PART 53
POV SUAMI
Lokasinya yang dipinggir sungai dan beberapa pemandangan pesawahan
membuat suasana pedesaan begitu kental terasa menjadikannya istimewa.
Saat sedang asyik melihat pemandangan, tiba-tiba saya dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundak saya.
Saya pun segera menoleh dan tampak sesosok perempuan yang sangat cantik,
badannya langsing mirip postur istri saya dia belum punya anak. Memakai
pakaian serba hitam. Celana panjang jenis span warna hitam, memakai
blouse hitam dan sepertinya kemeja putih di dalamnya.
Si Perempuan:”Pak Dendi ya?
Saya:”eeeh, ia” ucap saya sambil melihat ke istri saya yang menatap saya penuh rasa curiga.
Jaka, Anis dan Hanum pun menatap saya dan si perempuan.
Si Perempuan:”gak sangka ketemu di sini”
Saya:”iiia, eh ngomong-ngomong koq bisa kenal saya”
Si Perempuan:”masa pak Dendi lupa, kita pernah ketemu di kantor Jakarta, saya Hana”
Istri saya pun semakin menatap saya dengan tajam dan mukanya nampak cemberut.
Saya:”Eh Hana siapa ya?
Perempuan tersebut tidak menjawab tapi mengambil kursi dan duduk di dekat meja kami.
Hana:”Pak Dendi ini terlalu serius ya, saya Hana, sekertarisnya Pak
Hendro, kita pernah ketemu dua kali di Jakarta waktu bapak ada meeting
di sana”
Saya:”ooo, sebentar” saya pun mengingat photo yang diberikan Ida, persis sepertinya orang yang sama tapi koq namanya berbeda.
Saya:”Sebentar, bukannya sekertaris Pak Hendro namanya pertiwi?
Hana:”Ia, memang itu nama saya, nama lengkap saya Hana Pertiwi Yunita”
Saya:”Oh, Ini kenalkan mah, Hana, sekertarisnya Pak Hendro, Han ini istri saya namanya Dewi”
Hana pun segera bangkit dan menyalami Dewi. Kemudian saya pun
memperkenalkan semua orang yang ada, saya menyebut jaka dan Anis sebagai
saudara.
Hana pun kemudian duduk kembali di tempat semula.
Hana:”lagi pada liburan ya?
Saya:”Ia, saya lagi cuti, ya jalan-jalan sama istri dan family, kamu
sendirian apa sama suami” sambil melihat istri saya, kini dia sudah
tidak cemberut lagi.
Hana:”Saya sama suami, tadi lagi keluar dulu, kebetulan ban mobil kami kempes tadi”
Saya:”Wah, berarti sengaja ya jauh-jauh dari Jakarta jalan-jalan ke sini?
Tapi obrolan kami terhenti karena pelayan datang menghampiri Hana dan memberikan daftar menu.
Hana:”pesan orange jouice saja dulu satu, nanti ya mbak yang lainnya, tunggu suami saya dulu”
Kemudian si pelayan pun pergi meninggalkan Hana.
Hana:”Gak sich Pak, kebetulan kemaren habis nganter saya pindahan,
daripada di rumah saja, kebetulan dia sudah ambil cuti 2 hari senin sama
selasa ya saya ajak jalan-jalan”
Saya:”Maksudnya pindahan gimana?
Lagi-lagi obrolan kita terhenti karena pelayan mengantarkan makan buat meja kami.
Wife:”Gabung sini Han” tawar istri saya.
Hana:”Ia, disini saja kak, nanti suami saya juga datang”
Saya:”Sorry sambil makan ya, habis saya sudah lapar banget”
Hana:”ia silahkan, selamat menikmati”
Saya:”Eh by the way tadi kamu bilang pindahan?
Hana:”Ia, saya kan pindah kerja ke kantor di Bandung jadi sekertaris bapak, jadi saya kontrak rumah sementara di Bandung”
Saya:”hah, maksudnya sekertaris saya?
Hana:”Ia, bapak kan gantikan Pak Hendro, tapi kata Pak Hendro bapak
memilih berkantor di kantor cabang, jadi saya disuruh pindah ke Bandung”
Saya pun melihat istri saya lalu berbicara lagi kepada Hana.
Saya:”Tapi saya gak paham, saya pernah dua kali di panggil Pak Cristoper
untuk gantikan Pak Hendro, tapi harus berkantor di Jakarta dan saya
sudah bilang tidak bisa di Jakarta, terus Pak Cristo cuma bilang bapak
pikir-pikir saja dulu katanya” saya pun menjadi bingung.
Hana”owh, tapi surat tugas saya sudah release pak, jadi PA pak Dendi, gak mungkin juga kan aku gantikan Ida”
Saya:”Gak tau dech bingung aku, jadi kapan Hana mulai masuk?
Hana:”Hari Rabu saya pak, ke HR sini dulu”
Wife:”Apa gak kamu tanyakan ke Pak Hendro Pah?
Saya:”Biar aza pas balik cuti nanti, malu juga papah nanya-nanya soal itu”
Wife:”Kenapa malu, kan itu posisi bagus Pah, siapa tahu beneran papah diangkat dan boleh berkantor di sini”
Saya:”Nanti saja dech, malah ganggu liburan”
Wife:”Ya whatever dech”
Hana:”Biar saya bantu tanya nanti Kak, Pak” selesai Hana bicara
tiba-tiba datang seorang lelaki muda memakai kemeja lengan panjang dan
celana jeans lalu duduk di depan Hana.
Hana:”Udah selesai Pah, bocor ya, eh kenalin Pah, ini Pak Dendi bos baru aku nanti kebetulan banget ketemu di sini”
Orang tersebut segera mendatangi saya lalu menyalami saya.
Saya:”Dendi Pak, salam kenal”
Iqbal:”Iqbal Pak, salam kenal juga”
Hana:”Itu kak Dewi istri Pak Dendi, Kak Anis, Hanum dan Jaka saudara pak Dendi”
Hana pun memperkenalkan suaminya kepada kami semua.
Iqbal pun kembali duduk di samping istrinya dan segera pelayan mendatangi mereka. Istri saya pun kemudian berbisik kepada saya.
Wife:”Pah, mantap punya sekertaris baru, cantik semampai”
Saya:”Hush, belum jelas juga”
Wife:”Suaminya juga ganteng banget pah, jadi gemes”
Saya pun melotot kepada istri saya dan dia pun tertawa cengengesan.
Iqbal:”Lagi liburan Pak?
Saya:”ia lagi cuti, ya jalan-jalan bersama keluarga, kamu kerja di Jakarta, gak ikut pindah ke Bandung”
Iqbal:”Saya tetap di Jakarta pak, istri saya maksa menuruti intruksi
perusahaan mutasi ke sini, ya kebetulan belum ada anak ya saya ok saja
dia meniti karier dulu”
Saya:”Owh, jadi rencananya nanti bolak-balik Jakarta Bandung?
Iqbal:”Ya begitu, tapi mungkin gak tiap hari juga, tergantung stamina”
Hana:”Ia, kasihan kalau harus pulang pergi Jakarta Bandung tiap hari Pak” Hana pun menimpali.
Wife:”Yang pasti kalau malam Jumat harus ada di Bandung kan?
Hana:”Haha, harus kalau itu”
Iqbal pun tertawa menanggapi pertanyaan Dewi.
Wife:” Gabung sini saja biar lebih enak ngobrolnya”
Hana:”Gpp kak di sini saja”
Iqbal:”Baru pertama kali saya ke sini Pak”
Saya:”Oh ya Pak?
Hana:”Ia, padahal gak jauh-jauh amat dari tempat kamu dulu”
Wife:”Memang Iqbal asli mana?
Iqbal:”Saya aslinya dari Garut bu”
Saya:”Oh, kirain kamu orang Jakarta?
Iqbal:”Kerja di Jakarta, istri saya malah yang orang Jakarta”
Wife:”Kamu asli Jakarta?
Hana:”Nggak juga Kak, Tanggerang, Tangsel”
Wife:”Owh”
Sementara kami mengobrol, Anis dan Jaka pun terdiam dan matanya lebih
tertuju ke sungai. Sementara Hanum lebih banyak ke sana kemari menemani
Intan yang lari ke sana kemari.
Wife:”Udah punya momongan?
Hana:”Belum kak, belum di kasih sama yang di atas”
Wife:”Wah, apalagi nanti berjauhan, harusnya masnya pindah cari kerja di Bandung saja”
Iqbal:”Ya, rencanaya gitu Kak, kalau ada lowongan, biaya hidup di Jakarta sangat tinggi”
Wife:”Pah, kalau kamu jadi Head, posisi kamu sekarang kan kosong, bisa mungkin di isi Iqbal, Iqbal basicnya accounting juga kan”
Saya:”Ya kalau Iqbal accounting juga tetap gak bisa, karena gak boleh suami istri satu department”
Iqbal:”Ia gak bisa kak, saya basicnya ekonomi manajemen”
Hana:”Ia, salah satu harus ngalah, sambil cari-cari lowongan kak di
tempat lain di sekitar Bandung juga” Ucap Hana dan kemudian makanan
mereka pun tiba.
Kami menghentikan obrolan dan menyantap makanan kami dan menyantap makanan kami masing-masing.
Saya yang memang dari tadi laper paling duluan selesai makan. Melihat
saya telah selesai makan istri saya pun meminta saya yang menemaini
Intan. Saya pun meninggalkan meja dan menemani Intan yang lagi asyik di
depan pagar.
Saya:”Gimana nak, seneng?
Intan:”Intan mau berenang Pah”
Saya:”Besok saja ya, pagi-pagi ini udah sore, kamu gak rasa memang dingin banget”
Intan:”ia dech”
Saya pun mengajak Intan mencari tempat duduk, sambil menemani Intan saya
pun iseng membuka ponsel saya, ada beberapa pesan wa masuk.
Saya lihat ada beberapa pesan masuk dari Fani, sepertinya sekitar jam 3 tadi. Saya pun segera mengirim pesan balasan.
Saya:”maaf om baru lihat, soalnya lagi nyetir, om lagi di dinas di luar kota, apa kabar juga Fan”
Langsung muncul balasan dari Fani.
Fani:”Baik juga Om, kangen nich aku sama Om”
Saya:”Kangen Om apa kangen apanya Om”
Fani:”Ih, maksudnya apanya tuch apa om”
Saya:”Kontol Om” balas saya vulgar.
