang pergi mengantar Intan ke sekolah dan Anis bersama Bu Heti sedang berbelanja ke super market untuk kebutuhan sehari-hari dan Revan ikut dengan mereka. Sore atau malam nanti suamiku akan pulang ke rumah, aku khawatir tidak bisa menahan amarah sehingga semua rencanaku akan gagal. Aku sedang memikirkan bagaimana aku bersikap kepada suamiku dan menahan emosi agar semua rencanaku berjalan semestinya dan aku dapat mengetahui apa suamiku menyeleng atau tidak dibelakangku, yang pasti dia sudah berbohong namun aku belum tahu alasannya. Saat sedang melamun aku mendengar pintu pagar digedor-gedor dari luar. Saya pun kaget dan segera berdiri untuk mencari tahu. Ternyata ada seseorang memukul-mukul pagar menggunakan tongkat kayu. Orangnya kurus dan tingginya mungkin hampir sama dengan saya dan kelalanya plontos. Memakai kaus lengan pendek warna putih dan celana jeans. Tanga...
Komentar
Posting Komentar