Fani:”Kangen sich, tapi takut hamil”
Saya:”Kan bisa pakai kondom”
Fani:”Takut lebar nanti”
Saya:”Apanya yang takut lebar sayang”
Fani:”Igh, gak tau dech”
Saya:”Hehe, ngomong-ngomong cuma kangen aza apa ada perlu sama Om”
Fani:”Om boleh minta sesuatu gak?
Saya:”Minta apa bilang saja”
Fani:”Beliin motor aku om, yang matic yang gede itu”
Saya:”Yang gede kayak kontol Om, Owh gampang, nanti om bilang mamah kamu untuk belikan pakai bagian uang Om dari karaoke”
Fani:”Kampret, dasar mesum, Makasih om, bisa sambil video call gak” balas Fani.
Saya:”Gak bisa, ada banyak temen Om, lagi pada kerja, nanti ke ganggu” balas saya berbohong.
Fani:”Ia dech, makasih ya Om, jangan lupa bilang ke mamah”
Saya:”Ia, tapi ngomong-ngomong motor matic gede yang segede apa?
Fani:”ih, yang pasti lebih gede dari kanjut Om”
Saya:”Haha, Fan kamu ada bilang gak kalau kamu sudah diperawanin sama Om
ke pacar kamu” saya pun semakin bersemangat menggoda Fani.
Fani:”ih, aku bilang ke pacar aku, yang aku diperkosa sama pacarnya mamah aku, PUAS”
Saya:”PUAS BANGET hehe”
POV WIFE
Sungguh tampan suami si Hana ini, malah sepertinya lebih tampan di banding Dendi saat suamiku seumuran dengan suami Hana.
Saya:”Kalian pasangan serasi ya, Hananya cantik, Iqbalnya ganteng” ucap saya ketika kami sudah selesai makan.
Hana:”Kakak bisa saja, kak Dewi juga cantik kan pah, padahal lagi hamil
dan punya anak dua, Pak Dendi ganteng, Cuma perutnya agak buncit hihi”
Iqbal:”Hehe ia, Bu Dewi cantik banget menurut saya sich”
Saya:”Kalian bisa saja” ucap Saya. Tatapan Iqbal begitu tajam terhadap saya.
Saya pun menoleh ke suami saya. Tampak dia asyik maen hp sambil senyum-senyum, sementara Intan tampak sudah dengan Hanum lagi.
Saya pun meminta Jaka memanggil suami saya.
Saya:”Jak, panggilin Om dong”
Jaka pun segera pergi menuju ke suami saya.
Hana:”Jadi rencananya berapa hari kakak di sini?
Saya:”Sampai selasa, selasa siang kami check out, kalau kalian?
Hana:”Besok siang kami check out atau mungkin pagi-pagi, soalnya rabu
saya dan suami harus sudah masuk kerja” Ucap Hana, tampak mereka juga
lagi bersiap meninggalkan tempat makan.
Saya:”Han, jangan lupa, minta tolong tanyain ya ke pak Hendro”
Hana:”Ia kak, pasti, boleh minta nomor kakak atau suami?
Saya:”Ia, mana nomor kamu, nanti saya Wa nomor suami saya”
Setelah mencatat nomor Hana saya pun mengirimkan nomor ponsel suami saya.
Saya:”Kalau suami saya pasti gak mau nanya, gengsian”
Hana:”hehe, padahal itu posisi yang tinggi banget, naik berlipat-lipat
salarynya kak, tapi kalau dari LOA saya yang baru jelas koq saya tetap
sekertaris head of finance”
Saya:”Ya, kakak pengen tahu kepastiannya saja, biar bisa planning mengunci atm suami hehe”
Hana:”haha,bisa saja kak Dewi, Pap, bentar ya kita pamit ke pak Dendi”
Saya lihat suami saya sudah mendatangi kami begitu juga Intan dan Hanum.
Mereka pun segera di duduk di kursi masing-masing.
Saya:”Papah ngapain sich, maen ponsel ketawa-ketawa chatingan sama siapa? Anak dibiarin “
Suami:”Oh, lagi liat youtube tadi, mumpung wifi gratis kan Han hehe”
Saya:”ah bohong, lagi liburan masih asyik maen hp”
Hana:”Hehe ia Pak, lupakan hpnya, eh kami pamit duluan ya, mau balik ke kamar”
Suami:”Oh ok, silahkan, kapan kalian check out?
Hana:”Besok siang pak, soalnya kan Rabu sudah harus kerja”
Suami:”Ok, selamat istirahat”
Hana dan Iqbal pun pergi meninggalkan kami.
Saya:”Udah, diliatin terus boolnya Hana” ucap saya, karena suami saya
dari tadi terus memperhatikan bokongnya Hana yang memang bagus, tidak
besar tapi padat serta celananya cukup ketat mencetak pantatnya.
Suami:”Gak, Cuma lihat suasana restoran saja koq” suami saya pun ngeles.
Saya:”Liat juga gpp normal kan ya Kak?
Anis:”ia apalagi orangnya cantik, sexy, tinggi semampai, kayaknya sama
deng neng Dewi kalau gak lagi hamil persis dech kayak Hana”
Suami:”ia persis banget Nis, si Hana persis seperti istri saya”
Saya :”eehhmmmmzzzz, emang kak Anis pernah lihat saya sebelum saya hamil”
Anis:”Ya belum neng, tapi ngira-ngira saja
Anis:”suaminya juga ganteng banget kan neng, cocok istrinya cantik dan suaminya ganteng”
Suami:”sama kayak saya suaminya, saya waktu masih awal-awal nikah kayak gitu nis” ucap Dendi
Saya:”tapi ganteng Iqbal dech” ucap saya
Suami:”Hempppz, kamu naksir mah?
Saya:”Koq gitu nanyanya, aku cuma biang gantengan Iqbal, ia kan kak, Papah cemburu”
Anis:”sama-sama ganteng koq, Cuma pak Dendi agak gendut dan kalau kulit putihan pak Dendi”
Saya:”Pucat bukan putih hihi, kalau saya kan kuning”
Suami:”sekalian albino”
Saya:”kalau albino kan beda lagi bebz, gitu aza ngambek, eh kamu chatinggan sama siapa sich, ketawa ketiwi gitu?
Suami:”Gak, nonton youtube koq”
Saya:”tapi banyak kali ngetiknya” tanya saya lagi karena memang saya curiga.
Saya:”Komen itu, nulis komen cinta, nich liat hpnya”
Saya:”Gak usah, percaya dech, palingan chatinggan sama Ida ya, eh Pah
ayo bayar, yuk kita ngumpul di kamar aku saja yok…yok Revan Intan” ucap
saya sambil berdiri dan semua orangpun segera berdiri.
Anis:”Ida siapa neng?
Saya:”Sekretarisnya suami saya merangkap selingkuhan”
Suami:”terus, ini liburan jangan mancing aku emosi”
Saya:”Koq bisa emosi, aneh banget sich”
Suami:”Hayo, hari Jumat kemaren ada apa?
Saya seperti disambar gledek, apa suami saya tahu kejadian di hari
Jumat. Kami pun kemudian berjalan meninggalkan restoran, Anis
menggendong revan dan Intan ditutun Hanum, sedang jaka berjalan disisi
Hanum, tapi dia sekarang lebih pendiam sedang suami saya menuju ke
cashier.
Saya:”Kak, kakak gak ada cerita apa-apakan ke suami saya? Saya berbisik kepada Anis
Anis:”Sumpah gak ada neng”
Saya:”Ok, jaga rahasia ya kak, kalau dia tahu bisa gawat, apalagi kalau dia tahu kakak juga tahu bisa kena juga”
Anis:”Apa gak kita lapor saja neng, toh neng dipaksa sama mereka” ucap
Anis sambil menarik tangan saya agar sedikit menjauh dari rombongan.
Saya:”Jangan dech, nanti jadi kasus repot”
Anis:”ia neng”
Suami saya pun sudah menghampiri saya lagi.
Suami:”Kita balik ke kamar saja ya”
Saya:”Ia Pah, kita ngamar aza ya, udah sore nich hampir jam lima, kak
Anis sama Hanum kita ngumpul di kamar saya saja dulu biar rame gak sepi”
Kami semua pun balik ke kamar saya.
Saya memilih duduk di tepi kasur bersama Anis, pintu kamar sengaja tidak
kami tutup. Jaka sudah duduk di pojokan di Sofa lipat sedang Hanum dan
anak-anak duduk di sofa panjang sambil nonton tv.
Suami saya tampak keluar menuju balkon.
Saya:”Pah, di dalam saja, mau maghrib, nanti anak-anak ikut keluar”
Anis:”Ia Pak, gak bagus buat anak-anak” karena memang Revan dan Intan hendak mengikuti suami saya.
Suami saya pun segera masuk kembali ke dalam kamar. Dia pun menghampiri saya dan merebahkan badannya di kasur.
Saya:”Gimana kak, udah tanya Bu Heti, sudah beres belum?
Anis:”Sudah, Alhamdulillah sudah neng, udah beres, tadi saya telepon Heti”
Saya:”Syukurlah kalau gitu” ucap saya. Saya lihat Dendi malah memejamkan matanya seperti mau tidur.
Saya:”Kamu ngantuk kah Pah?
Suami:”ia, ngantuk, jarang nyetir jauh kali, capek rasanya”
Saya:”Mau dipijit badannya atau dipijit kontolnya hihi”
Anis:”Pjit kontolnya aza neng hihi, dingin-dingin gini enak”ucap Anis yang sekarang kelihatanlebih berani.
Saya:”Ia, enak buat bikin anak kak hehe, kayaknya kaka sange ya”
Anis:”Hehe, pengaruh cuaca kali neng, Kita suruh Hanum aza kali ya neng, biar dia belajar”
Saya:”Oh ia kak, minta Hanum dech”Anis memanggil anaknya.
Hanum pun segera masuk ke dalam kamar.
Anis:”Neng pijitin Om Dendi dong, tapi pijitnya di kontolna hahaha”
Hanum:”Malu ah mah” ucap Hanum dan kulihat dia sempat menoleh ke luar ke Jaka karena suara Anis begitu keras.
Saya:”Kenapa malu sama kita- kita ama sama Jaka, tenang aza si Jaka
sekarang bukan jaka yang dulu Num, lagian dia di luar gak lihat, ayo
sini” ucap saya memaksa.
Hanum yang dari tadi berdiri depan pintu pun terpaksa menghampiri saya dan mamahnya.
Saya:”Duduk sini sebelah mamah kamu” ucap saya meminta Hanum yang sedikit cemberut duduk di sebelah mamahnya.
Saya pun segera naik ke ranjang ke samping suami saya yang masih memejamkan matanya.
Saya:”Kalau Hanum malu biar tante saja, Jak, temenin Intan dan Revan nonton tv ya”
Jaka:” ia tan” ku dengar jawaban dari Jaka.
Saya:”Pah, makan malam gak usah keluar ya, kita pesan dari hotel saja
dech, soalnya sekarang masih kenyang, paling nanti malaman lapernya”
Anis:”Ia, kasihan anak-anak kalau keluar malam-malam”
Suami:”Bosen ah makanan hotel, nyari di luar dech, anak-anak biar tidur,
nanti temenin siapa gitu, masak kita liburan makannya hotel terus,
sambil kuliner juga dong, biar dibungkus dech, kata temen papah ada
tempat makan yang enak” ucap Dendi yang telah membuka matanya.
Saya:”Ya udah, nanti papah berdua ditemenin Hanum saja ya nyari
makannnya, biar bisa raba-raba dulu hihi” ucap saya sambil mengedipkan
mata sama Anis.
Hanum pun tampak semakin malu, mukanya memerah.
Sementara saya pun menurunkan celana pendek suami saya beserta sempaknya sampai ke paha.
Kontolnya tampak masih layu meski sudah terlihat besar dan panjang. Saya pun mulai mengocok-ngocok kontol suami saya.
Saya:”Pah, enak dong nanti kamu punya sekertaris baru yang cantik hihi,
belum punya anak, pasti heunceutnya masih sempit” ucap saya mencoba
menggoda suami saya dan menaikan gairahnya.
Suami:”gak tau dech, bingung, papah gak dapat surat apa-apa dan belum ada dipanggil lagi sama bos”
Saya:”Kalau menurut omongan Hana sich sepertinya bener, Pak Cristo oke
kamu berkantor di kantor cabang, buktinya gak mungkin Hana dipindah
begitu saja”
Suami:”Ia juga sich, tapi gak mau geer dulu papah, takut salah”
Ku lihat mata Hanum pun tertuju ke tangan saya yang sedang mengocok
kontol suami saya yang perlahan mulai menegang, sementara Anis terlihat
matanya ke televisi.
Saya:”Mau dikocok sama Hanum pah”
Suami:”Mau mah”
Hanum tampak kaget dan matanya melihat ke saya mungkin minta jangan saya.
Anis:”Ayo neng, eh Pak Dendi gimana Hanum, mau malam ini?
Saya:”Bagusan malam ini Pah, besok kalau mau nambah bisa ia kan kak?
Anis:”Ia, takutnya kalau besok kan capek jalan-jalan terus besoknya pulang nyetir lagi”
Saya:”Ayo, biar belajar sayang” ucap Saya kepada Hanum.
Hanum pun segera mendekati suami saya dan duduk bersila di samping kanan suami saya dan saya tetap di sebelah kiri.
Anis:”Saya mau ke kamar dulu ya neng, mau mandi dulu biar seger, dari pertama datang belum mandi”
Saya:”Oh ia sampai lupa, habis cuaca dingin, gak sadar saya juga belum mandi”
Hanum:”Saya juga mandi dulu tante”
Saya:”Ok dech kalau gitu, mandi yang wangi ya, malam ini kamu bobo sama om Kan?
Hanum:”Ia tante, siap” ucap Hanum, saya cukup terkejut juga mendengar ucapan Hanum, sepertinya dia sudah siap.
Anis dan Hanum pun segera turun dari kasur dan meninggalkan kami, suami saya cuma bisa bengong.
Saya:”Hehe, kasihan papah gak jadi dikocokin Hanum”
Suami:”Ia, kenapa mamah biarkan Hanum juga pergi”
Saya:”Gpp, biar dia mandi dulu pah, kan wangi”
Suami:”Ia dech, ah aku mau tidur dulu” ucap suami saya sambil memakai celananya lagi lalu menggeliat.
Sementara anak-anak masih menonton tv sementara Jaka asyik main hp tapi saya yakin dari tadi dia nguping terus.
Saya pun merebahkan diri di samping suami saya.
Suami:”Katanya mo mandi?
Saya:”Gak tenang”
Suami:”Gak tenang kenapa mah” dia pun memiringkan badannya.
Saya:”Tadi kamu nanya hari jumat ada apa? Memang ada apa-apa pah” ucapku
Suami:”Hempz, kamu mau jujur mah?
Saya:”Ia, habis kamu tadi ngambek, awalnya takut, tapi nanti saja ya
ceritanya, mau mandi dulu biar wangi, terus ceritanya sambil ngewe hihi”
ini salah satu taktik saya agar dia tidak marah, kalau sambil ngentot
emosi negatifnya bisa diredam.
Suami:”Ok, yang penting kamu jujur sama aku, sesuai perjanjian awal kita, apapun itu lebih baik dari pada ditutup-tutupin”
Saya:”Ia sayang, aku mau mandi dulu ya…..muaaaach, aku nanti bakalan
cerita Pah, hari Jumat kemaren aku diperkosa Pah sama para tukang,
digengbeng(gangbang)” ucap saya lalu mengecup bibirnya Dendi.
Saya pun bangkit dari tempat tidur dan menuju ruang tamu.
Saya:”Intan, mandi dulu yuk?
Intan:”Gak mau ah mah, dingin”
Saya:”Kan ada air hangatnya?
Intan:”Mau nonton tv”
Saya:”Kamu ini karena dingin atau karena mau nonton tv gak mau mandi, ya sudah biar kamu bau”
Intan tak menghiraukan saya. Saya pun segera masuk ke dalam kamar dan
menuju kamar mandi. Mungkin ada 30 menitan saya mandi, dengan berbalut
handuk hotel saya pun segera keluar dari kamar mandi. Ku lihat suamiku
sudah terlelap tidur. Saya pun segera memakai pakaian kembali, ku
kenakan jilbab warna putih dan gaun tidur yang cukup tipis warna pink
tanpa lengan yang cukup lebar yang dibelikan oleh Bi Lestari, jadi
sedikit aneh karena aku memakai jilbab, tapi memakai gaun tanpa lengan.
Ku lihat di kaca pakaian dalam ku yang berwarna merah menerawang.
Aku pun segera menuju ke ruang tamu sambil mau iseng goda si Jaka.
Ku lihat anak-anak masih menonton tv ditemanin si jaka yang sedang main
hp. Melihat saya mata si jaka pun melotot dan celingak-celinguk mungkin
takut suamiku datang juga.
Saya segera duduk di sofa di sebelah si Jaka. Tampak meja sedikit
berantakan oleh makanan ringan, sisa makanan juga berserakan di bawah.
Saya:”Neng, nonton tvnya di dalam saja sama Dedek Revan, temenin Papah
kamu tidur gih, kalian nonton sambil tiduran, kalau dingin acnya di
matikan saja” ucap Saya meminta anak-anak tidur di kamar.
Intan:” Yuk dedek, kita ke kamar aza”
Intan pun segera menuntun Revan dan membawanya ke dalam kamar.
Tinggalah saya dan Jaka berdua di ruang tamu.
Jaka nampak menjadi sedikit salah tingkah, dia tidak berani
terang-terangan berbuat tidak sopan meski sebenarnya kami pernah
bersetubuh.
Saya pun mengambil remot dan memindah-mindahkan channel tv.
Saya:”Ah, gak ada yang seru ya Jak, coba ada film bokepnya asyik dingin-dingin gini nonton orang ewean” ucap saya menggoda jaka.
Jaka:”Ia, tapi di ponsel saya banyak tan, film bf kalau tante mau saya pinjamin”
Saya:”Hihi, nggak dech” ucap saya sambil tetap memindah-mindah channel tv.
Saya:”Nonton berita saja dech, berita criminal” ucap saya memilih channel yang lagi menayangkan kasus-kasus tindak kejahatan.
Jaka ku lihat sesekali matanya ke tv sesekali mencuri pandang ke dada saya yang kini lebih membesar.
Saya:”Jahat banget ya, dirampok terus dibunuh gitu” saya mengomentari
sebuah berita tentang perampokan mahasiswi di sebuah kamar kos yang
berujung pembunuhan.
Jaka:”Ia, tapi belum tahu kan tan, itu motif sebenarnya apa murni
perampokan” Karena memang di dalam bertia polisi masih mendalami motif
pelaku sebenarnya.
Saya:”Daripada dibunuh gitu, kan enakan diperkosa saja ceweknya, enak
kan Jak, setelah dirampas kehormatannya terus ambil barang-barangnya
jangan dibunuh” ucap saya ngelantur.
Jaka:”Ia kali tan”
Saya:”Koq kali hihi, eh mana ponsel kamu, tante mau lihat bokep” ucap saya.
Jaka pun segera mengeluarkan ponselnya dan memberikan ke saya.
Jaka:”Om tidur tan?
Saya:”Om Tidur, kecapean, kamu takut ya, tenang aza” ucap saya sambil mencari folder video di ponsel Jaka.
Saya:”Gimana kerjaan kamu di kantor?
Jaka:”Baik Tan” jawab Jaka singkat. Saya tak lagi memperhatikan si Jaka, mata saya lebih tertuju ke layar ponsel.
Saya:”Banyak juga koleksi kamu Jak, ini banyak cewek-cewek berjilbab,
Indonesia ya, kamu dapat dari mana? Tanya saya, kulihat memang banyak
film bokep cewek berjilbab, ada yang mukanya pakai masker, ada juga yang
full terlihat.
Jaka:”Hehe beli tan, dari twi**r”, banyak yang jualan bokep di sana”
Saya pun geleng-geleng kepala.
Saya:”wah gila memang medsos ya” ucap saya. Jadi timbul ide apa jualan bokep gitu juga kali ya hihi.
Saya:”Ih gila, ini ada cewek jilbab, boker segala, kamu gak jijik lihatny”
Jaka:”Jijik sich tan lama-lama itu si jilbon Devi** namanya, tapi penasaran waktu pertama belum liat”
Saya:”hihi, gila ya, sampai begini, ditaruh dipiring segala, sampai mau
muntah tante nich” Bener-bener gila memang, segala cara bisa dilakukan
di masa sekarang untuk dapat duit.
Saya:”Yang ini berdua terus ya, jilbaban, montok-montok lagi, tapi kontol lakinya kecil ya, masih gedean kanjut kamu Jak ”
Jaka:”Ia Tan, yang itu orang sunda katanya, saya beli langsung videonya dari mereka, update terus”
Saya:”Jadi salary kamu jangan-jangan cuma habis buat beli bokep ya”
Jaka pun ku lihat cengar-cengir tanpa memberi jawaban.
Saya:”Seru, montok-montok, saya pakai masker terus, pasti semua penasaran liatnya”
Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, ternyata dari Anis, baru saja mau nakal.
Saya:”Hallo Kak…..”
Anis:”Kami sudah di depan gerbang kamar neng”
Saya:”Langsung masuk saja, gak di kunci koq”
Jaka:”siapa tan?
Saya:”Anis sama Hanum”
Tak lama pintu di ketuk lalu dibuka. Anis dan Hanum pun kemudian masuk ke ruang tamu.
Saya:”Owh, ayo kak mari” ucap saya meminta Jaka bergeser. Hanum dan Anis pun kemudian duduk di sofa bersama saya.
Anis:”Mana anak-anak neng?
Saya:”Lagi pada nonton di kamar, sambil tiduran, eh ntar aku bangunin
suami ku ya, katanya dia mau cari makan, udah mulai laper juga” ucap
saya dan pamit meninggalkan mereka.
Saya pun segera masuk ke dalam kamar utama.
POV SUAMI
Tiba-tiba seseorang menepuk-nepuk saya. Saya pun membuka mata dan
ternyata itu istri saya, dia mengenakan jilbab tapi memakai baju tidur
tipis tanpa lengan, aku sudah tidak aneh atau terkejut lagi dengan
penampilannya.
Saya:”hooam, uuh jam berapa mah?
Wife:”Udah mau jam 7 pah, katanya mau cari makanan, biar belum terlalu malam”
Saya:”Oh ya, papah mandi dulu dech” ku lihat anak-anak saya pun sudah ada di kasur sambil nonton tv.
Wife:”Hanum sudah ada di ruang tamu Pah, sudah siap, nanti kalian berdua saja perginya”
Saya:”siip Mah”
Wife:”Tapi kalau bisa jangan diewe di jalan ya”
Saya:”gak lah, gak nyaman” saya pun buru-buru pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi saya pun memakai kaos santai dan celana pendek,
anak-anak sudah tak terlihat di kasur hanya tv yang tetap menyala. Saya
pun segera keluar dari kamar. Semua orang ternyata ada di ruang tamu
sedang ngobrol sambil nonton tv. Ku lihat Anis dan Hanum memang sudah
datang, Hanum memakai jilbab hitam dan kaos putih lengan pendek, saya
cukup terkejut juga dan rok putih panjang sampai mata kaki, sedang
ibunya memakai gaun panjang warna biru tua dan jilbab warna putih.
Wife:”Mau langsung berangkat?
Saya:”Ia dech, nanti keburu pada kelaperan”
Wife:”Belum pada laper sich aku tanya mereka karena ada cemilan juga pah
dan makanan bawa dari rumah, jadi kamu bisa santai” ucap istri saya.
Saya:”Jadi kan Hanum”
Wife:”Ayo Han, temenin Om, Intan di rumah saja ya”
Intan pun menganggukan kepalanya.
Hanum pun segera berdiri dan tampak masih sedikit malu-malu.
Saya pun segera keluar lebih dulu dan diikuti oleh Hanum. Kami pun
segera menuju bangunan utama di mana lobby berada. Aku sengaja tidak
mengajak Hanum berbicara dulu. Kami saling diam sampai di lobby. Ku
lihat suasana begitu ramai, berbeda dengan di sore tadi masih sepi.
Saya pun melihat ke sana ke mari, siapa tahu ada Hana alias pertiwi,
tapi tenyata dia tidak ada. Saya pun segera mengajak Hanum keluar dari
hotel.
Kami pun sekarang sudah berada di dalam mobil.
Saya:”Mau makan apa Han?
Hanum:”Apa saja Om, ikut saja, dibungkus kan dan langsung pulang?
Saya:”Ia, kita lihat dulu dech” ucap saya pendek. Hanum tampaknya
berdandan pula, wangi dan tampak sangat cantik. Saya sudah memutuskan
malam ini akan mengambil keperawanan Hanum. Saya pun membawa mobil
dengan pelan. Ternyata cukup banyak juga kendaraan lalu lalang, padahal
besok sudah hari kerja. Saya lihat Hanum cuma diam saja.
Saya:”Nyalain music ya, kamu suka pop atau dangdut?
Hanum:”Apa saja om saya suka”
Saya pun segera menyalakan music, kupilih lagu dangdut biar tidak ngantuk.
Tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Saya pun melihat pesan masuk dari istri saya.
Wife:”Santai saja pah, gak perlu buru-buru, kalau mau grepe-grepe dulu, tapi hati-hati ketangkap hansip hihi”
Aku pun tahu istriku memintaku lama-lama agar dia juga punya waktu dengan berondongnya yaitu si Jaka.
Saya pun mulai melakukan aksi. Saya taruh tangan saya di pahanya Hanum dan saya elus-elus.
Hanum tidak bereaksi. Saya lihat sejanak wajahnya terlihat tegang.
Saya pun mencoba mencairkan suasana.
Saya:”Han, sekarang kamu punya pacar gak? Tanya saya sambil saya lihat mukanya Hanum sejenak.
Hanum:”Gak punya om, sudah putus”
Saya:”Syukur dech, karena kalau punya saya gak jadi ambil keperawanan kamu, kasihan pacar kamu”
Hanum diam saja tidak berkomentar.
Saya:”Dulu kalau pacaran suka ngapain aza?
Hanum:”Gak ngapa-ngapain om”
Saya:”Masa, gak pergi ke mana nonton gitu?
Hanum:”nonton pernah”
Saya:”Kalau dipegang-pegang kayak gini” ucap saya sambil meremas-remas pahanya Hanum.
Hanum:”Belum” ucapnya pelan.
Kenapa saya menjadi merasa kasihan sama dia.
Saya:”Han, kamu benar tidak apa-apa saya mengambil keperawanan kamu,
kalau memang kamu tidak mau saya akan membatalkan perjanjiannya ke ibu
kamu”
Hanum:”Tidak apa-apa koq om”
Saya:”Kamu gak perlu khawatir, uang yang saya kasih ke ibu kamu tadi
pagi akan om ikhlaskan, Om gak mau kamu terpaksa, dan terus terang om
juga gak suka lihat wajah kamu murung, om jadi gak bergairah”
Tidak ada jawaban dari Hanum. Saya pun menarik tangan saya dari pahanya Hanum.
Hanum:”Jangan dibatalakn Om, Hanum bakal melayani Om koq, Hanum begini
cuma takut saja karena belum pernah” ucap Hanum setelah beberapa lama.
Saya:”terus kalau keperawanan kamu sudah om ambil, nanti gak ada lelaki yang mau sama kamu”
Hanum:”Gak Om, saya yakin jodoh Hanum nantinya pasti ada, pliis jangan dibatalin ya” tampak wajah Hanum pun memelas.
Saya jadi sedikit bingung, cukup sulit menebak jalan pikiran Hanum.
Tiba-tiba tangan Hanum bergerak ke selangkangan saya dan merabanya dari depan.
Hanum:”Om, turunkan celananya ya”
Saya pun sedikit mengangkat pantat saya dan menurunkan celana saya
beserta celana dalamnya. Kontol saya pun mencuat keluar . Hanum segera
menggenggam kontol saya dan mulai mengocok-ngocoknya dengan pelan.
Saya pun melihat ke kiri dan kanan sambil mencari kalau ada restoran
yang bagus, sebenarnya sudah ada yang mau saya tuju, tapi kalau ketemu
yang lebih bagus dan dekat lebih baik, saya gak sabar mengeksekusi Hanum
di hotel.
Sebenarnya kocokan Hanum biasa saja tapi sensasinya membuat dengan cepat
kontol saya mengeras. Tapi setelah keras rasanya menjadi kurang enak
saat dikocok dan sedikit ngilu malahan.
Hanum:”Om, cepet banget kontolnya keras”
Saya:”Nanti saja ngocoknya di hotel” ucap Saya
Hanum:”atau Om mau Hanum isep kontolnya” ucapnya dan lebih pelan saat mengucapkan kata kontol.
Saya pun menganggukan kepala saya.
Hanum pun segera naik ke kursi dan menurunkan badannya hingga kepalanya berada di depan selangkangan saya.
Sambil mengocok-ngocok kontol saya Hanum mulai menjilati buah zakar
saya. Sepertinya dia mengikuti cara yang diajarkan oleh Anis. Hanum
melakukannya dengan tidak terburu-buru. Saya pun semakin pelan membawa
laju mobil tapi dengan kewaspadaan takut ada yang curiga, ya gak
pelan-pelan banget juga. Perlahan jilatan lidah Hanum mulai naik ke
batang kontol saya, mulai terasa lebih nikmat paling tidak masih lebih
baik dari cuma dikocokin. Tak lama Hanum sudah menjulurkan lidahnya ke
lubang kencing saya, mebuat terasa geli.
Apa yang dilakukannya lagi-lagi meniru cara yang diajarkan oleh Anis.
Hanum masih menjilati lubang kencing saya. Ketika mulutnya terbuka saya
pun menyodokan kontol saya masuk ke dalam mulutnya. Hanum sedikit
terkejut tapi kemudian menutupi keterkejutannya dengan mengeluar masukan
kontol saya perlahan-lahan dan semakin cepat.
Lama-lama mulai terasa nikmat dan semakin nikmat, sensasinya yang lebih luar biasa, dijilatin sama perawan.
Saya pun mempercepat laju kendaraan saya. Akhirnya saya pun sampai di
sebuah restoran, saya pun segera masuk mencari tempat parkir. Hanum yang
menyadari mobil sudah keluar dari jalan raya segera memasukan kontol
saya yang sudah super tegang ke dalam celana saya kembali.
Hanum:”udah sampai ya Om?
Saya:”ia, kita beli makanan dulu, yuk turun”
Hanum:”Saya tunggu di mobil saja Om”
Saya:”Ayo, temenin saya, yuk santai saja, gak akan ada yang kenal Hanum, kalau yang kenal saya mungkin saja”
Hanum pun mengikuti permintaan saya. Kami berdua segera turun dari
mobil. Cahaya lampu yang redup di malam hari membuat rok Hanum terlihat
menerawang. Membuat saya ngaceng lagi. Hanum pun menyadari saya melihat
ke roknya terus.
Saya pun segera memesan makanan. Kami pun harus menunggu terlebih dahulu. Cukup ramai juga, biasanya kalau rame makanannya enak.
Saya dan Hanum pun duduk di meja yang kosong.
Saya:”Kamu cantik sekali Hanum, saya beruntung sekali”
Hanum:”Om bisa saja”
Saya:”Pacar kamu sudah pernah mencium kamu?
Hanum menggelengkan kepalanya.
Hanum:”dia pernah mau mencium Hanum, tapi Hanum gak mau”
Saya:”Berarti Hanum belum pernah berciuman dong, nanti om ajarin” ucap saya dan Hanum pun tersenyum malu.
Saya pun berlama-lama menatap Hanum, membuat Hanum salah tingkah. Tak
sadar pesanan pun sudah siap. Setelah melakukan pembayaran saya dan
Hanum pun segera naik kembali ke dalam mobil. Saya menyuruh Hanum jalan
duluan sambil ngebawain makanan. Saya mengikuti dari belakang. Pantat
Hanum terlihat begitu padat dan roknya mencetak celana dalamnya dengan
begitu jelas sepertinya sich warna hitam.
Kami pun segera masuk kembali ke dalam mobil. Seperti sebelumnya saya menjalankan mobil dalam kecepatan sedang saja.
Di dalam mobil saya pun kembali mengobrol dengan Hanum.
Saya:”Kamu pakai warna apa Han?
Hanum:”Warna apaan Om?
Saya:”Itu, yang bungkus barang berharga kamu” ucap saya sambil tersenyum dan menunjuk selangkangan Hanum.
Hanum:”Hehe Om bisa saja, cangcut Hanum maksudnya? Hanum pakai cangcut warna item Om” ucap Hanum
Saya:”Item ya, pas berarti tebakan saya”
Hanum:”Kapan bapak nebak? Tanya Hanum sedikit bingung.
Saya:”Tadi, pas di luar, saya kan suruh Hanum jalan di depan saya”
Hanum:”Oh, berarti tadi Om Dendi ngintipin, tapi kan di dalam koq bisa nebak”
Saya:”Kan kain rok kamu putih dan agak tipis, jadi pas ke sorot cahaya di dalam kegelapan jadi makin menerawang”
Hanum pun manggut-manggut.
Hanum:”Kenapa ya Om, cowok-cowok suka penasaran pengen tahu cewek pakai
cangcut warna apa, sampai diintipin segala, di sekolah juga dulu gitu,
cowok-cowok pasti manfaatin kesempatan kalau ada cewek ngangkang cuma
buat tahu warna cangcutnya”
Saya:”Hehe, karena benda tersebut membungkus sesuatu yang sangat berharga yang diincar para lelaki hehe”
Hanum:”Owh, hehe Om bisa saja, benda apakah itu” ucap Hanum. Kini dia
sudah tidak malu-malu lagi dan meladeni setiap pertanyaan saya dengan
rileks dan sudah bisa ikut bercanda pula. Sekarang saya tidak ragu lagi
untuk mengambil keperawanan Hanum malam ini.
Saya:”Apa ya Han namanya kalau di Sume**ng?
Hanum:”Sama saja Om”
Saya:”Sama gimana?
Hanum:”Ya sama, namanya memek hehe”
Saya:”Hehe, jadi Hanum tahu Om ngincar apa?
Hanum:”Ya tau dong Om, hihi, tapi koq memek mamah Hanum om embat juga? Tanya Hanum.
Saya:”Gimana ya, mungkin dasarnya om mata keranjang, gak bisa lihat yang
cantik montok sedikit bawaanya pengen om embat saja memeknya hahaha”
Hanum:”Rasanya gila lho Om”
Saya:”Gila gimana?
Hanum:”Mamah Hanum Om setubuhi, terus nanti giliran Hanum, kan gila?
Saya:”Kamu mau berubah pikiran?
Hanum:”Nggak, Cuma gila saja, Om embat mamah dan anaknya sekaligus hihi”
Saya:”Hehe, kamu sama mamah kamu itu kalau yang tidak tahu bisa mengira adik dan kakak”
Hanum:”Berarti saya kelihatan tua ya Om?
Saya:”bukan, tapi mamah kamu yang kelihatan lebih muda dari usianya”
Hanum:”Ia juga sich om, di kampung juga banyak yang bilang gitu, terus
banyak yang nyaranin mamah buat kawin lagi, minta cerai sama bapak saya”
Saya:”Terus kenapa mamah kamu gak nikah lagi aza?
Hanum:”Banyak yang suka sama mamah Om, tapi mereka semua gak berani
deketin karena takut sama bapak saya, terus kayaknya ibu juga bakal
susah kalau mau minta cerai”
Saya:”Koq bisa mamah kamu nikah sama bapak kamu masa dia gak bisa
menilai sebelumnya kalau bapak kamu penjudi dan gak bertanggung jawab?
Hanum tampak menarik nafas panjang.
Hanum:”Dulu bapak gak gitu Om, mungkin berubah begitu setelah Hanum SMP,
bapak mulai suka judi, terus kebetulan kakek Hanum, bapaknya bapak
meninggal, semua warisan beliau habis sama bapak buat judi dan bapak gak
punya apa-apa lagi begitu kakek meningggal, dari situ makin parah,
terus sempat dipenjara juga”
Saya:”Oh ya, kenapa bapak kamu bisa sampai dipenjara?
Hanum:”Dulu ada temennya, megang pantat mamah, terus di hajar sama bapak sampai hampir mati”
Saya:”Gak salah juga dong?
Hanum:”Ia, tapi gak sampai segitunya ”raut wajahnya sedikit menampakan kesedihan.
Saya pun menjadi terdiam, takut salah ngomong. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara di antara kami.
Saya pun sengaja tidak buru-buru ke hotel untuk memberikan kesempatan kepada Dewi bersama si Jaka.
Saya pun memulai kembali pembicaraan dengan si Hanum.
Saya:”Ada lagi yang mau dibeli gak?
Hanum:”Apa ya, nggak ada…”
Saya:”Kalau mau sesuatu bilang saja, nanti Om belikan, atau entar dech
di bandung kita jalan ke mall om belikan baju dan hape baru” tawar saya.
Hanum:”gak ada Om, ia makasih Om” ucapnya singkat.
Saya:”Ya udah, langsung pulang”
Hanum:”Ia, eh Om, boleh ngomong seusatu gak?
Saya:”Bebas saja, mau ngomong apa atau mau minta apa nanti om belikan” ucap saya dengan penuh semangat.
Hanum:”Om, nanti bisa gak masukan Hanum kerja, jadi pegawai pabrik di tempat kerja Om juga boleh”
Saya:”oh, jadi nanti kamu mau kerja, bisa saja, kirain om nanti kamu
pulang, cuma mamah kamu saja yang kerja. Kalau tahu gitu pasti om
tawarin, nanti om tanya-tanya dulu ya, mudah2an ada” ucap saya.
Hanum:”Ia, makasih Om, kerja di pabrik juga gpp, Hanum malas ketemu
bapak kalau pulang, apalagi mamah saya gak bakal ikut pulang”
Saya:”Ok, Om bakal usahakan, tapi kamu udah ada bilang belum ke mamah kamu kalau mau nyari kerja juga di Bandung?
Hanum:”Udah Om, kata mamah juga coba tanya ke Om, kan jaka juga bisa masuk kerja”
Saya:”Ok, pasti Om usahain, gak usah khawatir”
Hanum:”Makasih ya Om”
Saya pun sedikit mempercepat laju kendaraan. Karena ku lihat sepertinya mendung dan akan turun hujan.
Hanum:”Mau hujan kayaknya ya om?
Saya:”Ia, bakal makin dingin aza ini mah”
Hanum:”ia Om”
Saya:”Bakal enak kita nanti peluk-pelukkan, sambil bikin anak hehe”
Hanum:”hehe, Om bisa saja, eh Om mau lagi gak” ucap Hanum dan mukanya sedikit memerah.
Saya:”Mau apa?
Hanum:”Hehe, malu, anu, mau Hanum isep lagi gak kontolnya?
Saya:”Mau banget, ini” saya oun langsung menurunkan celana saya juga celana dalam saya sampai ke paha.
Hanum pun segera mendekati paha saya. Tangannya pun segera memegang kontol saya. Di kocok-kocoknya lagi perlahan-lahan.
Saya:”Langaung isep aza say” ucap saya, sepertinya Hanum belum terlalu
pandai mengocok, sedki kurang nikmat malah terasa kebas karena terlalu
cepat.
Hanum pun ku lihat segera membuka mulutnya dan mulai memasukan kontol
saya ke dalam mulutnya. Saya pun segera berkonsentrasi melihat ke depan,
hampir saja kehilangan konsentrasi.
Sepongan Hanum terasa semakin nikmat, dia tidak terburu-buru seperti waktu mengocok kontol saya.
Kontol saya pun sudah semakin mengeras, saya tidak mau keluar sekarang,
saya ingin menumpahkan sprema saya sebanyak mungkin di memeknya Hanum.
Saya:”Aaagh Udah sayang, nanti lanjut di hotel aza, Om gak konsen nyetirnya” ucap saya berbohong.
Hanum pun segera melepaskan kontol saya dari mulutnya dan duduk seperti sebelumnya.
Tak lama ponsel saya berbunyi, ternyata istri saya menelpon menanyakan
saya sudah sampai di mana. Saya pun segera melaju dengan kecepatan
lumayan tinggi setelah istri saya selesai menelpon. Apalagi langit
tampak semakin mendung
Saya:”Agak cepetan ya, kasihan mungkin mereka sudah pada kelaperan, kita juga laper kan?
Hanum:”Ia Om”
Ternyata kami pun sudah sampai di area hotel. Segera saya pun memarkir
mobil. Kami pun buru-buru menuju kamar kami karena khawatir akan segera
turun hujan. Tapi ternyata hujan lebih cepat turun dan sangat lebat.
Beruntung sudah dekat dekat kamar, mungkin sekitar 30 meteran. Kami pun
setengah berlari masuk ke dalam kamar.
Badan kami pun mau tidak mau kebasahan juga. Saya dan Hanum segera masuk
ke dalam gerbang dan kemudian kami masuk ke dalam ruang tamu. Di luar
terdengar hujan semakin deras saja. Di ruang tamu kami tak menemukan
siapapun, hanya televise yang masih menyala. Saya pun menyimpan
belanjaan makanan di meja ruang tamu. Kami pun kemudian duduk di sofa.
Hanum:”Emmph, ini cangcut sama kutang siapa ya? Ucapnya sambil berdiri
dan menujukan sebuah celana dalam dan beha, keduanya berwarna merah yang
sepertinya sempat Hanum dudukin, di situ juga saya baru sadar rok Hanum
sedikit basah, dan sehingga kulitnya terlihat nyeplak begitu juga
celana dalamnya yang berwarna hitam semakin jelas terlihat.
Saya:”Mana biar Om simpan”
Hanum pun menyerahkan sepasang pakaian dalam tersebut kepada saya. Ya
sepertinya ini milik Dewi, saya tadi melihatnya karena gaun trasnparan
yang dia kenakan.
POV WIFE
Sepeninggal suami, tinggalah kami bertiga di ruang tamu, anak-anak sudah nonton kembali di kamar.
Saya:”Kira-kira suami aku nakal gak ya sama Hanum, kan jalan berdua?
Anis:”Bukan kita suruh berdua buat itu neng?
Saya:”Ia sich, biar Hanum gak kaku lagi, tapi kira-kira bisa gak ?
Anis:”Tergantung Pintar-pintarnya Pak Dendi neng ngerayu Hanum, kalau
menurut saya bisa saja, Pak Dendi pinter dia merayu seperti ketika
merayu saya”
Saya:”Hehe, padahal suami aku tuch dulu pendiem banget Kak, gak pinter
dia ngerayu, tapi ya seletah kehidupan kami sekarang berubah dia
sepertinya menyesuaikan pintar sepertinya sekarang dia ngerayu cewek”
Anis:”Oh, ia neng, memang berubah gimana?
Sementara Jaka tampak cuma diam saja sambil matanya ke tv, tapi saya yakin kupingnya mendengarkan percakapan kami.
Saya:”Ya, pasti Kak Anis bisa melihat, kehidupan kami tidak seperti kebanyakan orang berumah tangga”
Anis:”Ia, bu Heti juga sudah cerita walau gak tahu itu sudah semuanya atau belum, saya juga bisa melihatnya neng”
Saya:”Ya gitu, mungkin garis besarnya seperti yang diceritakan Bu heti
dech, kadang kita ingin kembali ke kehidupan normal, tapi berat untuk
meninggalkan gaya hidup sekarang, terutama saya, seks sudah seperti yang
nomor satu”
Anis pun manggut-manggut seperti yang betul-betul paham.
Anis:”jadi gimana sich neng cerita awalnya sampai neng dan Pak Dendi memiliki kehidupan seks yang berbeda?
Saya:”Awalnya sich entah kenapa, mungkin nafsu sudah diubun-ubun, kami
jadi sering ngewe di depan anak-anak kak, terus jadi kebiasaan dan
gimana gitu rasanya, terus sampailah muncul fantasi-fantasi aneh seperti
suami membayangkan saya disetubuhi lelaki lain atau sebaliknya saya pun
membayangkan suami menyetubuhi wanita lain apalagi dia sering bilang
tertarik sama sekertaris atasannya”
Anis:”Si Hana itu ya neng, yang ketemu tadi sore”
Saya:”Bukan kak, namanya Ida, kalau Hana kan baru saja gabung dan beda lokasi”
Anis pun manggut-manggut.
Saya:”Jadi suami saya terobsesi juga dengan si Ida ini, katanya
pantatnya gede lah, teteknya gede lah, semoklah, kalau wajahnya sich
biasa aza, jauh kalau dibanding Hana, kalau Hana memang cantik banget”
Anis:”Neng pernah ketemu sama siapa, si ida itu?
Saya:”Sudah, jadi ya tahu, ya seperti dibilang suami, orangnya yang
memiliki pantat yang besar seperti kak Anis, susunya besar, badannya
sich pendek, tapi memang montok”
Anis:”Owh, terus neng”
Saya:”sampai suatu hari, bosnya suami saya, namanya Fadli datang ke
rumah, kebetulan dia lagi punya masalah karena istrinya selingkuh, terus
mereka, dia dan suami saya minum-minum, saya pun sempet minum walau gak
banyak”
Anis:”Terus neng, apa lagi yang terjadi? Tanya Anis terlihat semakin
penasaran. Si Jaka pun kini sudah ikutan melihat ke saya, tak lagi
melihat ke tv.
Saya:”Terus, suami saya nyuruh saya melayanin bosnya”
Anis:”Melayanin gimana neng? Ntah benar-benar gak ngerti atau cuma pura-pura tidak mengerti.
Saya:”Suami saya meminta saya melayanin bosnya di ranjang, katanya
kasihan dia udah lama gak dapat jatah ngewe dari istrinya” ucap saya.
Anis:”Owh, jadi selanjutnya neng ngewe sama bosnya suami neng”
Saya:”Ia kak, akhirnya saya diewe sama bos suami saya, di depan suami
saya pula sambil direkam sama suami saya, jadi bos, sekarang sudah
mantan bos suami saya itu orang pertama selain suami saya yang kontolnya
masuk ke heunceut saya, dia orang yang merampas kehormatan saya sebagai
seorang istri dan ibu”
Anis:”Owh gitu neng, kalau saya kan suami neng orang yang telah merampas
kehormatan saya hehe, tapi saya juga jadi penasaran neng gimana ya
rasanya diewe sama orang lain di depan suami sendir”
Saya:”Ya luar biasa gitu Kak, kalau tidak dicoba atau kejadian yang
susah jelasinnya harus ngerasain sendiri,Ia, jadi malam itu saya dinodai
sama bos suami saya, setelah itu malah ketagihan kak”
Anis:”jadi neng terus sering ngentot sama bos suami neng itu?
Saya:”nggak, tapi saya melakukan dengan orang lain lagi, jadi tidak
kagok atau gimana, saya jadi terbiasa ditiduri lelaki yang bukan suami
saya”
Anis:”Owh gitu awal mulanya neng, terus suami neng gimana?
Saya:”Suami saya pun jadi begitu, dia pun berhasil menodai sekertarisnya”
Anis:”ia kah neng, terus?
Saya:”Ya, jadi sama-sama keterusan, suami pun jadi suka banget ngewein
bini orang, bu Heti jadi korban berikutnya, terus kan kak Anis diewe
juga sama suami saya kan”
Anis:”Ia, yang itu saya juga sudah denger dari Bu heti neng”
Saya:”Sampai yang paling parah dan kebablasan, saya pun menjual diri saya”
Anis:”Maksudnya jadi bondon”
Saya:”Ia kak, saya jadi bondon, tapi Cuma kalangan terbatas saja yang bisa booking saya”
Anis:”Gimana awalnya neng bisa jadi perek eh maaf bondon”
Saya:”Santai saja, saya memang perek kak, anehnya saya merasa bangga dibilang gitu ih, aneh kan”
Anis:”Ia neng, aneh banget” ucap Anis sambil geleng-geleng kepala.
Saya:”Jadi mulanya begini kak, saat saya dan anak-anak serta Bu heti
lagi jalan ke mall, eh saya ketemu dengan orang yang dulu pernah melamar
saya tapi saya tolak”
Anis:”kenapa di tolak neng?
Saya:”Orangnya udah tua kak, dan istrinya kalau gak salah waktu itu
sudah 3 apa 4 saya lupa, memang sich orang kaya raya pengusaha, waktu
itu saya masih kuliah”
Anis:”Oh ia kah neng, terus?
Saya:”Terus saya bertemu dengan orang tersebut , namanya Pak Bob, terus
yang dia ngajak minum di café, kita ngobrol-ngobrol, eh terus dia nawar
saya kalau mau nemenin dia tidur saya akan diberikan sejumlah uang yang
sangat besar”
Anis:”Terus, neng langsung mau?
Saya:”Seingat saya sich gak langsung jawab, saya tanya suami saya dulu
kalau gak salah, karena uangnya saya pun tergoda, toh saya sudah bukan
istri yang suci lagi, kalau gak salah selain dengan Pak Fadli saya juga
sudah di tiduri sama yang namanya Asep waktu itu, apa beda kalau saya
melayanin Pak Bob, malah bakal dapat uang, toh tubuh saya sudah ternoda,
seetelah meyakinkan suami saya ok, ya terjadilah kak, itu pertama
kalinya saya jadi pelacur”
Anis:”Owh, terus Bu heti ikut ya sama neng?
Saya:”Enggak, yang pertama tidak kak, baru yang kedua, pak Bob ketagihan dengan saya terus dia minta Bu Heti nemenin saya juga”
Anis:”Kuatan ya berarti neng, kata neng udah tua orangnya sampai booking 2 orang sekaligus”
Saya:”Ia Kak, mungkin dia minum obat kuat”
Anis:”Ia neng, kata bu Heti itu aki-aki kuat banget ngentotin dia dan neng sekaligus”
Saya:”Ya gitu kak, terus ketagihan dech saya juga, kalau ada yang berani
bayar gede saya mau saja melayanin, tapi juga harus jaga privasi”
Anis:”Wah, jadi banyak pemasukan neng?
Saya:”Ia Kak, saya ngambil positifnya saja, kita dapat enak juga dapat
uang, tinggal ngangkang, heunceut kita disodok sama kontol tamu kita,
ewean dapat enak dan dapat duit hihi”ucapku makin ngawur dan membuat
Jaka bengong.
Saya:”Kak Anis minat gak jadi perek?
Anis:”Gimana ya, takut di marahin Hanum”
Saya:”Hanum kan anak kak Anis, harusnya Kak Anis yang bisa lebih ngontrol dia, tapi kalau gak takut Hanum marah mau ya?
Anis:”Hehe, tertarik dengan uangnya neng, apalagi saya juga sudah terlanjur ternoda”
Saya:”Sekarang saya lagi istirahat dulu, karena lagi hamil ini, lagian
suami sekarang ngasih syaratnya berat, kalau saya mau melacur harus
ngasih dia perawan”
Anis:”Oh, sekarang saya paham, kenapa neng nyari perawan buat suami neng”
Saya:”Ya itu alasannya kak”
Saya:”Ada Guntur ya, sepertinya mau hujan”
Tiba-tiba di luar mulai terdengar suara Guntur beberapa kali, sepertinya mau turun hujan lebat.
Anis:”Ia, bakal makin dingin saja neng”
Saya:”Butuh selimut tebal sepertinya kita kak”
Anis:”Ia, pasti dingin banget, ini saja udah dingin banget”
Saya:”Kalau cowok gampang nyari selimut, selimut hidup”
Anis:”Hehe, tapi sekarang banyak juga neng, selimut hidup buat cewek hehehe”
Saya:”Karena suami aku pasti focus ke Hanum malam ini, kita mungkin
dicuekin, tapi gak perlu nyari di luar dech kak” ucap saya sambil
menepuk Anis.
Anis:”terus”
Saya:”Ada berondong di sebelah, tapi gak tahu aku, dia kuat gak ngadepin 2 ibu-ibu”
Anis:”hehe ia neng, kayaknya gak kuat dech, kurang pengalaman”
Jaka yang merasa kita omongin pun menjadi salah tingkah dan beberapa kali melihat kepada kami.
Anis:”Oh, jadi makanya dia diajak neng”
Saya:”Ia, lumayan buat ganjel”
Anis:”Hah, kayak makanan saja”
Saya:”Ganjel heunceut maksudnya kak haha”
Anis pun tertawa.
Anis:”Neng, biar saya temenin anak-anak nonton ya”
Saya:”Gak ikut ngeroyok?
Anis:”Hehe, kasihan neng, nanti dia kaget” ucap Anis. Lau dia pun berdiri hendak menginggalkan saya.
Saya:”Yakin?
Anis hanya tertawa lalu meninggalkan saya berdua dengan Jaka.
Sekarang saya kembali berdua dengan Jaka. Cuaca dingin membuat saya
sange, apalagi tadi sehabis mandi rencananya aku akan bercinta dulu
dengan Dendi, tapi dia ternyata malah ketiduran, aku gak tega
banguninnya.
Saya:”Dingin banget ya Jak” ucap saya kepada Jaka yang saya lihat matanya dari tadi ke tv tapi saya yakin pikirannya tidak.
Jaka:”Ia tan, dingin banget dari sore tadi pun”
Saya:”Sini deket-deket, gak usah takut, Om lagi pergi” ucap saya. Jaka pun melihat saya lalu mendekat ke samping saya.
Saya:”Sini kita nonton sambil pelukan ya, kamu posisinya mereng, sambil selonjoran” ucap saya.
Jaka pun segera memiringkan tubuhnya dan selonjoran, sementara saya berdiri memberi ruang ke Jaka untuk selonjoran.
Setelah itu saya pun segera naik ke sofa sambil menduduki pahanya Jaka. Jadilah saya dipangku oleh Jaka.
Tangan Jaka dengan cepat memegang kedua payudara saya.
Saya:”Aww, Ih, kamu langsung maen pegang tetek tante saja” ucap saya dengan suara cukup keras.
Jaka pun reflek seperti mau menarik tangannya tapi saya memegangnya agar tetap di payudara saya.
Saya:”Udah, remes-remes nenennya tante, Jak, tante lagi sange” ucap saya. Jaka pun segera meremas-remas susu saya.
Anis:”Kenapa neng? Sepertinya dia mendengar jeritan saya, karena memang
pintu kamar dibiarkan terbuka, jadi bunyi dari ruang tamu pasti mudah
terdengar.
Saya:”Uggh, Jaka nakal kak, masak tetek aku dipegang, terus sekarang diremes-remes aaah, kan jadi sange”
Anis:”Wah bandel dia neng, di jewer aza kontolnya”
Saya:”Ia kak, udah ngeganjel aza nich kontol si Jaka di pantat saya”
ucap saya dan memang terasa kontol Jaka mulai mengeras dan mengganjal di
pantat saya.
Terdengar nafas si Jaka semakin memburu.
Saya:”Kita gak punya banyak waktu sebelum Om datang” ucap saya.
Lalu saya turun dari pangkuan Jaka. Saya pun segera menurunkan celana
si Jaka beserta sempaknya. Tampak kontolnya sudah ngaceng dan tegak
sempurna. Bulu-bulunya makin banyak.
Saya:”Bulu kontol kamu makin banyak ya sekarang Jak” ucap saya sambil mengocok-ngocok kontol si Jaka.
Jaka:”uugh ia tan”
Tiba-tiba saya dikejutkan oleh kedatangan Anis yang menuntun Intan, tapi tak nampak Revan.
Jaka yang tampak terkejut dan berusaha menarik dan menutupi kontolnya.
Saya:”Kak, koq intan dibawa kemari?
Anis:”kata neng, neng suka kalau ngentot di depan anak, jadi saya bawa Intan ke sini, kalau adiknya sudah tertidur”
Saya:”Kak Anis kali yang penasaran pengen lihat, pengen lihat kontolnya anak muda kayak Jaka hihi”
Anis:”Ia neng, mana kontolna koq ditutupin Jak” ucap Anis nakal, sepertinya dia sudah terkena pengaruh saya.
Anis pun kemudian duduk sambil memangku Intan.
Saya:”Singkirkan tangan kamu, gak usah malu, Kak Anis mau lihat kontol
kamu” ucap saya dan menarik tangan Jaka yang sedang menutupi kontolnya.
Intan:”Ih, Om Jaka koq gak pake celana? Ucap Intan.
Jaka pun tampak kebingungan.
Saya:”Om Jaka ini lagi pamer kontol ke mamah sama tante Anis sayang,
lihat udah celegeung gitu, katanya gede, tapi masih gedean punya papah
kamu koq” ucap saya sambil menepuk-nepuk kontol Jaka.
Intan:”Igh jijik, mamah mau kuda-kudaan sama Om jaka ya? Tanya Intan lagi.
Saya:”Ia neng, Kamu nonton tv saja ya” ucap Saya
Sementara Anis hanya senyum-senyum saja.
Saya:”Duduk Jak, kita gak punya banyak waktu” ucap saya sambil mendorong
Jaka agar duduk kembali di sofa. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya
jaka pun duduk kembali di sofa.
Saya pun segera menaikan daster saya sampai pinggang dan lalu saya
melepaskan cangcut saya yang berwarna merah dan menaruhnya di lantai.
Saya pun segera mengangkangi Jaka dan sambil memegang kontolnya dan mengarahkan ke memek saya.
Perlahan saya menurunkan badan saya dan…blesssek..perlahan-lalan kontol jaka menembus memek saya.
Anis pun memperhatikan saya tanpa berkedip, sepertinya dia juga menahan nafas dan menahan sange juga.
Anis:”neng, tuh liat, mamahmu nakal banget, memang bondon, dia ngewe
sama Om Jaka” ucap Anis seperti melecehkan saya tapi saya tahu maksudnya
justru membuat saya lebih bergairah, seperti obrolan sebelumnya justru
saya bangga dibilang perek.
Intan:”Owh, Intan juga sering lihat mamah kuda-kudaan sama papah dan sama Om Wily” ucap Intan dengan entengnya.
Anis:”Siapa tuch Om Wily neng?
Saya:”uuugggh zinahi gue Jak aaaah, Wliy Suami ipar saya kak”
Anis:”Waduh neng sampai diewe sama kakak iparnya?
Saya:”Uuug kontooool enak, ia kak, tapi kakak aku juga diewe sama suami aku, ya tuker pasangan gitu kak”
Anis:”Wah hebat petualang seks neng ya”
Sementara saya naik turun di atas paha si Jaka, Jaka hanya diam saja, entah malu sama Anis.
Saya:”Jak, remes susu tante aaagh, heunceut tante belum terlalu basah,
agak sakit kena kontol kamu” ucap saya karena memang belum terlalu basah
jadi agak perih.
Jaka pun segera meremasi kedua payudara saya.
Saya kemudian meminta Jaka menaikan gaun saya sampai dada.
Saya:”Copotin aza Jak, kutangnya tante” ucap saya meminta Jaka melepas kutang saya.
Tangan Jaka segera mencopot kait kutang saya yang berada di punggung dan setelah lepas kutang saya, Jaka membuangnya ke lantai.
Langsung saja mulut Jaka mencaplok susu saya.
Saya:”aaagh…agggh…agggh enak Jak, henuceut tante mulai basah aaah nikmat
juga kontooool brondong aah, gancet siah aaaahggghh” ucap saya sambil
menoleh kepada Anis dan lalu tertawa.
Anis pun tersenyum, sepertinya dia juga menahan birahi.
Anis:”Mantap neng dewi kalau lagi ngewe sepenuh hati”
Saya:”Aagh enak kak Anis, ughh kontolnya Jak enak juga, lumayan gede,
tinggal banyak latihan saja gimana bikin cewek puas” ucap saya kepada
Anis dengan maksud memanas-manasi dia.
Anis:”Ugggh, itu si Jaka rakus banget neng, nyusu sama neng”
Saya:” Ia kak, aduh Jak, geli….isep kuat-kuat pentilnya uuugh, abisin
asinya sayang aaah, jangan dipencet muncrat percuma” Jaka pun semakin
kuat menyedot puting susu saya dan tampak mulutnya belepotan asi saya.
Intan:”Om jaka kayak dedek revan aza masih nenen”
Anis:”Ia, gak malu kamu Jak sama intan, udah gede masih nenen” ucap Anis kepada Jaka.
Jaka kemudian melepaskan mulutnya dari susu saya.
Jaka:”Habis air susu mamahnya Intan manis, Om Jaka suka” jawab jaka
tanpa malu-malu lagi. Kemudian dia pun mencaplok susu saya yang satu
lagi yang dari tadi cuma di remas-remas saja sampai asinya
muncrat-muncrat.
Saya:”Aagh Jaka, jangan diem aza, masa tante yang naik terun terus, ayo
entot tante dari bawah” ucap saya sedikit ngomel kepada si jaka yang mau
enaknya saja.
Anis:”Ia Jak, masa tante Dewi yang lagi hamil gitu disuruh buat
ngentotin kamu, yang ada kamu yang harus ngentotin dia” ucap Anis.
Jaka pun tampak sedikit cengengesan lalu memegang pantat saya dan mengerakan pantatnya mengentotin saya dari bawah.
Saya:”anjing, enak aaaagh ia gitu Jak aaah lebih nikmat dan rasanya
lebih dalam masuknya kontol kamuuuh aaagh, enak zinah aaagh jing”ucap
saya dan mendesah-desah dengan cukup keras.
Anis:”neng, jangan keras-keras takut ada yang denger”
Saya:”Aaagh biar kak, paling mereka juga maklum hihi aaagh…aaagh..agggh” ucap saya lagi.
Anis:”Ia ya neng, ditempat yang dingin gini pasti banyak yang lagi papuket gelut ewean di kasur hihi” ucap Anis.
Saya:”Aaagh, Jaka, kamu cupang nenen tante ya uuugh, makin berani
kamuuh” ucap saya ketika Jaka memberikan sebuah cupangan di dekat puting
susu saya.
Jaka tak menghiraukan tapi tetap menggenjot saya dari bawah, keringat
mulai membasahi badannya, dinginnya ac seperti tidak berpengaruh.
Anis:”Neng Intan, pindahkan tuch cangcut sama kutang mamah kamu ke sofa”
ucap Anis meminta Intan memindahkan pakaian dalam saya yang tergeletak
di lantai.
Intan pun turun dari pangkuan Anis dan mengambil pakaian dalam saya dan
memindahkannya ke Sofa. Dia pun kembali duduk di pangkuan Anis.
Intan:”Mah, kapan papah pulang, Intan laper”
Saya:”aaagh…aggggh..ugggh neng Intan paling bentar lagi, itu kan banyak
makanan” tunjuk saya ke meja yang sebenarnya dipenuhi makanan.
Intan:”Pengen makan nasi”
Saya:”Ia, mamah pesenkan dari hotel, tunggu mamah selesaikan ngentot dulu, Jaka ayo cepetin, saya udah mau dapet”
Jaka:”Jaka juga tan, dah gak tahan dari tadi”
Saya:”Tambah cepat Jak ngewe tantenya aaaagh anijing, cium bibir tante Dewi aaagh”
Jaka pun segera melumat bibir saya. Kami pun berciuman.
Plook…plook..ploook Jaka pun mempercepat genjotannya dan tak lama saya
merasakan kepala kontol Jaka semakin membesar dan tak lama terasa
tembakan sprema di dinding memek saya.
Jaka:”Ugghh gak kuat aaaah”
Saya:”aaagh Jak, kamu keluar aaagh…aggh…aggggh” saya pun keluar
bersamaan dengan setiap tembakan pejunya Jaka di dalam memek saya.
Jaka:”aaagh…aagh…aghhhh tan enak” ucapnya dan langsung melumat bibir saya lagi. Kami pun berciuman dengan sangat hangat.
Saya:”Jadi hangat banget uuuh heunceut tante sama peju kamu, banyak banget sich dah berapa lama gak di keluarkan sprema kamu?
Jaka:”Ada semingguan tan” ucap Jaka sambil ngos-ngossan
Sementara Anis pun melihat sambil senyum-senyum, sementara Intan tampak cemberut dan melihat saya dengan tatapan marah.
Saya:”Masa kamu gak ada coli selama seminggu?
Jaka:”Gak tan, kebetuan sibuk di kantor”
Saya:”Ya udah,tante cabut ya kontol kamu” ucap saya sambil berdiri dan plop..kontol Jaka pun terlepas dan tampak melemas.
Tak ayal sebagian sprema Jaka pun meleleh melalui paha saya.
Saya:”mamah telepon dulu Papah ya neng, kan sayang beli dari hotel kalau
nanti papah kamu datang” ucap saya kepada anak saya yang masih terlihat
marah.
Saya pun segera mengambil ponsel saya dan menelepon Dendi suami saya.
Saya:”Hallo Pah? Udah selesai beli makanannya?
Suami:”sudah Pah, ini lagi jalan pulang”
Saya:”Ya udah, agak cepetan ya, maaf ya sayang, soalnya anak kamu Intan marah, udah kelaperan”
Suami:”Ia, paling kurang dari sepuluh menitan lagi sampai” ucap suami saya
Saya:”Ya udah, ok Pah, bye” ucap saya sambil menutup telpon.
Saya:”Intan tunggu di kamar saja ya sama tante Anis, papah bentar lagi pulang”
Intan:”Ia Mah” jawabnya dengan antusias, dia senang mendengar papahnya sudah mau pulang.
Akupun memberi kode kepada Anis untuk pindah membawa Intan ke dalam kamar.
Anis pun segera masuk ke dalam kamar utama sambil menggendong Intan yang sudah terlihat lebih manja.
Tinggalah saya berdua dengan Jaka. Tampak Jaka sudah memakai pakaiannya kembali.
Saya:”Kita ke kamar kamu ya Jak, saya temenin kamu sampai om datang”
Jaka:”asyik tan”
Saya:”Kamu kuat gak gendong saya ke kamar kamu? Ucap saya.
Jaka:”Kuat tan” ucap jaka dan tanpa diperintah langsung menggendong saya.
Saya:”awas ya, tante jatuh, tante lagi hamil lho”
Jaka:”Ia tan”
Jaka pun segera menggendong saya yang sekarang hanya meneganakan gaun tanpa mengenakan pakaian dalam saya lagi.
Jaka pun membawa saya ke kamar satunya lagi.
Saya:”Tutup saja kamarnya Jak, tapi jangan dikunci ya”
Jaka:”Ia tan” ucap Jaka sambil menaruh saya di salah satu kasur.
Jaka kemudian menutup pintu kamar.
Saya:”Jaka, geser saja kasur satunya” saya meminta Jaka untuk menggeser
kasur satunya. Jaka pun menggeser kasur satunya lagi hingga sekarang
rapat dengan kasur satunya dan tampak seperti kasur berukuran besar.
Saya:”Kamu masih kuat buat ngentot lagi, ronde ke dua?
Jaka tidak langsung menjawab tapi segera naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah saya.
Jaka:”Belum tan:” ucapnya sambil menurunkan celananya dan mengeluarkan kontolnya yg tampak lemas.
Saya:”Lepas saja semua baju kamu, nanti tante coba rangsang kamu lagi
supaya kontol kamu cepat berdiri lagi” ucap saya sambil memiringkan
badan saya.
Jaka pun segera melepas semua pakaiannya hingga telajang bulat. Saya pun
bangun dan melepas jilbab dan melepas gaun saya melalui atas kepala.
Saya kembali rebahan dan miring menghadap ke Jaka.
Saya:”Gimana tadi enak? Puas gak?
Jaka:”Enak banget tan, heunceutnya tante juga enak banget hehehe, bisa
ngempot-ngempot,saya sebenarnya kangen banget sama tante, tapi gak
berani mau datang ke rumah tante” ucap jaka jujur.
Saya:”Hehe, kamu juga sudah lebih kuat koq, tapi tadi nyaris saja,
untung pas tiap sprema kamu nyemprot heuceut tante nikmat banget, tante
juga jadi orgasme, terus kalau kangen sama tante kamu ngapain? Ucap saya
sambil mengusap-usap dada Jaka, saya mainkan kedua jempol saya di
pentilnya si jaka.
Dia pun maju mundur kegelian.
Jaka:”Kalau lagi kangen saya coli sambil bayangin tante hehe” ucap Jaka
dan kini tangannya sudah berani langsung meraba-raba dan meremas susu
saya tanpa saya suruh.
Saya:”udah berani ya, tanpa disuruh maen remes aza nenennya tante Dewi,
kasihan banget udah gede coli hihi, nanti kamu boleh bawa pulang cangcut
sama kutang tante yang di sofa ya” ucap saya.
Jaka:”Hehe makasih tante, Jaka gak nyangka, tante bisa jadi ….” Jaka gak nerusin ucapannya.
Saya:”Segitu semangatnya cuma dikasih cangcut sama kutang tente aza, eh maksud kamu Jadi apa?
Jaka:”ia tan, buat tante, apalagi cangcut sama kutangnya tanpa dicuci
hehe, Jadi pelacur tan”ucap Jaka pelan saat mengucapkan pelacur
Saya:”Jadi bondon, oh, kan udah denger ceritanya tadi kuceritakan sama Anis mamahnya hanum, jadi kamu sudah tidur sama bondon”
Jaka:”Ia tan, ternyata tante binal banget, idaman laki-laki, saya mau
punya istri nanti seperti tante” ucap jaka membuat saya tertawa.
Saya:”masa kamu mau punya istri seperti tante, yang jadi bondon?
Jaka:”Ia tan, pasti binal, bikin puas” ucap Jaka.
Saya:”Kontol kamu udah mulai bangun lagi hihi, gara-gara nempel sama bondon” ucap saya.
Taka lama saya mendengar hujan turun dengan derasnya.
PART 78 POV Wife Pagi itu aku duduk sendiri di teras rumah. Hatiku tengah galau berat. Hanum sedang pergi mengantar Intan ke sekolah dan Anis bersama Bu Heti sedang berbelanja ke super market untuk kebutuhan sehari-hari dan Revan ikut dengan mereka. Sore atau malam nanti suamiku akan pulang ke rumah, aku khawatir tidak bisa menahan amarah sehingga semua rencanaku akan gagal. Aku sedang memikirkan bagaimana aku bersikap kepada suamiku dan menahan emosi agar semua rencanaku berjalan semestinya dan aku dapat mengetahui apa suamiku menyeleng atau tidak dibelakangku, yang pasti dia sudah berbohong namun aku belum tahu alasannya. Saat sedang melamun aku mendengar pintu pagar digedor-gedor dari luar. Saya pun kaget dan segera berdiri untuk mencari tahu. Ternyata ada seseorang memukul-mukul pagar menggunakan tongkat kayu. Orangnya kurus dan tingginya mungkin hampir sama dengan saya dan kelalanya plontos. Memakai kaus lengan pendek warna putih dan celana jeans. Tanga...
Komentar
Posting Komentar